Oleh: Nasrudin Joha

Mediaoposisi.com-Jika mereka terbuka menolak terikat dengan agama, maka kami nyatakan terikat, tunduk, taat dan patuh pada syariat agama (Islam). Bagi kami, Islam adalah agama sekaligus ideologi yang mengatur kehidupan.

Kami berakidah, tidak pernah memisahkan antara kehidupan agama dengan bernegara. Bagi kami, semua umat manusia wajib taat kepada Islam.

Jika sebelumnya, partai gurem PSI telah menolak syariat agama (baca: Islam), untuk mengatur kehidupan bernegara, menolak Perda syariah, sekarang giliran PDIP melalui Hasto mengumbar ujaran yang sama. Ya, semua berdalih konstitusi. Semua berdalih Pancasila.

Padahal, tidak ada satupun pasal (ayat) konstitusi yang melarang internalisasi nilai syariah dalam ranah legal konstitusional. Sama juga, tidak ada satupun konstitusi yang melegalkan korupsi meraja lela dalam tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Setelah PDIP terbongkar banyak kadernya terciduk KPK karena korupsi, sekarang PDIP menolak Perda syariah berdalih konstitusi. Buruk muka cermin dibelah. Tidak ada, satupun kerusakan di negeri ini disebabkan oleh Islam. Tetapi, kenapa syariat Islam selalu dikambinghitamkan ?

Anda boleh menolak syariat agama lain, tetapi Anda tidak punya hak menolak kami umat Islam menerapkan syariat kami sendiri. Silahkan saja menolak Injil, tripitaka, weda, karena kitab suci selain Al Quran tidak mengandung nilai-nilai dan aturan untuk mengatur negara.

Sementara agama Islam, dengan Al Quran dan as Sunnah, telah secara lengkap mengatur bagaimana Islam mengatur kehidupan dan bernegara. Beliau, Rasulullah SAW telah memberi contoh, mempraktikkan Islam untuk memimpin negara, dimana beliau sendiri yang menjadi kepala negara di Madinah.

Para Sahabat RA, juga melanjutkan negara warisan Rasulullah SAW, hingga membuat risalah Islam menerangi seluruh penjuru dunia, hingga dakwah sampai kepada segenap Umat manusia, karena diemban oleh negara. Kekhilafahan Turki Utsmani, adalah prasasti sejarah yang tak terbantahkan, bahwa Islam telah eksis sebagai entitas negara (khilafah) dalam kurun lebih dari 13 abad.

Sekali lagi, PDIP Silahkan menolak nilai syariat Islam. Silahkan ajak kadernya, berbondong menolak syariah Islam, tapi PDIP tidak akan pernah bisa menghalangi umat Islam kembali pada syariatNya, kembali pada kebangkitannya, kembali membumikan syariat Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Wahai umat Islam, kalian paham, mulut mereka telah mengungkapkan apa yang ada didalam dada. Sebenarnya, didalam dada kedengkian itu lebih dalam. Tidak perlu bersedih, kalian hanya perlu memutus legitimasi, dengan tidak memilih partai apapun yang menentang syariah Islam.

Jumlah umat Islam yang mayoritas, sangat cukup jika digunakan untuk menghukum kesombongan partai sekuler yang menolak syariat Islam. Sangat cukup untuk menghukum partai agar menjadi gurem dan tak lolos Parlrmentiary Treshold.

Suara umat Islam adalah kunci, jangan pernah berikan kunci kekuasaan itu untuk mendudukkan partai atau politisi yang membenci syariah sampai ke tampuk kekuasaan. Jauhkan kunci itu dari partai dan politisi yang mendengki terhadap Islam.

Berikan, kunci itu hanya kepada pengemban dakwah yang tulus ikhlas, berjuang untuk menegakkan syariat Islam. Takbir ! [MO/ge].

Posting Komentar