Oleh : Ammylia Rostikasari, S.S.

"Aktivis Penulis Bela Islam"


mediaoposisi.com-Dalam waktu dekat ini, Kabupaten Bandung ditunjuk sebagai salah satu Kabupaten/Kota di Indonesia yang sedang mengembangkan konsep Smart City. Dadang Naser selaku Bupati Bandung menilai, untuk menjadikan Kabupaten Bandung sebagai smart city bukan hal yang mudah.

"Perubahan pola dan gaya hidup masyarakat, berkembang pesatnya teknologi, jumlah penduduk yang semakin bertambah, dan terbatasnya sumber daya alam adalah masalah yang sulit diatasi Pemkab Bandung," ungkapnya.

Guna mewujudkan smart city di Kabupaten Bandung, menurutnya pemerintah harus mau berubah. "Smart people harus terbangun pertama kali, karena smart city adalah konsep pembangunan kota yang pintar, cepat, inovatif. Oleh karena itu pemerintah harus mau berubah untuk mewujudkan keberhasilan smart city Kabupaten Bandung," pungkasnya (Galamedianews.com/2/11/2018) .

Berbicara smart city, maka kita pun dihadapkan dengan konsep seperti apa yang hendak direncanakan. Selain itu juga pembahasan ini akan berafiliasi dengan banyak aspek mulai dari lingkungan, infrastruktur, transportasi, hingga pariwisata.

Oleh sebab itu, Pemkab Bandung selaku pihak yang bertanggung jawab haruslah segera menentukan landasan juga pedoman dalam pembangunan Smart City.

Seperti halnya yang terjadi di Aceh. Illiza Sa’aduddin Djamal selaku Wali Kota Aceh menegaskan, konsep smart city yang diterapkan di Banda Aceh harus tetap berada dalam bingkai Syariat Islam. “Indikatornya adalah bagaimana dan apa yang harus dicapai melalui Alquran dan Sunnah. Masih menurut Rasul, smart people itu adalah orang yang ingat mati dan mempersiapkan kematiannya. Jangan sampai membuat kita sulit untuk menggapai husnul khatimah,”katanya lagi (serambinews.com 10/10/2016).

Begitu pun dengan yang terjadi di Bandung. Jika syariat Islam menjadi landasannya, maka smart people akan diarahkan pada kepribadian yang memiliki keimanan dan ketakwaannya kepada Allah subhanahu wata’ala. Keberadaannya sebagai anggota masyarakat akan memberikan kontribusi positif dalam membangun masyarakat.

Selain itu keberadaan infrastruktur yang dibangun haruslah sesuai dengan tata kelola Islam. Adanya tidak menimbulkan kemudaratan bagi masyarakat ekonomi lemah. Bahkan pembangunannya sangat diperhatikan dari segi keramahan terhadap alam. Karena bumi pun termasuk makhluk Allah yang wajib untuk diperhatikan kelestariannya. Jangan sampai pembangunan digalakkan semata orientasi pemasukan daerah.

Namun, mesti juga memperhatikan dampak buruk bagi lingkungan, berupa banjir yang kian hari kian parah, ketidakberesan dalam pengelolaan sampah juga ancaman longsor akibat pembangunan di perbukitan yang bisa mengancam kapan saja.

Smart City sebagai inovasi teknologi yang juga diarahkan untuk pariwisata. Hanya saja konsep pariwisata yang disajikan pun haruslah menjadi cerminan dari landasan yang ditegakkan. Jangan sampai pariwisata hanya digunakan sebagai topeng dari segala tindak kemaksiatan.

Adanya smart city pada hakikatnya adalah cerminan dari masyarakat yang tercirikan. Masyarakat yang dibangun atas pemikiran, perasaan dan aturan yang satu. Seperti yang dulu dicontohkan Rasulullah saw. saat pertama kali hijrah di Kota Madinah Al-Munawarah.

Rasulullah membangun masyarakat di sana dengan menerapkan syariat Islam secara kaffah dalam bingkai Daulah Islamiyah. Bukan hanya smart people dan smart city yang didapati, tetapi kemuliaan peradaban Islam yang mampu memancar ke seluruh jazirah Arab juga penjuru dunia.

Masyarakat Madani seolah tak asing di mata dunia. Sebuah sosok masyarakat yang bukan semata-mata tinggal di kota Madinah, tetapi sebagai potret masyarakat yang bersikukuh dalam memegang tali agama Allah dan istiqomah dalam dakwah. Insyaallah, hidup selamat dunia akhirat dengan naungan syariat.[MO/an]



Posting Komentar