Oleh: Nurul Fadhilah
(Aktivis Mahasiswi Malang Raya)

Mediaoposisi.com-Sudah sekitar 3 bulan lamanya pascagempa Lombok terjadi namun, entah apa alasannya masih ada ratusan keluarga di tiga Dusun Jalateng, Desa Gegerung, Kecamatan Lingsar, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), masih menempati tenda-tenda pengungsian.

Sekitar lima titik pengungsian yakni Jalateng Barat, Jalateng Timur, dan tiga titik di Jalateng Tengah, yang mana disetiap ttitik tersebut ada puluhan keluarga yang masih mengungsi.

Setelah ditelisik lebih lanjut tekait pengungsian ini, akhirnya warga pun mengkiu bahwasanya mereka terpaksa masih tetap menempati pengungsian karena sebagian besar rumah mereka masih mengalami kerusakan bahkan hancur tanpa ada perbaikan.

Mantan Kepala Dusun Jalateng Timur Jaelani, mengatakan bahwa sebagian rumahnya hancur akibat gempa yang hingga kini pun masih menempati tempat pengungsian, tenda yang di tempati jaelani ini merupakan salah satu tenda pengungsian yang memanjang dan cukup untuk menampung puluhan warga. (cnn Indonesia)

Yang lebih membuat hati tersayat ialah ketika mengetahui bahwa tempat tinggal pengungsian sekarang ialah pengungsian yang ala kadarnya, alasnya seadanya, ketika siang terik pun membuat pengap tenda, dan ketika hujan pun sering terkena banjir.

Terlebih lagi Jaelani mengatakan sebenarnya ia pun tak betah tinggal di area pengungsian yang seperti itu, namun bagaimana lagi, tak ada lagi yang dapat ia lakukan selain menunggu bantuan yang datang kepada warga Lombok.

Pascagempa terjadi banyak bantuan yang datang kepada warga Lombok yang dapat  meringankan beban warga Lombok, namun seiring dengan berjalannya waktu bantuan pun mulai menghilang, selain itu dana yang dijanjikan oleh pemerintah pun, pasalnya masih tak kunjung jelas informasinya.

Berdasarkan pernyataan Bapak Presiden Jokowi terkait dengan dana bantuan yang akan diberikan kepada warga Lombok masih belum ada kabar lanjut. Pungkas salah satu warga “Ardiansyah “katanya nanti dikabari dari kantor desa tapi enggak ada tuh sampe sekarang”. (cnn Indonesia)

Meski ada beberapa orang yang mendapatkan bantuan, namun sayang bantuan yang diberikan bukanlah sejenid uang sebagaimana pernyataan Bapak Jokowi, melainkan material-material bangunan yang sampai sekarang pun belum seutuhnya diberikan.

Rumah adalah kebutuhan pokok bagi setiap individu, Adapun warga Lombok sampai saat ini masih bertempat tinggal di tempat pengungsian dan masih belum tahu kabar bantuan pemerintah dalam menyediakan fasilitas rumah.

Sungguh miris sekali hidup di dalam sistem Kapitalisme, permasalahan rakyat tidak segera terselesaikan dan bantuan pun lambat dijalankan,

dana tidak terdistribusi secara merata dan pemerintah seolah-olah hanya mementingkan kepentingan mereka sendiri. Sehingga yang terjadi adalah rakyat menjadi korban dari negara.

Islam: Solusi Nyata

Dalam sistem Kapitalisme negara hanya sebagai regulator dan pemerintahnya sangat jelas menjadi-kan rakyat sebagai pelayannya, sedangkan dalam Islam negara bertugas sebagai pengurus urusan umat dan pemerintahannya ialah pelayan bagi rakyat yang melayani segala kebutuhan rakyat.

Dalam Syariah islam tugas utama pemimpin ialah taat pada Allah SWT, dengan menjalankan amanah dari rakyak yakni mengurusi urusan rakyat secara keseluruhan.

Kewajiban pemerintah untuk selalu memperhatikan kemashlahatan rakyatnya,  sebagaimana Ibnu Taimiyah mengatakan para penguasa merupakan orang-orang yang ditugaskan Allah untuk mengurusi hamban-Nya.

Mereka mempunyai wakil-wakil dari rakyat unutk mengurusi diri mereka bahkan segala urusan rakyat berada sepenuhnya di tangan mereka, seperti dikatakan A. Wahab Kholaf (1977 h. 29).

Atas dasar ini, maka kemasahatan rakyat terus selalu menjadi acuan penguasa dalam menyelenggara-kan dan membuat segala kebijakan.

Sangat masyhur terdengar di telinga kita, sosok Khalifah Umar bin Khattab yang cepat tanggap dalam bencana yang terjadi pada rakyatnya ketika musim paceklik melanda kawasan Jazirah Arab.

Umar radhiyallahu’anhu berkata, “Akulah sejelek-jelek kepala negara apabila aku kenyang sementara rakyatku kelaparan.”

Khalifah Umar menyadari bahwa ia akan mempertanggungjawabkan posisinya sebagai pemimpin. Sebagaimana hadits riwayat Bukhari, “Imam (waliyul amri) adalah pengurus rakyat dan dia bertanggung jawab atas rakyat yang dia urus.”

Sepenggal cerita Umar di atas menunjukkan bahwa pemimpin seharusnya memberikan yang terbaik untuk rakyatnya, melayani dengan sepenuh hati dan bersungguh-sungguh mengerahkan pemikirannya dalam menangani korban yang ada di Lombok.[MO/ge]

Posting Komentar