Oleh : Ghea RDyanda
(Aktivis Mahasiswa BKLDK Jember Raya)

Mediaoposisi.com-10 November 1945 hari bersejarah bagi Indonesia terutama pemuda Surabaya. Sutomo, atau yang lebih akrab dikenal dengan bung tomo mengobarkan semangat perjuangan ketika tentara-tentara Inggris menyebarkan pamflet-pamflet untuk menebar teror dan agar penduduk menyerah padanya.

Dengan ucapan bismillah ia mulai untuk mengobarkan semangat pemuda Surabaya. Dengan senjata tak lebih canggih bahkan seadanya.

Namun dengan tekad kuat yang dilandasi pemikiran Islam bahwa tak akan ada sesuatu apapun yang ada di bumi ini yang mampu memberikan mudharat sekalipun semua makhluk berhimpun kecuali atas kehendak Allah SWT.

Itulah diantara prinsip yang dipegang teguh oleh pendahulu bangsa ini. Tak hanya bung Tomo, namun juga pejuang-pejuang bangsa yang lain pun sama. Tak kenal takut, karena ada Allah didekatnya.

Perjuang pra dan pasca tahun 1900 M tak jauh beda, meletakkan kepemimpinan berpikirnya pada Islam.

Penjajahan dari masa ke masa

Hakikatnya, yang bernama penjajahan tak ada yang menyukainya kecuali penjajahnya itu sendiri. Berbagai macam cara akan ia lakukan untuk melanggengkan penjajahan itu. Dari cara biasa sampai tak biasa, ia akan terus berinovasi demi keuntungan dan syahwat yang tak pernah puas.

Pasca perang dunia II, terdapat konferensi-konferensi untuk mengecam penjajahan dengan cara militer. Perdamaian menjadi tujuan utama mengingat besarnya kerugian akibat adanya perang dikedua belah pihak, baik yang menang maupun yang kalah.

Berdasar dari hal ini, maka dibuatlah undang-undang internasional yang mengatur hak-hak manusia dalam perang maupun damai.

Momentum ini, tak melelehkan tekat penjajah untuk menjajah. Inovasi pun dilakukan agar wilayah jajahannya tetap tunduk hingga lahirlah apa yang disebut dengan istilah neo-imperialisme atau penjajahan gaya baru.

Penjajahan yang menitikberatkan bukan pada kekuatan militer lagi namun dengan cara menunggangi kebijakan-kebijakan negeri jajahan dengan meletakkan penguasa boneka hingga ia berpihak pada penjajah.

Tujuan utama penjajahan, sebagaimana yang masyhur didengar yakni Gold, Glory, dan Gospel atau lebih dikenal dengan istilah 3G. Penjajahan dengan militer tak bisa dilakukan, maka dibuatlah neo-imperialisme, toh tujuannya sama yakni mendapatkan keuntungan berlimpah dan berkuasa di muka bumi.

Stigma Negatif terhadap Kesadaran Ummat terhadap Islam

Bentuk pengagungan terhadap Allah, diantaranya terletak pada kalimat Allahu Akbar (Allah Maha Besar). Sebagai Tuhan semesta alam, maka layak bagi Allah untuk mendapatkan kalimat-kalimat pengagungan dari hamba-hambanya.

Dengan syari’ah-Nya yang syamil dan kamil, Dia mengatur kehidupan manusia agar mereka dapat hidup dibawah Ridho-Nya.

Apa jadinya jika kalimat-Nya dijadikan suatu stigma buruk terhadap ummat islam yang sadar bahwa di negerinya tak diterapkan syari’at Sang Pemilik manusia ?

misalnya pada saat mengkritisi pemerintah karena kebijakannya dinilai menyengsarakan ummat dan tak sesuai dengan ajaran Islam seperti pencabutan subsidi listrik, penyerahan aset vital negara dsb.

Lantas, apa jadinya jika kalimat-Nya dijadikan suatu stigma buruk terhadap ummat islam yang sadar bahwa di negerinya tak diterapkan syari’at Sang Pemilik manusia ?

yang didasarkan kesadaran bahwa negerinya kini dikuasai penjajah dengan cara soft yang tak disadari kecuali oleh orang-orang yang memiliki penginderaan tajam?

Sungguh, ini adalah stigma jahat untuk mengontrol ummat yang sadar terhadap penjajahan terhadap dirinya agar ia berdiam diri dan acuh saja.

Zaman pasti berlalu, dan estafet perjuangan akan diemban oleh orang-orang yang tak ingin meng-hamba kecuali kepada Tuhannya hamba. Yang ridho hanya dengan aturan sang malik al mulk.[MO/ge]

Posting Komentar