Oleh : Nurhamidah

Mediaoposisi.com- Sejak pasukan Suriah membombardir Ghouta beberapa waktu itu,  lebih dari 335 jiwa telah terbunuh di daerah kantong kelompok oposisi Suriah. Sebanyak 13 warga sipil tewas dalam serangan terbaru, Kamis, 22 Februari 2018.  Pesawat tempur rezim Assad semakin ganas menyerang kota terakhir yang masih dikuasai kelompok oposisi.

Sejak tahun lalu, lebih dari 95 persen kawasan Suriah telah dikuasai sepenuhnya rezim Assad. Sebelumnya daerah di Suriah terpecah-pecah ke sejumlah kantong yang dikuasai pemerintah Assad, kelompok oposisi dan kelompok teroris ISIS.  Kini, hanya Ghouta Timur yang belum bisa dikuasai rezim Assad. Sementara kawasan Raqqa yang selama hampir tiga tahun dikuasai ISIS, berhasil direbut kembali Assad pada medio 2017 lalu.

Situasi di Ghouta sangat mengerikan. Pasukan Suriah masih terus menghujani kawasan Ghouta Timur sehingga jumlah korban tewas terus bertambah. Di sana lebih dari 1.200 orang telah terluka. Kondisi Ghouta yang terkepung oleh pertempuran telah membuat akses pangan dan obat-obatan ke kota kecil tersebut terblokir. ​

Penduduk setempat hidup dalam teror dan ketakutan. Sekitar 400.000 orang terjebak dan memilih berlindung di gua-gua dan ruang bawah tanah. Kondisi perang semakin diperparah lantaran hujan es juga melanda Ghouta timur.

Parahnya kondisi di Ghouta timur telah membuat PBB menyerukan gencatan senjata.  PBB meminta agar serangan udara terparah dalam perang saudara Suriah yang sudah berlangsung selama tujuh tahun itu segera dihentikan untuk mencegah jatuhnya korban jiwa baru. Sebagaimana dilaporkan The Guardian, Kamis, 22 Februari 2018, seruan tersebut disuarakan Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres. Dia menuntut penghentian segera semua kegiatan perang di daerah pinggiran Damaskus tersebut.

Dewan Keamanan (DK) PBB pun diperkirakan akan segera menggelar sidang dengan tujuan untuk menghasilkan rancangan resolusi yang menuntut gencatan senjata 30 hari di Ghouta Timur, meskipun kemungkinan tidak mudah dilakukan. 

Pasalnya, Rusia yang merupakan sahabat Suriah kemungkinan akan menggunakan hak veto untuk menjegal resolusi DK PBB soal Ghouta timur tersebut. 
Peperangan yang terjadi di Ghouta Timur juga dikecam oleh organisasi dunia yaitu Uni Eropa yang menyatakan bahwa rezim Assad secara kejam menyerang pria, wanita dan anak-anak yang tidak bersalah, dan menyerukan kepada semua pihak yang berperang untuk segera menghentikan pertempuran sesegera mungkin.

Suara lantang yang mengecam tindakan pemerintah di Ghouta timur juga datang dari kelompok oposisi Suriah, yakni Koalisi Nasional Suriah.  Kelompok oposisi ini mendesak PBB mengambil tindakan untuk mengakhiri kekerasan di Ghouta timur serta mengambil alih lebih banyak tanggung jawab untuk memenuhi misi keamanan.

Kondisi yang begitu memprihatinkan di Ghouta timur ikut pula menggugah Palang Merah dan Program Pangan Dunia untuk menyerukan gencatan senjata segera dilaksanakan sehingga ada kemungkinan mereka bisa mencapai Ghouta timur dan menyalurkan bantuan kepada warga.

Menteri Luar Negeri Kanada Chrystia Freeland, Kamis (22/2) dalam sebuah pernyataan, sebagaimana dikutip laman Anadolu Agency, juga mengecam keras serangan di Ghouta Timur yang sangat ganas dan memilukan karena tak lagi menghiraukan keberadaan warga sipil. 

Freeland menegaskan bahwa penargetan dan penyerangan terhadap warga sipil jelas merupakan pelanggaran hukum humaniter internasional. Oleh sebab itu, ia menyerukan pihak-pihak yang terlibat eskalasi serangan di Ghouta Timur segera menghentikan setiap serangan dan menyerukan kepada rezim Suriah agar mengizinkan akses penuh terhadap bantuan kemanusiaan.

Begitu banyak kecaman yang dilontarkan oleh berbagai pihak baik dari organisasi tingkat dunia maupun lembaga negara internasional kepada rezim Assad karena kekejaman dan tindakannya melancarkan serangan militer di Ghouta Timur yang telah banyak memakan korban warga sipil.  Namun sayangnya seruan-seruan tersebut hanya sebatas mengecam tanpa ada tindakan yang konkrit. 

Bahkan, Dewan Keamanan PBB yang seharusnya bertugas menciptakan keamanan dan perdamaian dunia juga tidak berhasil menghentikan peperangan dan kekerasan yang terjadi. Tindakan yang paling banyak dilakukan adalah mengirimkan bantuan obat-obatan dan makanan.  Padahal tindakan tersebut tentunya juga sama sekali tidak dapat mengakhiri penderitaan. 

Karena sebagaimana halnya ketika ada seseorang yang dianiaya dan dipukuli oleh orang lain hingga luka parah kemudian kita memberikan pertolongan dengan cara mengobati dan menyembuhkan lukanya, tapi kemudian kita tetap membiarkan orang tersebut dianiaya dan dipukuli lagi karena kita tidak mencegah atau menghentikan si penganiaya. Maka sia-sialah usaha kita dalam memberikan pertolongan dan pastinya tidak akan menyelesaikan masalah, bahkan justru makin memperpanjang penderitaan orang yang teraniaya.

Dan yang lebih ironis lagi, di tengah keprihatinan dunia terhadap pembantaian kaum muslim di Ghouta yang telah berlangsung lama, pemerintah sampai saat ini juga belum memberikan respon apapun. 

Bahkan hanya sekedar pernyataan keprihatinan atas penderitaan mereka pun tidak.  Hal ini jelas menunjukkan lemahnya kepedulian pemerintah terhadap sesama muslim.  Padahal Indonesia dikenal sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia.  Bagaimana mungkin sebagai negeri mayoritas muslim bisa diam seribu bahasa melihat ribuan jiwa muslim dibantai?

Dalam islam, ketika terjadi pembunuhan, bahkan terhadap satu orang muslim pun, adalah merupakan persoalan yang penting karena menyangkut penjagaan nyawa seorang muslim.  Dalam pengertian, islam memerintahkan umatnya untuk menghentikan pembunuhan itu, menghentikan kezaliman dan membebaskan siapapun yang dizalimi.  Sebagaimana firman Allah dalam Quran surat An-Nisa ayat 75 yang artinya :

Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa : “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri yang penduduknya zalim ini, dan berikanlan kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau”.

Demikianlah yang jelas terlihat, bahwa terhadap penderitaan dan pembantaian yang dialami kaum muslim di Suriah khususnya di Ghouta Timur saat ini, dunia bungkam. Bahkan para penguasa Arab dan Muslimpun tidak ada yang membela.  Mereka semua tidak punya nyali  sedikitpun, kecuali hanya mengutuk.  Lebih dari itu tidak mereka lakukan seperti mengerahkan pasukan militer untuk menghentikan serangan brutal Rusia dan rezim Bashar Assad. 

Mengapa mereka bisa bersikap demikian?  Jawabannya adalah :

Pertama, inilah dampak buruk nasionalisme dan nation state.  Akibatnya, ukhuwah islamiyah hilang entah kemana.  Masing-masing negeri muslim, terutama para penguasa mereka hanya mementingkan diri mereka sendiri.  Mereka tidak peduli atas tragedi yang terjadi di Suriah dan di negeri muslim lainnya. 

Kedua, kebanyakan para penguasa muslim dan arab adalah antek barat, khusunya AS dan Rusia.  Wajar jika mereka cenderung membiarkan bahkan mendukung kebijakan tuan-tuan mereka meski jelas-jelas dalam rangka membunuhi kaum muslim diberbagai negeri islam, khususnya suriah.

Realitas ini semakin menunjukkan bahwa penyelesaian masalah Ghouta bukan dengan gencatan senjata dan bantuan kemanusiaan semata.  Karena tidak menghasilkan solusi tuntas.  Solusi yang tuntas adalah hanya dengan pembebasan dari imperialis melalui kekuatan militer di bawah sistem islam yaitu Khilafah. Sebuah institusi yang dipimpin oleh seorang Khalifah. 

Ya, hanya dengan khilafah umat yang satu ini benar-benar menjadi bagai satu tubuh. Ketika ada sebagian yang didzalimi dan diperangi, seluruh umat Islam bangkit melakukan pembelaan.  Sebagaimana sabda Rasulullah saw :

"Imam (Khalifah) itu laksana perisai, kaum muslim diperangi (oleh kaum kafir) dibelakang dia dan dilindungi oleh dirinya" (HR. Muslim). [MO/sr]

Posting Komentar