Oleh: Dini tri azra

Mediaoposisi.com-Belakangan masyarakat dibuat bingung dengan kontestasi politik yang kian memanas,antara dua kubu yang akan bertarung. Pasalnya bukan masalah-masalah penting yang diangkat menjadi bahasan utama. Dalam forum diskusi di ruang publik,hingga bergeser perang opini di ranah media sosial.

Baik dari elite politik,sampai para pendukung fanatik berusaha mengulik titik lemah lawan,untuk dijadikan bahan ejekan,saling hujat dan membully jadi santapan sehari-hari, perbincangan politik hari ini.

Mulai dari kata"sontoloyo"dan politik "gendruwo " yang diucapkan oleh Presiden Joko Widodo. Hingga ucapan Prabowo subianto yang menyebut "tampang boyolali ",menjadi bahasan yang ramai diperbincangkan,baik oleh masyarakat umum,netizen,hingga para politisi tingkat tinggi. Ditambah lagi,dengan penayangan serentak film "Hanum dan Rangga",serta film "A Man Called Ahok ".

Keduanya menambah ramai,dan sengitnya persaingan, adu kuat dalam memperoleh dukungan lewat jumlah penonton yang dicapai.Pasalnya kedua film tersebut merupakan film biopik yang mengisahkan profil dari dua tokoh yang berseberangan dalam pandangan politik.

Film "Hanum dan Rangga ",mengangkat kisah cinta dan konflik batin setelah pernikahan Hanum Rais,bersama suaminya Rangga almahendra. Dimana Hanum rais merupakan putri dari Amien rais,politisi PAN yang selama ini dikenal kritis terhadap pemerintah,dan juga pendukung pasangan Prabowo - Sandi. Sedangkan film "A Man Called Ahok " berkisah tentang masa kecil Basuki tjahja Purnama / Ahok di Belitung, hingga awal karirnya merambah dunia politik. Tidak asing lagi Ahok adalah mantan kolega politik Jokowi,dan juga teman dekatnya. Kasus penistaan agama,yang membuatnya harus masuk penjara,bisa dikatakan awal dari kekisruhan politik dalam negeri, sejak beberapa tahun terakhir. Dikabarkan kedua kubu berusaha mendongkrak kesuksesan film tersebut,dengan penggerakan massa pendukung untuk menonton, melalui himbauan terhadap kadernya,sampai dugaan pemberian tiket gratis bagi simpatisan .( tirto.id 12/11/2018).
Begitulah,masyarakat seolah disuguhkan dengan isu-isu sepele,yang kemudian dibesar-besarkan. Saling mencari titik lemah dari lawan politik,bukan hanya dalam hal kebijakan yang diusung,bahkan propaganda tentang masa lalu,dan keburukan individu dijadikan bahan untuk saling menjatuhkan. Hal ini sangat disayangkan,karena semestinya persoalan urgent yang ada ditengah masyarakat saat ini,seperti kenaikan harga-harga,ketimpangan hukum dan sosial,krisis moral bagi generasi muda yang kian hari makin mengkhawatirkan,nasib guru honorer yang tidak menentu,sampai nasib pengungsi korban bencana gempa Lombok dan Palu yang sampai sekarang belum teratasi. Semestinya hal-hal seperti ini yang menjadi fokus bagi kedua kubu,mereka bisa meraih simpati dengan menunjukkan empati terhadap penderitaan rakyat,dan menyerap aspirasi masyarakat.
 Kondisi politik yang terkesan hanya menjadi pertarungan antara dua kubu yang sudah lama berseteru,dan hanya bertujuan untuk meraih kemenangan ,malah membuat rakyat makin alergi
berbicara tentang politik. Karna politik itu dianggap kotor,penuh kecurangan,dan masih banyak stigma  negatif lainnya. Maka perlu dicamkan dengan baik,sebuah ungkapan dari tokoh kenamaan Turki,bernama Necmettin erbakan,kurang lebih seperti ini,"Muslim yang tidak perduli dengan politik,akan dipimpin oleh politisi yang tidak perduli dengan Islam."
Padahal,dengan politik keadilan dan kesejahteraan bisa diwujudkan. Jika acuannya adalah politik Islam. Islam bukan hanya agama ritual,melainkan agama ideologi yang memiliki aturan yang sempurna,mencakup seluruh aspek kehidupan. Baik yang menyangkut urusan keluarga,bermasyarakat,bahkan bernegara termasuk hubungan dengan negara-negara lain di dunia. Jadi berpolitik bagi umat Islam adalah keharusan.Dalam suatu riwayat  disebutkan, “Kekuasaan adalah bayang-bayang Allah di bumi.” (Ibnu Atsir, Usud al-Ghâbah, 929) Bahkan Dzun Nurain, Utsman bin ‘Affan RA pernah berujar;
“Sesungguhnya Allah mencegah dengan kekuasaan apa yang tidak bisa dicegah dengan al-Qur`an.” (Ibnu Katsir, Qashah al-Anbiyâ, 265)
Islam dan politik adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan,karena agama Islam diturunkan bersama seperangkat aturan yang lengkap,yang sumbernya adalah wahyu Allah Subhanahu wataala,Sang Pencipta dan Pengatur kehidupan. Didalamnya mencakup urusan masyarakat dan bernegara,bukan cuma mengatur urusan ibadah,dan individu saja. Islam mengajarkan kepada umat untuk perduli dengan urusan yang menyangkut kepentingan dan kemaslahatan mereka. Sehingga bisa mengetahui,apa yang diberlakukan oleh penguasa terhadap rakyatnya. Juga untuk mencegah kezaliman yang dilakukan penguasa. Umat menjadi cerdas dan berpikir kritis terhadap kebijakan yang tidak sesuai dengan aturan Islam.
Maka,sudah selayaknya kita berjuang untuk mengembalikan politik Islam ditengah kehidupan bernegara. Dengan Islam akan lahir politisi-politisi yang taraf berpikirnya tinggi,karena mereka berideologi Islam,dan akan mengambil kebijakan hanya berdasarkan syariat Islam,yang bersumberkan Al quran dan sunnah. Berbeda dengan kondisi sekarang,dimana banyak politisi Islam,yang mengaku akan memperjuangkan Islam,tapi kenyataannya tidak menjalankan kebijakan sesuai syariat Islam kecuali sedikit. Bermacam dalih mereka gunakan untuk menolak syariat Islam sebagai sumber aturan,karena negara ini sudah final,dan terbentuk oleh kesepakatan bersama. Jika memang benar,mengapa keadaan bangsa ini masih carut marut,dengan ragam persoalan yang tak kunjung usai? Pantaslah,Allah Subhanahu wataala berfirman :
"Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?" (Qs.Al Maidah ayat 50).
Hanya Allah saja yang berhak membuat hukum,sedangkan manusia hanya mengikuti dan tunduk pada petunjuk Ilahi.
Wallahu a'lam bishawab.


Posting Komentar