Oleh: Mochamad Efendi

Mediaoposisi.com-Profesionalisme sering dijadikan alasan untuk bisa menabrak aturan Islam atau membela yang salah karena tuntutan profesi. Seorang artis terpaksa harus membuka auratnya bahkan berani melakukan adegan yang tidak pantas karena tuntutan profesionslisme.

Begitu juga seorang pengacara rela membela mati- matian kliennya hanya karena tuntutan profesionalisme walaupun dia sudah tahu orang yang dibela salah.

Profensionalisme harusnya merupakan sebuah komitmen pada kebenaran Islam bukan karena tuntutan profesi.

Jika satu profesi atau pekerjaan harus memaksa seseorang meninggalkan aturan Islam, bukan profesi yang harus menjadi prioritas utama dengan membiarkan diri untuk melanggar hukum Allah.

Berkomittmen untuk berislam secara kaffah harus menjadi tujuan meskipun harus kehilangan kesempatan untuk mendapatkan keuntungan besar atau kehilangan pekerjaan sekalipun.

Jangan takut kehilangan pekerjaan jika itu hanya menjauhkan diri kita dari aturan Allah. Pasti ada pekerjaan lain yang lebih baik yang sesuai dengan syariat Allah. Jika satu pekerjaan tidak membawa kita untuk dekat pada Allah bahkan menjauhkan diri dari aturan Allah, untuk apa dipertahankan?

Bukankan tujuan hidup kita adalah beribadah kepada Allah? Sehingga semua hal yang akan menjauhkan diri dari tujuan hidup kita, harus ditinggalkan termasuk jika harus meninggalkan pekerjaan kita yang tidak sesuai dengan syariatNya.

Jangan karena alasan profesionalisme kita biarkan diri kita masuk ke lobang dosa. Jangan karena keuntungan duniawi kita rela menjauh dari Allah.

Walaupun sudah tahu bahwa hanya syariat Islam yang boleh digunakan sebagai hukum untuk mengatur kehidupan manusia, di parlemen ditetapkan dan dilegalkan hukum buatan manusia bahkan ada yang bertentangan dengan syariat Allah.

Jika di parlemen tidak bisa berbuat apa apa untuk mencegah dilegalkanya aturan buatan manusia dan pasti tidak bisa berbuat apa-apa, seorang Muslim yamg baik seharusnya meninggalkannya dan mencari pekerjaan yang lain yang sesuai dengan aturan Allah.

Jika tahu riba adalah dosa besar, tidak seharusnya berlama-lama dengan pekerjaan yang didalamnya ada transaksi riba.

Jangan alasan profesionalisme kita biarkan diri kita melakukan dosa karena pekerjaan yang kita geluti tidak sesuai dengan syariat Islam. Lebih baik gaji kecil tapi berkah dari pada gaji besar tapi tidak halal. 

Profesinoalisme adalah komitmen kita pada kebenaran Islam. Jadikan Islam sebagai standart kebenaran ketika melakukan pekerjaan.

Semua harus disesuaikan dengan ajaran Islam kaffah. Bukan sebaliknya Islam yang menyesuaikan dengan profesi kita sehingga dalil dicari agar apa yang dikerjakan seolah benar padahal salah.

Memang sulit dalam sistem kapitalisme demokrasi menentukan salah dan benar. Sebuah kebenaran didasarkan pada nilai manfaat yang akan didapat. Sebuah kebenaran jadi kabur. Karena alasan profesionalisne aturan agama ditabrak selama memberi kemanfaatan.

Yang salah nampak mulia dan benar di hadapan manudia. Semenrara yang benar terlihat salah. Agama diambil jika sangat menguntungkan saja dan ditinggalkan saat dianggap menyulitkan.

Seperti halnya, Yuzril Ihza Mahendra yang memutuskan untuk menjadi pengacara bakal calon presiden nomor urut 1. Tentunya harapan kita, beliau bisa profesional dengan berkomitmen pada kebenaran Islam.

Bukan membela mati-matian tapi harus tetap mengingatkan dan meluruskan jika ada yang salah dilihat dari ajaran islam. Semoga kita semua bisa profesional dalam pekerjaan kita dengan tetap berkomitmen untuk menjadikan ajaran Islam sebagai pedoman lengkap dalam mengatur hidup kita termasuk dalam menjalankan profesi kita.[MO/ge]


Posting Komentar