Oleh: Anjar Rositawati S.Pd

Mediaoposisi.com- Islam datang dengan keadaan yang asing, akan kembali pula dalam keadaan asing. Sungguh beruntunglah orang yang asing.” Demikianlah sabda Rasulullah Saw, yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. Keadaan tersebut yang saat ini betul-betul mulai dirasakan oleh kita sebagai umat Islam.

Tidak hanya ajarannya yang ditakuti, dianggap aneh, tetapi juga para pemeluknya yang diperlakukan dengan tidak adil. Hal ini tidak hanya berlaku di Indonesia tetapi di seluruh penjuru dunia. Bagaimana Islam dan pemeluknya yang selalu menjadi korban, tetapi disebut atau diberi label sebagai pelakunya.

Di Indonesia dengan mayoritas penduduknya muslim pun tetap merasakan keasingan tersebut. Seorang muslim yang berusaha menjalankan keyakinannya dengan sebenar-benarnya menjadi sesuatu hal yang sangat aneh dan tidak lazim. Dianggap fanatik, intoleransi, dan cap lainnya yang sangat menyudutkan.

Padahal sejatinya dalam Islam menjalankan semua aturan yang sudah Allah turunkan dan tetapkan adalah sebuah bukti cinta seorang hamba kepada Tuhannya. Yang telah memberinya begitu banyak nikmat dan karunia. Jika seorang nonmuslim boleh sedemikian rupa menjalankan keyakinannya kenapa hal yang sama tidak boleh bagi seorang muslim? Karena hanya di dalam ajaran Islam sajalah yang memiliki aturan yang begitu lengkap dan detail dalam menjalani kehidupan di dunia, yang pastinya akan membawa kemaslahatan yang sangat banyak.

Sudah menjadi janji Allah Swt, akan menjaga Islam sampai akhir zaman. Sebagaimana firman-Nya, “Sungguh Kami yang telah menurunkan Adz-Dzikr (Alquran), dan Kami pula yang benar-benar akan menjaganya.” (QS. Al-Hijr:9). Di dalam ayat tersebut Allah Swt mengatakan akan menjaga Alquran, yang artinya Allah pun akan menjaga Islam. Karena sumber hukum, pedoman hidup agama Islam berasal dari Alquran. Jadi, akan sia-sia saja apa yang sudah kaum munafik dan kafir lakukan untuk meredupkan cahaya kebenaran Islam.

Pada saat ini, ketika sistem yang ada tidak bisa menjawab berbagai persoalan kehidupan yang ada. Dibarengi dengan mulai tumbuhnya kesadaran umat Islam akan ajarannya sendiri yang ternyata memiliki tuntunan hidup yang begitu lengkap. Tidak terbatas hanya tuntunan spiritual seperti halnya agama-agama yang lain.

Bahwa ternyata Islam itu mengatur segala aspek kehidupan, tidak terpisah sama sekali. Bahkan dalam politik sekalipun demikian, Islam juga mengaturnya. Semuanya bisa kita lihat dan pelajari dari sirah Rasulullah Saw. Bagaimana beliau saat itu menjadi seorang negarawan dan politikus yang paling handal. Bagaimana bisa? padahal Rasulullah Saw adalah seorang yang ummi atau tidak bisa membaca. Tidak lain karena beliau dibimbing wahyu dengan semua ajaran dari Allah Swt melalui kalam-kalam Nya.
 
Kesadaran kembali kepada Islam inilah yang ditakuti oleh pemerintah saat ini. membuat resah para penguasa di Negeri ini. Membuat framing seolah-olah ketika Islam diterapkan sebagai aturan kehidupan bermasyarakat dan bernegara akan membuat kacau dan rusak negeri ini. Akan membuat terpecah belah sebuah negeri yang katanya beraneka bagaimana pada saat itu justru Islam lah yang menyatukan semua umat manusia tanpa melihat latar belakang, suku, ras, agama dan budaya yang berbeda. Semua umat manusia tersebut bisa hidup rukun dan damai dalam aturan Islam yang diterapkan secara kaffah dibawah pemerintahan Islam yang disebut Khilafah.

Apa itu Khilafah? Khilafah adalah sebuah kepemimpinan umat dengan menggunakan Islam sebagai ideologi serta undang-undangnya mengacu kepada Alquran, Hadis, Ijma, dan Qiyas. Khilafah ini adalah bagian dari ajaran Islam. Para ulama mazhab sepakat terkait dengan hukumnya yang wajib dan tidak ada yang menolaknya. Jadi, terbantahlah sudah framing yang mereka buat untuk mendiskreditkan bahwa khilafah bukanlah termasuk ajaran Islam.

Hal inilah sesungguhnya yang menjadi ketakutan terbesar kaum imperialis jika umat sampai akhirnya mengetahui, memahami, bahkan menginginkan diterapkannya aturan Islam secara total dalam bingkai kekhilafahan. Karena mereka para kaum kuffar bisa membaca “ramalan” bahwa di tahun 2020 akan bangkitnya Islam kembali ditengah-tengah umat. Yang akan menjadi sebuah kekuatan baru menyaingi Negara-negara adidaya saat ini dengan ideologi kapitalisnya yang sebentar lagi akan tumbang, hanya tinggal menunggu waktu.     

Semangat atau ghiroh keislaman yang saat ini mulai muncul di masyarakat menjadi sesuatu hal yang patut diapresiasi. Perasaan atau su’ur Islam yang dirasakan semakin membara menjadi sebuah momok yang menakutkan bagi pemerintah Indonesia sendiri. Mereka menyadari jika sampai Islam menjadi satu-satunya rujukan dalam segala aspek kehidupan maka hancurlah sudah semua kekuasaan, jabatan, harta mereka yang didapatkannya dengan cara menipu rakyat.

Pundi-pundi keuntungan yang mereka raup dengan begitu mudahnya dalam sistem kapitalis demokrasi saat ini akan lenyap dan harus mereka pertanggungjawabkan. Halal dan haram akan terlihat jelas, kebenaran bukan lagi ditentukan berdasarkan voting suara terbanyak. Tetapi standarnya adalah Alquran dan Sunnah.

Maka diturunkanlah “tangan-tangan” untuk membungkam atau menghilangkan segala macam bentuk ajaran Islam di tengah-tengah umat. Dibuatlah opini negatif dan menakutkan tentang ajaran Islam, kriminalisasi bagi para ulama yang lurus dan konsisten berpegang teguh kepada Alquran dan sunnah. Tidak mudah dibujuk rayu dengan iming-iming dunia. Simbol tauhid juga sudah mulai dilecehkan, yang tejadi belum lama ini. Politik belah bambu pun dimainkan untuk menghambat derasnya Islam yang semakin diminati oleh pemeluknya sendiri dari hari ke hari. Mereka lupa bahwa Sang Pemilik kehidupanlah yang menjamin Islam dan umatnya tidak akan punah sampai akhir zaman nanti. Begitu besar usaha yang mereka lakukan untuk memadamkan cahaya Islam tentu tidak akan sanggup mereka lakukan. Seperti yang tertuang dalam firman-Nya (QS. At-Taubah: 32)

Mereka ingin memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, namun Allah menolaknya, malah berkehendak menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang kafir tidak meyukainya.

Sesungguhnya kemenangan itu akan terwujud, tinggal menunggu waktunya. Sekarang dimana peran kita berada? Apakah mau menjadi bagian dari yang memperjuangkannya atau malah sebaliknya yang ingin agar Islam tidak menjadi jaya, dan menjadi sebuah agama yang memberikan rahmat bagi seluruh manusia dan alam semesta. [MO/sr]

Posting Komentar