Oleh :Hana Annisa Afriliani,S.S
"Penulis dan Pemerhati Sosial"

Mediaoposisi.com-Dunia perfilman Indonesia kian bergeliat, seiring dengan banyaknya para sineas yang kreatif mencipta karya.

Genre film yang diproduksi pun semakin beragam, tak melulu seputar hantu dan percintaan remaja, melainkan mulai merambah pada film-film biografi tokoh. Tentu mengesankan muatan yang lebih berbobot ketimbang sekadar memacu adrenalin penonton lewat tayangan horor atau mengumbar adegan mesum.

Pada awal November lalu, telah diluncurkan Film berjudul A Man Called Ahok dan Hanum dan Rangga di waktu yang bersamaan di seluruh bioskop tanah air. Banyak pihak menyambut positif peluncuran kedua film tersebut. Karena dianggap sebagai karya inspiratif yang memuat kisah hidup para tokoh publik. Namun, sejatinya penilaian kita tak layak sebatas itu, melainkan perlu bagi kita untuk menelisik makna di balik keduanya.

Sejatinya kedua film tersebut diluncurkan di tengah panasnya suhu politik di negeri ini jelang Pilpres 2019. Bukan tidak mungkin kedua film tersebut dijadikan sebagai alat bagi kepentingan politik. Sebagaimana kita ketahui bahwa Ahok, sebagai tokoh yang diangkat dalam film tersebut, merupakan mantan gubernur DKI Jakarta yang memiliki track record kurang mengenakan bagi sebagian besar kalangan muslim di tanah air. Kasus penistaan agama yang menjeratkan ke tahanan, menjadikan namanya tak seharum sebelumnya. Banyak orang yang akhirnya menarik simpati atasnya.

Begitu juga dengan Hanum Rais, anak dari politikus PAN, Amin Rais, yang namanya cukup dikenal di ranah perpolitikan tanah air, kemarin terserempet kasus hoaks Ratna Sarumpaet. Dengan lantang ia berada di pihak Ratna sebelum Ratna mengungkap sendiri bahwa apa yang dinyatakannya adalah hoaks semata. Akhirnya banyak pihak menuding bahwa Hanum Rais terlibat dalam rekayasa tersebut. Namanya pun menjadi tak lagi seharum sebelumnya.

Menariknya, Ahok dan Hanum berdiri di kubu yang berbeda. Jadi, seolah-olah, melalui film tersebut, upaya pengembalian nama baik kedua tokoh tersebut sedang dilakukan. Bagimanapun film adalah sebuah sarana yang cukup efektif untuk mengafirmasi masyarakat tentang sebuah opini. Pengembalian nama baik keduanya, sebagai tokoh politik, adalah penting adanya. Karena hal tersebut juga akan memengaruhi elektabilitas parta-partai yang berada di dalam lingkaran mereka masing-masing.

Di zaman ini, entah mengapa pencitraan sangatlah dibutuhkan demi mendulang suara. Oleh karena itu, masyarakat harus tetap cerdas menilai sesuatu. Harus objektif berdasarkan fakta, bukan semata citra yang sengaja diciptakan.

Apalagi jika lewat film tersebut, sisi humanis tokoh begitu ditonjolkan dengan segala sisi baiknya. Sehingga mampu mengaduk-aduk emosi penonton dan bukan tak mungkin pada akhirnya mampu menghadirkan simpati kepada sang tokoh. Kemudian, noktah yang pernah dilakoni tak lagi terlihat, menguap. Dengan demikian, kita harus cerdas menangkap makna dibalik segala hal, termasuk di balik sinema.[MO/an]

Posting Komentar