Oleh : Messy 
(Aktivis Mahasiswa)

Mediaoposisi.com-Perilaku menyimpang di masyarakat kian hari kian meningkat, hal ini menjadi perkerjaan rumah tersendiri bagi pemerintah dan masyarakat. Pemerintah dan masyarakat dituntut untuk mencari solusi atas permasalahan terkait lesbian, gay, transgender, dan biseksual (LGBT).

Hal ini menjadi perhatian serius bagi semua pihak karena dapat mengancam masa depan generasi muda.

Infomasi yang diperoleh melalui Nasrul Abit selaku Wakil Gubenur Sumatera Barat mengungkapkan ada sekitar 18 ribu perilaku LGBT di Sumbar membuat kita terkejut.

Bagaimana mungkin, daerah yang populer dengan falsafah syara’ mangato dan adat mamakai bisa mengukir angka sefantastis itu terkait permasalahan LGBT.

Selain itu, Nasrul Abit mengungkapkan bahwa tidak satupun daerah di Sumbar yang bebas dari pelaku LGBT, Rabu (7/11) di aula kantor Gubenur Sumbar pada acara orientasi penggerak PKK. Seharusnya, semua pihak ikut andil dalam permasalahan tersebut.

Tidak hanya pemerintah daerah melainkan juga partisipasi aktif dari ulama, ninik mamak, bundo kandung, lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan swasta.

Jika semua pihak peka dengan efek negatif yang timbul dari LGBT tersebut, tentu hal ini dapat segera diminimalisir.

Pro Kontra di Masyarakat

Adanya pasangan LGBT yang menggunakan pakaian adat minang di Pasaman Barat viral dimedia sosial beberapa pekan lalu. Oleh sebab itu, hal tersebut jelas memberi citra buruk pada daerah minang yang kental dengan nuansa agama Islam.

Hal ini menyebabkan terjadinya pro dan kontra dari masyarakat, ada sebagian kecil pihak yang membiarkan keberadaan pelaku LGBT dengan dalih HAM tapi fakta yang banyak ditemukan dilapangan, kebanyakan masyarakat gerah dengan keberadaan mereka yang memicu ketidak-nyamanan didalam masyarakat.

Ketidaknyamanan ini pun berlanjut dengan diadakannya aksi oleh masyarakat sebagai upaya protes tehadap keberadaan LGBT tersebut. Aksi dilakukan diberbagai wilayah Sumbar seperti Pasaman Barat, Payakumbuh, dan Padang.

Selain itu, pihak keamanan seperti Satpol PP juga merasakan ketidaknyamanan sama yang dirasakan oleh masyarakat. Misalnya di Padang, Satpol PP menangkap pelaku LGBT dari kaum laki-laki (gay) dari kaum perempuan (lesbian).

Pemerintah Lalai dalam Memberantas LGBT

Semua pihak harus tolong menolong dalam upaya mencari solusi memberantas LGBT sesegera mungkin. Namun yang terjadi hingga kini, belum ada regulasi yang dapat memberikan hukuman bagi pelaku LGBT tersebut.

Padahal LGBT memberikan pengaruh buruk yang besar bagi masyarakat, baik kesehatan maupun sosial. Jumlah pelaku LGBT semakin hari kian meningkat sebab tidak ada efek jera bagi pelaku LGBT. Tidak hanya sekedar peduli tanpa ada regulasi yang diberikan, tentu itu sia-sia.

Tampak jelas bahwa pemerintah lalai dalam memberantas keberadaan LGBT karena hingga saaat ini pemerintah masih belum mengeluarkan Undang-undang terkait sanksi terhadap pelaku LGBT yang seharusnya bisa memberikan efek jera.

Malah yang terjadi sebaliknya, pemerintah seperti membiarkan keberadaan LGBT berkeliaran secara bebas di masyarakat.

Ini bisa dilihat melalui pernyataan Menteri Agama mengungkap bahwa “menurut saya mereka harus dirangkul, harus diayomi, bukan justru malah dijauhi dan dikucilkan”, kata Lukman Hakim Saifuddin di sela acara Gebyar Kerukunan di Gedung Olahraraga (GOR) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Senin (18/12), dilansir dari Republika.co.id.

Akar Masalah LGBT

Jika LGBT ini jelas bukan fitrah, tetapi penyimpangan, bahkan kemudian menjadi strategi penjajah untuk mempertahankan penjajahannya, inilah akan permasalahan:

Pertama, LGBT ada karena fakor ideologis. Ketika Kafir penjajah mengatakan jumlah pertambahan populasi dunia meningkat lebih cepat, kebutuhan manusia pun tak terbatas, sementara alat pemuasnya terbatas.

Untuk mengatasi itu, maka pertumbuhan penduduk di dunia harus dihentikan, atau setidaknya dikurangi dengan menganjurkan LGBT. Kedua, LGBT terjadi karena kesalahan pendidikan, baik di dalam maupun di luar rumah.

Ketiga, LGBT juga bisa terjadi karena lingkungan, pergaulan, bacaan, dan tontonan yang hadir ditengah masyarakat.

Islam, Solusi Hakiki Memberantas LGBT

Maka penyelesaian LGBT harus menyeluruh dan sistemik. Negara Islam yang menjadikan Islam sebagai ideologinya jelas tidak akan mentolelir LGBT. Faktor ideologis yang menjadikan sebab lahirnya LGBT pun jelas tidak ada.

Selain itu, dalam pendidikan di keluarga yang disinari dengan cahaya Islam, maka sejak dini anak sudah dididik dengan Islam, dan hukum-hukumnya.

Ketika Penyimpangan itu terjadi, negara Islam dengan tegas menghukum pelakunya. Karena, seluruh jalan dan celah sudah ditutup rapat, maka mereka yang menyimpang dalam kondisi seperti ini dianggap nekad.

Bagi lesbian dan gay bisa dihukum dengan hukuman mati. Bisa dengan cara dijatuhkan dari bangunan tertinggi, atau dengan cara yang lain. Sedangkan bagi transgender, jika tidak sampai melakukan sodomi dengan sesama laki-laki, atau dengan sesama perempuan, maka dia akan dikenai hukuman ta’zir.

Dengan cara seperti inilah, maka LGBT ini akan bisa diberantas hingga ke akar-akarnya. Pada saat yang sama, LGBT yang dijadikan pintu penjajah untuk melemahkan negara pun bisa ditutup rapat-rapat.[MO/ge]

Posting Komentar