Oleh : Neni
Ibu Rumah Tangga

Mediaoposisi.com-Nilai tukar rupiah terhadap dollar saat ini semakin melemah hingga Rp 15.217.00. VP Economist PT Bank Permata Tbk Josua Pardede mengatakan, melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS.

Selain dipicu oleh penguatan dollar AS terhadap seluruh mata uang dunia pada perdagangan waktu AS tempo hari. Ini juga diikuti oleh kenaikan imbal hasil atau yield obligasi pemerintah AS dan harga minyak dunia.

Di sisi lain, isu perang dagang antara AS dan China kembali memanas setelah AS mencapai kesepakatan perdagangan baru dengan Kanada dan Meksiko yang mengisyaratkan pembatasan barang-barang dari China.

Berbagai sentimen global pun mendorong koreksi di pasar keuangan domestik. Sebab, terjadi aliran keluar dari dana asing baik melalui pasar obligasi maupun pasar modal.

Kenaikan ini juga pastinya akan berdampak pada semua aspek kehidupan, ibarat domino yang dipasang berjajar maka efek anjloknya nilai rupiah diibaratkan seperti efek domino yang  berjatuhan secara teratur.

Nilai dollar yang meningkat, berbanding lurus dengan barang-barang impor yang bersentuhan dengan rakyat bawah baik berupa bahan baku maupun barang jadi sehingga menurunkan daya beli masyarakat.

Pendapatan masyarakat bias habis untuk konsumsi pangan dan transportasi. Bahkan, yang terjadi lebih besar pasak daripada tiang. Di sisi lain, dollar yang menguat terhadap rupiah menyebabkan harga BBM akan tertekan baik yang subsidi maupun non-subsidi.

Efeknya penyesuaian harga BBM berbagai jenis diprediksi akan terus dilakukan. Rakyat diuji permasalahan kompleks di era kekinian, ekonomi yang semakin menghimpit menjadikan rendahnya daya beli masyarakat. Tidak hanya rakyat kecil, industri pun kena imbasnya. 

Banyak industri gulung tikar yang berakibat puluhan ribu karyawan terpaksa diberhentikan. Namun anehnya pemerintah membuka jalan lebar bagi tenaga asing sementara rakyat yang pengangguran semakin meningkat.

Saat nilai tukar rupiah terus mengalami pelemahan, berpotensi besar memicu inflasi. Harga-harga barang di dalam negeri akan meningkat tajam. Terutama untuk barang atau produk yang diolahnya dari bahan baku impor.

Karena produsen harus merogoh kocek lebih besar lagi untuk membeli bahan bakunya dari luar negeri itu alias impor. Kalau sudah begitu, maka tidak mungkin produsen menjual barangnya sama seperti sebelumnya ketika rupiah tidak melemah.

Artinya, produsen harus menjual produknya dengan harga yang mahal agar tidak merugi. Jika produsen tetap menjual produknya dengan harga yang sama, maka yang akan dikorbankan adalah kualitasnya.

Maka jalan satu-satunya adalah dengan menaikkan harga jual produknya agar tetap untung dan menjaga pangsa pasarnya.

Karena itulah konsumen akan membeli produk-produk itu dengan harga yang lebih mahal dari biasanya. Dengan semakin mahalnya barang-barang tersebut terutama untuk barang konsumsi, maka akan memicu inflasi tinggi di tengah masyarakat.

Inilah yang dirasakan masyarakat luas saat ini,berbagi macam kebutuhan pokok yang utama mengalami kenaikan. Tentu bagi mereka yang memiliki uang tak masalah berapapun hargnya mereka akan mampu membeli barang tersebut.

Namun berbeda dengan mayoritas masyarakat yang hidup dibawah garis kemiskinan, kenaikan sedikits saja bagi mereka membuat mereka semakin menjerit karena takbisa memenuhi kebutuhan pokoknya.

Artinya ancaman kelaparan, kematian dan depresi akibat tekanan keidupan yang begitu berat menghantui mereka.

Satu hal yang harus kita akui, akibat penerapan sistem kapitalismelah saat ini perekeonomian dunia dan khususnya di Indonesia mengalami keterpurukan. Penerapan sistem kapitalisme mengakibatkan kerusakan  dan kesengsaraan bagi umat manusia dalam bentuk kerusakan alam,

kemiskinan serta kesenjangan ekonomi yang sangat lebar baik di antara individu di suatu negara maupun kesenjangan ekonomi antarnegara. Sebetulnya tanda-tanda kerapuhan Kapitalisme semakin nyata terlihat. Harry Shutt dalam bukunya,

Runtuhnya Kapitalisme, menyebutkan bahwa Kapitalisme kini sedang mengalami “gejala-gejala utama kegagalan secara sistemik”,

yaitu semakin lesunya pertumbuhan ekonomi, semakin lebar kesenjangan dan bertambah terus orang-orang miskin serta semakin sering terjadi  krisis keuangan baik lokal maupun global.

Kaenanya mencampakkan sistem kapitalisme saat ini adalah solusi yang harus segera dilakukan oleh kaum muslimin. Dan untuk menghentikan penerapan sistem ekonomi kapitalisme hanya bisa dilakukan jika muncul negara Khilafah

yang menerapkan sistem ekonomi Islam. Khilafah Islam dengan penerapan  sistem ekonomi Islam akan mampu menghentikan krisis ekonomi global yang sistemik serta memberikan jaminan kesejahteraan bagi umat manusia. [MO/gr]




Posting Komentar