Oleh : R.A.
Alamat :Surakarta

Mediaoposisi.com-Tiga puluh Oktober 2018, puluhan ribu guru melakukan aksi unjuk rasa di depan istana negara.  Unjuk rasa tersebut dilakukan karena kekecewaan para guru yang tidak kunjung diangkat menjadi PNS. 

Walaupun pemerintah sudah membuka lowongan CPNS, namun lowongan tersebut hanya diperuntukkan untuk guru-guru yang berusia di bawah 35 tahun.

Padahal di Indonesia, masih banyak guru honorer yang usianya sudah melebihi di atas 35 tahun dan belum juga kunjung diangkat menjadi PNS. Namun, sangat disayangkan, aksi unjuk rasa ini tidak menuai hasil karena pihak istana tidak menemui para guru honorer walaupun para guru tersebut bermalam di depan istana negara.

Menjadi guru honorer di Indonesia merupakan suatu kenyataan pahit yang harus diterima oleh seorang guru. Nasib guru honorer di Indonesia benar-benar diabaikan oleh pemerintah yang seharusnya menjamin kesejahteraan mereka dan memberi penghormatan kepada mereka.

Tugas guru sebagai pendidik generasi bangsa sungguh tidak seimbang dengan hak yang seharusnya mereka terima.

Apalagi, jika guru honorer harus dihadapkan dengan berbagai permasalahan-permasalahan yang sempat viral akhir-akhir ini, misalnya Baiq Nuril yang mengalami pelecehan seksual, seorang guru di Kendal yang di-bully oleh siswanya dan masih banyak lagi kasus-kasus lain yang mungkin tidak terungkap oleh media.

Dengan berbagai beban dan permasalahan yang dialami oleh para guru honorer, tidak selayaknya pemerintah abai terhadap hak-hak yang seharusnya diperoleh seorang guru honorer. 

Apalagi, jika selama ini gaji guru honorer setiap bulan hanya sekitar Rp200.000,00 - Rp400.000,00. Beberapa waktu lalu, viral foto gaji guru honorer sebesar Rp 35.000, 00 selama sebulan. Nominal-nominal tersebut sangat kecil sekali jika dibandingkan dengan waktu, tenaga dan pikiran yang mereka korbankan untuk mendidik generasi penerus bangsa.

Jika dibayangkan gaji tersebut tidak akan mencukupi kebutuhannya, maka tidak heran para guru honorer mencari nafkah dengan jalan lain, misalnya mengajar di lembaga bimbingan belajar, berdagang, bertani dan lain-lain.

Salah satu dampaknya, guru-guru tersebut menjadi tidak fokus untuk mendidik generasi bangsa karena disamping harus mendidik generasi bangsa yang semakin hari semakin rusak moralnya, guru honorer juga harus memenuhi kebutuhan hidupnya.

Kesejahteraan seorang guru walaupun masih honorer seharusnya benar-benar harus dipikirkan oleh pemerintah. Tugas-tugas mereka begitu penting untuk mengatasi krisis moral dan mengembangkan pengetahuan para generasi bangsa yang nantinya menjadi tonggak penerus bangsa.

Jadi, sangat memprihatinkan jika guru dituntut untuk bekerja semaksimal mungkin tetapi hak-haknya diberikan sangat minim.

Hal tersebut tentu berbeda dengan masa dimana islam pernah memiliki peradaban gemilang yaitu masa berkembang pesatnya ilmu dan pengetahuan. Saat ini, mungkin ilmu pengetahuan yang kita pelajari adalah salah satu hasil peradaban islam yang gemilang pada masa tersebut.

Pada masa tersebut, tidak ada guru yang nasibnya menyedihkan. Hak-hak guru di masa-masa tersebut dipenuhi dengan sangat baik. Pemimpin di masa tersebut sangat memuliakan mereka, seperti halnya pada masa Umar bin Khatab,

para guru mendapat gaji sebesar 15 dinar atau jika dirupiahkan menjadi sekitar Rp30.000.000,00, daulah Abbasiyah  juga tidak kalah dalam memperhatikan dan memuliakan guru di zamannya, para guru diberi tunjangan sebesar 200 dinar dan masih banyak lagi jika kita mau menengok sejarah peradaban islam mengenai kebijakan pemimpin masa itu dalam memuliakan para guru.

Karena kesejahteraan guru diperhatikan, tidak ada guru yang menuntut melakukan aksi unjuk rasa di masa tersebut.

Guru benar-benar fokus mendidik generasi bangsa sehingga tidak mengherankan jika hasilnya ilmu pengetahuan juga berkembang dengan pesat dan meraih masa kegemilangan.

Sungguh, betapa guru honorer merindukan masa itu. Masa dimana pemerintah sangat menjamin kesejahteraan guru dan memuliakan guru.

Semoga pemerintah Indonesia dapat segera mengambil tindakan atas permasalahan guru honorer dan sekaligus mengambil pelajaran dari peradaban islam yang pernah meraih kegemilangan di bidang ilmu pngetahuan, agar guru honorer yang memiliki beban luar biasa tak lagi sengsara dan benar-benar fokus untuk mendidik generasi bangsa.[MO/ge]


Posting Komentar