Oleh: Ammylia Rostikasari, S.S. 
(Aktivis Komunitas Penulis Bela Islam)

Mediaoposisi.com-Badan Intelijen Negara (BIN) mengungkap ada 41 dari 100 masjid di lingkungan kementerian, lembaga serta Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang terindikasi telah terpapar radikalisme (CNNIndo esia.com/17/11/2018).

Menindaklanjuti hal tersebut,  Dewan Masjid Indonesia (DMI) akan memanggil pengurus masjid yang terpapar radikalisme menurut Badan Intelijen Negara (BIN). Ketua Umum DMI yang juga Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla (JK) akan membuat kurikulum bagi para penceramah masjid (detiknews.com/23/11/2018).

Subhanallah, lagi-lagi kata radikal dibuat viral. Tak kenal maka tak sayang, semestinya kita harus membuka kamus untuk mendapati arti dari istilah radikal itu sendiri. Yang demikian agar tidak mudah tergiring arus opini yang memiliki tujuan tersendiri.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), radikal dimaknai

(1) secara mendasar (sampai pada hal yang prinsip), misalnya dalam frasa ‘perubahan yang radikal’;

(2) amat keras menuntut perubahan (undang-undang pemerintahan);

(3) maju dalam berpikir atau bertindak.

Setelah mendapati arti kata radikal, barulah bisa didapati pula konotasi atau kecenderungan citranya. Bisa menjadi positif juga negatif bergantung sudut pandang yang digunakan juga keberpihakan dari media yang mengopinikan.

Sebut saja pandangan Presiden Pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno dalam buku bertajuk “Mentjapai Indonesia Merdeka” (Maret 1933), beliau menulis bahwa untuk menuju Indonesia merdeka harus dipimpin oleh sebuah partai pelopor.

Adapun unsur-unsur penopangnya, “Di antara obor-obornja pelbagai partai jang masing-masing mengaku mau menjuluhi perdjalanan rakjat, massa lantas melihat hanja satu obor jang terbesar njalanja dan terterang sinarnja, satu obor jang terkemuka jlananja, ja’niobornja kita punja partai, obornja kita punya radikalisme!” tulisnya.

Jenis makna atau arti radikal di sana positif. Perubahan yang sifatnya mendasar menuju ke arah kebangkitan.

Namun belakangan ini, makna radikal dikonotasikan negatif. Yang lebih mirisnya kata radikal dilekatkan pada Islam dan gerakan Islam yang berupaya untuk menyelamatkan Indonesia dari penjajahan gaya baru (neoimperialisme) dengan Syariat Islam yang bersumber dari Kitabullah dan Sunah Rasulullah.

Sebenarnya pemberian label negatif bukan hal baru. The New York Times, edisi 20 November 1945 menampilkan headline Moslem Fanatics Fight in Surabaya.

Para pejuang yang mengusir penjajah yang dipimpin Bung Tomo itu dicap sebagai ‘Moslem Fanatics’. Padahal, perjuangan mulia yang mereka lakukan didasari jihad fisabililah, yaitu berjuang di jalan Allah subhanahu wata’ala.

Sejatinya konotasi negatif terhadap radikal, berlebih lagi pelekatannya kepada Islam dan gerakan Islam yang menyuarakan Islam secara kaffah adalah bentuk penyebaran Islamofobia. Paham yang menggiring masyarakat, bahkan Muslim sendiri untuk merasa horor dan ketakutan atas agama dan ajaran Islam yang mulia.

Umat Islam, marilah maksimalkan proses berpikir! Jangan mudah tergiring opini media yang memiliki kepentingan yang mampu mengelabui umat dari perjuangan dan berpegang kepada tali agama Allah. Semoga pertolongan Allah segera datang bagi hamba-hamba-Nya yang berupaya Istiqomah walau tengah hidup di zaman fitnah.

Sesungguhnya ini adalah bukti bahwa rezim yang tengah berkuasa merasa terusik oleh geliat perjuangan kaum Muslim yang gigih mendakwahkan penerapan syariat Islam dalam naungan Daulah Khilafah Islamiyah. Perjuangan mulia yang sebenarnya nyata dicontohkan oleh Rasulullah saw. dan khulafaur rasyidin.

Telah tercatat dalam sejarah bahwa Islam diterapkan dalam institusi negara lebih dari 13 abad lamanya. Negara yang mampu menyajikan kesejahteraan paripurna juga menjaga akidah masyarakatnya. Karena mercusuar kebaikan ada padanya. [MO/sr]

Posting Komentar