Oleh : Fadkhuli Jannati SP. MP
(Alumni pasca sarjana Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, pemerhati ibu dan generasi)


Mediaoposisi.com- Jika ada pepatah yang  mengatakan "Wanita adalah Tiang Negara", rasanya hal itu tidaklah berlebihan. Karena perempuan adalah calon ibu dan ibulah yang melahirkan para generasi. Sedangkan kajayaan dan kehancuran suatu bangsa tergantung pada kualitas generasi yang mengembannya. Bagaimana masa depan suatu bangsa dan peradabannya, apakah akan menjadi peradaban yang tenggelam ataukah cemerlang tergantung pada generasi mendatang yang dididik oleh seorang ibu.

Potret Buram Perempuan Dan Generasi era milenial
Saat ini realitas di tengah masyarakat membuat kita miris. Perempuan zaman now yang diharapkan menjadi pencetak generasi masa depan yang berkualitas, justru menunjukkan fakta-fakta sebaliknya yang jauh dari harapan.

 Berdasarkan data KPAI (Komite Perlindungan Anak Indonesia), 62,7% remaja Indonesia melakukan hubungan sex pra nikah, 94.270 perempuan hamil diluar nikah 20% dari kalangan remaja, 21% darinya melakukan aborsi.

Tidak hanya sex bebas. Perempuan jaman sekaranv juga banyak yang terinfeksi HIV/AIDS. Perempuan yang sudah menikah yang terinfeksi HIV AIDS, berdasarkan data Kementrian Kesehatan (th 1989 - 2015) total 38.817, itu belum termasuk data perempuan yang belum menikah.

Dengan kondisi perempuan semacam ini tidak mengherankan jika generasi saat ini (tanpa mengabaikan beberapa ada yang berprestasi) juga jauh dari harapan. Menurut KPAI tercatat kasus tawuran pelajar per tahun terus meningkat . Komisi bidang pendidikan KPAI (Retno Listiyarti) menyatakan:  tahun lalu kasus tawuran pelajar 12,9 % dan tahun ini 14 %, padahal sudah berakibat 82 pelajar tewas, belum termasuk korban luka2. Menurut data BNN (Badan Narkotika Nasional) tercatat pengguna narkoba 5,1 juta orang, 40% pelajar & mahasiswa.

Berbagai fakta di atas adalah buah penerapan sistem kapitalisme, liberalisme di negri-negri kaum muslimin. Pandangan hidup yang didasarkan pada sekularisme (memisahkan agama dari kehidupan) melahirkan kehidupan materialistik yang kering nilai ruhiyah. Sistem ini memandang kebahagiaan adalah terpenuhinya segala kebutuhan (materi) dengan sepuas-puasnya

Sosok Perempuan Dalam Islam
Pesan para ulama salafussholih yang sering kita dengar: Al ummun madrasatun idza a'dzadztahaa, a'dzadzta sya'ban thayyibal a'raaqi ( ibu adalah sebuah sekolah yang jika engkau persiapkan dia, berarti engkau telah mempersiapkan suatu bangsa dengan dasar yang baik).

Rasulullah SAW bersabda:
"Setiap anak dilahirkan atas fitrah, maka kedua orangtuanyalah yang menjadikan anak itu yahudi, nasrani atau majusi" (HR Bukhari).

Perempuan adalah calon ibu, dan ibu sebagai pondasi peradaban yang agung (peradaban islam yang cemerlang). Dalam islam faktor penting penentu kualitas perempuan dan generasi adalah : keimanan (ketaqwaan), keilmuan dan amal sholihnya.

Lihatlah sosok perempuan-perempuan agung dan mulia dalam islam, beberapa diantaranya:

1). Fatimah Azzahra binti Muhammad
Pendapat Rasulullah SAW terkait putrinya ini: Fatimah bagaikan pengganti khadijah bagiku. Di usia yang sangat belia Fatimah mampu menggantikan peran ibunya sebagai pengatur rumah tangga , juga sebagai pendukung dakwah Rasulullah dalam mewujudkan peradaban baru yang gemilang, di saat ibunda khatijah sudah menghadap Al Khaliq.

2). Aisyah binti Abu Bakar :
Perawi hadist, ahli ilmu ( buah didikan Rasulullah). Di usia muda Aisyah menjadi rujukan ilmu kaum muslimin, sehingga menghasilkan ulama-ulama (perempuan dan laki-laki).

3) Fatimah binti Ubaidillah (ibunda ulama besar Imam Syafi'i)
Kecerdasan dan kehebatan Fatimah (ibunda Imam Syafi'i) ini diakui masyarakat di zamannya hingga para qodhi (hakim).

Suatu ketika Fatimah binti ubaidillah diminta oleh qodhi untuk menjadi saksi di pengadilan. Dia lantas menghadap qodhi dengan mengajak seorang wanita untuk ikut bersaksi. Setibanya di Pengadilan qodhi berkata: yang boleh bersaksi hanyalah kamu, temanmu tidak boleh. Fatimah mengingatkan qodhi tentang firman Allah QS Al Baqoroh : 282 tentang kesaksian seorang laki-laki setara dua wanita, qodhi pun terdiam. Wajarlah sosok ibu yang demikian bisa mencetak anak yang cemerlang.

Imam Syafi'i hafal Al Qur'an di usia 6-7 tahun, di usia 10 tahun hafal kitab Al Muwatho' (berisi ribuan hadist).  Imam Ahmad bin Hambal melukiskan tentang Imam Syafi'i : ia bagaikan matahari bagi bumi dan kesehatan bagi badan. Ilmunya terlalu luas untuk diukur, hingga sulit bagi generasi setelahnya untuk menyamainya apalagi mengunggulinya.

Demikianlah gambaran sosok perempuan-perempuan hebat buah didikan sistem dan peradaban islam yang gemilang.

Gambaran Generasi Berkualitas Dalam Islam
Dalam sistem pedidikan  Islam tidak dikenal dikotomi, seperti yang lazim terjadi dalam sistem pendidikan sekuler. Pendidikan generasi dalam islam tidak hanya ditargetkan untuk mencapai ketinggian teknologi dan ilmu pengetahuan semata.

Target utama pendidikan generasi adalah untuk mencetak generasi yang memiliki keimanan yang kokoh, lalu dengan dorongan keimanan tersebut teknologi dan ilmu pengetahuan dikaji, dikuasai dan dikembangkan, artinya keimanan menjadi dasar bagi keilmuan seseorang.

Gambaran generasi berkualitas dalam islam adalah sebagai berikut:
1). Generasi yang berkepribadian islam (Syakhshiyyah Islamiyah) : adalah generasi yang memiliki keimanan kuat terhadap islam (aqidah islamiyah), dan menjadikan aqidah islam tersebut sebagai landasan dan standard satu-satunya dalam pola pikirnya (aqliyah) dan pola sikapnya (nafsiyah).

2) Generasi yang berjiwa pemimpin.
Islam datang dengan membawa seperangkat aturan yang sempurna yang menjamin terselesaikannya seluruh problematika manusia sampai akhir zaman, sehingga islam merupakan rahmat bagi seluruh alam bisa terwujud. Dan tiadalah Kami mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam (QS Al Anbiya' :107)

3). Generasi yang mampu mengaruhi kehidupan berdasarkan aqidah islam.
Generasi yang mendapat pembinaan untuk mengokohkan aqidah dalam dirinya, akan mampu mengarungi medan kehidupan dengan penuh keberanian. Tidak ada hal yang perlu ditakuti kecuali murka Allah.

Hidupnya hanya diabdikan pada Allah, pantang putus asa dan menyerah pada problem yang dihadapinya, karena ilmu keislamannya mampu menyelesaikan berbagai problematika kehidupan dan yakin akan pertolongan Allah. Maka terbentuklah generasi yang optimis menghadapi masa depan yang akan menghantarkan pada kejayaan islam.[MO/sr]

Posting Komentar