Oleh : R Mardhatillah

Mediaoposisi.com-Kita patut bersyukur terlahir dan besar di negeri Indonesia. Negeri yang merupakan rumah bagi beragam jenis flora dan fauna. Di bawah tanahnya tersimpan berbagai kekayaan alam.

Mulai dari minyak bumi, timah, emas, gas alam serta batu bara. Belum lagi potensi hasil lautnya yang melimpah. Keelokan rupa juga tanahnya yang terkenal subur seakan menambah daya pikat negeri yang dijuluki Zamrud Khatulistiwa ini.

Tak cukup sampai di sana. Lahir dan tumbuh di Indonesia, tak perlu khawatir dengan rongrongan bom dan tembakan rudal. Warga negaranya juga dibiarkan bebas beribadah sesuai dengan akidah yang diyakininya.

Bagi muslim, mereka tidak dilarang untuk menjalankan ketentuan agama semisal shalat, puasa, menutup aurat, bahkan untuk menghadiri halqah-halqah keislaman. Begitupun bagi non muslim, mereka tak dipaksa bersyahadat untuk kemudian berpindah keyakinan.

Lakum diinukum waliyadiin. Baik muslim dan nonmuslim tidak usil dengan mengaduk-aduk dan mencederai keyakinan yang dianut saudaranya. Mereka amat menjunjung tinggi toleransi. Aplikasi-nyanya nampak nyata saat umat Islam berkumpul dalam aksi 212 tahun lalu.

Meskipun jutaan kaum muslimin menyemut di sekitaran Monas, namun tak ada satupun darah non muslim tertumpah sia-sia. Sebab, mereka sadar bahwa hal itu terlarang dalam agama.

Namun, kita tak boleh mencukupkan diri dengan realitas di hadapan. Benar bahwa bangsa kita sudah lepas dari belenggu penjajahan sekira 73 tahun lalu, sehingga kita bisa menghirup udara bebas. Memang, kita telah merdeka secara fisik.

Akan tetapi pemikiran umat masih terbelenggu. Bagi makhluk yang akrab disapa emak-emak, pembicaraan seputar kejayaan Islam, tak lebih memikat dibandingkan naiknya harga bahan pangan di pasar tradisional. Alih-alih bicara kebangkitan, pikiran mereka justru tertambat pada dapur, sumur juga kasur.

Padahal sebagai muslim, kita dituntut untuk menjadikan setiap aktivitas bernilai ibadah. Sebab di dalam kalamullah secara spesifik telah diterangkan tugas manusia secara umum. Yakni, beribadah kepada Dzat yang telah menciptakannya.

Dialah Dzat yang juga menciptakan alam semesta dan kehidupan. Tentu, ibadah yang dimaksud bukan hanya sebatas shalat, puasa, zakat. Itu baru mencakup dimensi hubungan hamba dengan Rabb-Nya. Belum termasuk dimensi hubungan hamba dengan sesamanya dan dirinya sendiri.

Di sinilah letak kompleksitas Islam sebagai aturan kehidupan. Ia tak hanya mengandung aspek spiritual, tetapi juga politis. Di dalamnya tak hanya sekadar nilai, tetapi adalah satu kesatuan aturan perikehidupan.

Ia mengatur bagaimana sendi-sendi kehidupan bangsa seharusnya ditegakkan. Berawal dari keyakinan yang matang, kemudian menjalar ke aspek lainnya seperti sosio-kultural, ekonomi, pendidikan, hingga militer.

Adalah wajar ketika kaum muslimin mendakwahkan Islam sebagai satu-satunya pegangan yang layak untuk mengarungi kehidupan. Islam adalah tumpuan dan harapan di tengah carut-marutnya tatanan kehidupan di negeri ini.

Sebab, negara kita sedang berjalan menuju kehancuran. Gencarnya perbaikan infrastruktur, tak sejalan dengan usaha memperkokoh akidah umat yang mulai disusupi paham yang merusak.

Sebut saja pluralisme, sekularisme, dan nusantara-isme. Sebuah paham yang berusaha mencocokkan Islam dengan warisan budaya dan kearifan lokal.

Maka, bertaburanlah ide-ide kreatif yang diusung umat Islam sendiri. Bosan dengan sesuatu bercorak kearab-araban, maka mengalirlah ide jenius agar Islam di Indonesia kental bernuansa nusantara.

Dari sana, terbitlah suatu terobosan baru dalam sejarah berdirinya Indonesia yaitu dibacakannya Alquran dengan langgam Jawa.

Itu baru satu sisi. Ibarat gunung es, kerusakan yang timbul akibat Islam tidak dijadikan pegangan dalam kehidupan bernegara sebenarnya lebih dahsyat lagi. Kemiskinan, hutang negara beserta bunga yang bertumpuk-tumpuk, maraknya kejahatan seolah menegaskan kepada kita bahwa negara kita sedang tidak baik-baik saja.

Peran Islam dalam mengatur kehidupan semakin dipinggirkan. Kaum muslimin lebih bangga menunjukkan identitasnya yang kebarat-baratan dibanding menonjolkan sisi keislaman mereka. Umat Islam dilarang membicarakan hal-hal yang berbau politik.

Apalagi, jika mengarah kepada dakwah pergantian sistem yang rusak. Hal ini dianggap makar dan berpotensi menggulung karpet kekuasaan.

Walhasil, kepada mereka disematkanlah julukan teroris, fundamentalis dan radikal. Umat diminta curiga dan waspada. Saking parnonya, bahkan mimbar-mimbar masjid pun tak luput dari pengawasan rezim.

Ulama dan tokoh-tokoh yang kritis dan lantang menyuarakan kebenaran diawasi bahkan dipersekusi. Pengajian dibubarkan secara sepihak. Simbol-simbol Islam diberangus dengan cara yang nista.

Butuh adanya transformasi dengan menjadikan Islam sebagai solusi problematika kehidupan. Termasuk dalam mengatur sebuah negara. Aturan-aturannya pun relevan di setiap tempat dan zaman.

Islam akan menjaga jiwa, akal, keturunan, spesies, kehormatan, harta, dan yang paling penting menjaga keimanan manusia.

Ketika Islam diterapkan, negara tidak akan tinggal diam terhadap sekecil apapun penyimpangan yang dilakukan warganya. Pemimpin, memposisikan diri sebagai pengembala (ra'in) yang berlaku penuh adab terhadap gembalaannya (ra'iyyah).

Selain itu, kontrol individu dan masyarakat juga berjalan. Individu juga dibekali dan didorong dengan ketakwaan agar senantiasa terikat dengan aturan Islam.

Islam akan mengubah pola pikir manusia dari penyembahan mahkluk kepada penyembahan Allah semata. Ia akan memutus ikatan-ikatan yang ada seperti ikatan kepentingan (al-mashlahiyyah), kesukuan (al-qabiliyyah), dan patriotisme (al-wathaniyyah) dan menggantinya dengan ikatan akidah.

Ia akan mengganti tolak ukur aktivitas manusia dari manfaat-egoisme menjadi halal dan haram.

Demikian juga dengan negara. Asas hubungan kenegaraan yang mulanya dibangun atas kepentingan materi, ketamakan dan kepongahan, akan direvisi. Apapun hubungan luar negeri haruslah berjalah di atas asas penyebaran Islam dan mengembannya ke seluruh dunia.

Memang, untuk merealisasikannya adalah sesuatu yang sulit. Tetapi, bukan berarti tidak mungkin dan utopis. Sebab, sistem Islam telah teruji selama kurun 13 abad.

Usia yang jauh lebih matang dibanding usia bertahannya demokrasi-kapitalis. Ia akan menjadi harapan sekaligus arah baru perjuangan hakiki menuju kebangkitan.[MO/ge]

Posting Komentar