Oleh: Fahmiyah Tsaqofah Islamiy

Mediaoposisi.com- Kasus Baiq Nuril Maknun, seorang guru honorer di SMAN 7 Mataram, yang dijatuhi hukuman enam bulan penjara dan denda Rp 500 juta oleh Mahkamah Agung terkait pelanggaran UU ITE dalam kasus penyebaran informasi percakapan mesum Kepala Sekolah SMU 7 Mataram sangat jelas menampakkan ketelanjangan harga keadilan yang mahal di negeri beregulasi paham sekuler.

Ibu Nuril merupakan salah satu dari jutaan korban sistem yang harus menanggung deritanya sebab tak mendapat keadilan penguasa. Sungguh merupakan penderitaan tiada henti yang harus ditanggung ummat atas  pemisahan agama dari negara yang mencengkeram negeri ini. Penguasa hanya memikirkan kepentingan individualistiknya tanpa pernah memperhatikan jeritan rakyat.

Sistem rusak ini memang sengaja membentuk kepribadian penguasa dan kebijakan-kebijakannya yang jauh melenceng dari syari'at Allah. Siapapun orangnya yang berkuasa, selama sistem masih dalam kendali paham sekuler, dialah pemegang utama kekuasaannya tanpa perlu memperhatikan aspek aturan dan norma agama, apalagi Diin al-Islam.

Yang haq bisa dianggap salah jika bertentangan dengan kebijakan penguasa. Label "penguasa mewakili rakyat" hanyalah legalisasi semata tanpa ada upaya penguasa mendengar permohonan keadilan dari masyarakat.

Inilah Demokrasi yang lahir dari paham sekuler.
Siapapun yang berkuasa, dia berhak apa saja. Menaikkan harga kebutuhan di pasaran, memanipulasi data, mengkriminalisasi ulama, membubarkan kajian, bahkan represif kepada siapa saja yang dianggap menentang. Sehingga tak dapat dipungkiri, harga keadilan terus meroket tajam. Sebab siapa yang berkuasa, dia bisa menghalalkan yang haram, mengharamkan yang halal, bahkan memutarbalikkan haq dan bathil sekalipun.

Inilah Demokrasi yang lahir untuk para korporasi, pemilik modal tertinggi.

Mereka bisa membeli kemenangan di meja persidangan, menjatuhkan lawan yang miskin, menguasai hakim, menegosiasi hukuman, dan gemar memanipulasi kebenaran.

Selain itu, ketidaktegasan sistem sanksi demokrasi dalam menghukum pelaku kriminal yang terlibat konflik antar individu maupun kelompok juga menjadi faktor penyebab ketertarikan para bedebah kian memuncak dalam melakukan kejahatan. Padahal Allah berfirman :

وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَنْ يَفْتِنُوكَ عَنْ بَعْضِ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَيْكَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَاعْلَمْ أَنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُصِيبَهُمْ بِبَعْضِ ذُنُوبِهِمْ وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ لَفَاسِقُونَ (49) أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ (50)

“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik [49]. Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin? [50]” (Qs. Al-Maa'idah: 49-50)

Telah nyata sistem yang lahir dari dasar yang rusak sudah barang tentu akan menghasilkan kebijakan dan aturan yang rusak pula. Maka melihat kenyataan pahitnya hukum yang menimpa bu Nuril hari ini, seharusnya semakin membuat kita sadar untuk bergegas mengganti sistem rusak ini dengan sistem yang berasal dari Allah dan pernah dicontohkan oleh RasulNya, yaitu sistem Islam. Wallahu ‘Alam.[MO/sr]

Posting Komentar