Oleh: Indah Shofiatin (Alumni FKM Unair, Penulis Lepas)

Mediaoposisi.com-Yaman hancur lebur. Negeri yang dulunya kaya raya ini direjam perang berkecamuk tak berkesudahan. Tiga tahun sudah warga sipil Yaman menjadi bulan-bulanan mesiu, bom dan rudal yang berjatuhan dari langit. 10 ribu orang tewas (www.independent.co.uk), nyawa mereka menjadi tumbal huru-hara yang tak pernah menjadi sorotan media mainstream.

Sementara sebanyak 13 juta orang di Yaman menghadapi kelaparan, dalam bencana yang disebut ‘kelaparan terburuk yang pernah terjadi di dunia selama 100 tahun’ oleh PBB. Bayangkan! Penduduk Yaman yang dulunya hidup berkecukupan harus terjatuh dalam kasus gizi buruk terbesar sepanjang seabad sejarah. Bayi-bayi sampai terlalu lemah untuk menangis, bahaya kelaparan jauh lebih besar dari apapun yang pernah dilihat kaum profesional di bidang ini selama masa kerja mereka (www.bbc.com). 

Kasus kolera, difteri dan penyakit menular lain tak terbayangkan menyerang ribuan anak-anak. Kesalahan apa yang membuat mereka layak mendapat tragedi sekejam ini? Alkisah, media yang sempat memberikan kolomnya untuk membahas perang Yaman selalu menuturkan bahwa Yaman sedang terjatuh dalam perang saudara. Yaman mengalami kehancuran akibat eskalasi konflik yang meningkat pada 2015, ketika koalisi yang dipimpin Arab Saudi melakukan intervensi militer setelah kelompok pemberontak Houthi menguasai sebagian besar wilayah barat negeri itu (www.bbc.com). Dan kisah ini berputar di seputar titik ini saja.

Yang menjadi pertanyaan besar, mengapa Houthi yang menurut sebagian sumber didukung Iran, ingin menggulingkan pemerintahan Yaman saat itu, namun yang menggempur Yaman malah Arab Saudi? Bukan Arab Saudi sendirian namun bersama dengan 9 negara lainnya mulai menggempur ibukota Yaman terdahulu, Sanaa, dalam sebuah perang bertajuk ‘Operasi Badai Yang Menentukan’ mulai 2015. Reuters bahkan mengabarkan, pesawat tempur dari Mesir, Maroko, Yordania, Sudan, Kuwait, UEA, Qatar dan Bahrain juga ambil bagian dalam operasi militer ini (www.wikipedia.org). Begitu pula Pakistan.

Padahal hampir semua negara yang terlibat adalah negara dunia Islam. Mengapa muslim yang bersaudara bukan saling menyelamatkan, malah bersekutu dan menyebabkan bencana kemanusiaan terbesar sepanjang sejarah bagi penduduk muslim Yaman? Drama semacam apa ini? Tak lain karena sutradara sebenarnya dari perang berdarah Yaman ini bukanlah Iran, Arab Saudi, Houthi atau siapapun yang tersebut di muka. Mereka para aktor, yang menggadaikan darah muslim Yaman demi seonggok kekuasaan dunia dan keuntungan segelintir golongan mereka. Mereka para penguasa pengkhianat, yang membunuhi saudara seakidahnya dan mengguncang tanah Yaman demi kilau fatamorgana kekayaan dan kekuasaan.

Induk dari perang Yaman justru berasal dari konflik Anglo-Amerika. Perang ini adalah demi kepentingan tuan penjajah agung mereka, Amerika dan Britania (Inggris). Kedua negara ini telah lama berduel memperebutkan pengaruh dan sumber daya alam Yaman. Ditambah kompetisi lokal antara Saudi Arabia dan Uni Emirat Arab. Saudi Arabia membangun pipa minyak bumi di teritori Mahra untuk mengirimkan minyak ke Laut Arab, sementara UEA menguasai Yaman bagian selatan dan proyek gas di Balhaf. Karena itulah, Yaman terjepit oleh keserakahan dua majikan penjajahnya, USA dan Inggris. Tak peduli seberapa banyak pun manusia yang mati karena perang, kelaparan dan penyakit. Mati menjadi tumbal keserakahan kedua negara maju penjajah itu demi berebut petak lahan jajahan terbesar di Yaman. Di sisi lain, warga Yaman juga menjadi korban keserakahan Arab Saudi dan negara gabungannya yang berduel dengan Houthi didukung Iran di atas panggung, tanpa peduli sama sekali dengan nasib rakyat yang menjadi tumbal. Lagi-lagi, semua tragedi hanyalah tumbal atas nama keserakahan.

Inilah fakta nasib kaum muslimin di tengah hempasan keganasan kapitalisme dunia. Yaman, sebagaimana negara lain yang juga menjadi korban, akan selalu bernasib serupa. Tak akan ada resolusi menyelesaikan dari perang dan operasi gabungan apapun yang digelar di atas panggung. Tak akan pula ada hasilnya bila perang itu dibawa ke atas meja perundingan, membicarakan nasib jutaan warga muslim dalam balutan jas rapi sambil makan-makan. Tak akan pernah ada perbaikan dari kondisi tragedi yang menguras air mata seluruh muslim dunia ini.

Tak akan ada, sebelum milyaran warga muslim dunia ini menyadari bahwa sumber tragedi yang menimpa mereka adalah lenyapnya kekuatan kaum muslimin. Lenyap, hingga mudah diintervensi dan dijajah oleh negara kampiun kapitalisme dunia semacam Amerika Serikat atau Inggris. Tak berdaya dan mudah diperdaya, hingga muslim satu negeri dan muslim negeri lain mudah saja saling menembakkan senjata demi dunia. Terpecah belah dalam nasionalisme masing-masing negeri, hingga muslim Indonesia tak sadar atau tak bisa berbuat apa-apa saat saudaranya di Yaman kurus kering kurang makan dan kehilangan penghidupan. Itulah kita hari ini, muslim dunia, yang sangat menyedihkan dan terus menjadi tumbal keserakahan dan perebutan kepentingan jajahan.

Maka seharusnyalah kita segera sadar, bukan saatnya lagi kaum muslimin melemahkan diri. Sadarilah! Sumber kelemahan kita adalah tak adanya perisai dan benteng yang selama awal kemunculannya menjadi pelindung satu-satunya kaum muslimin. Itulah Khilafah Islam, benteng kaum muslimin seluruh dunia yang akan mengembalikan kekuatan dan kewibawaan Islam, dengan penerapan Islam seluruhnya di dalam negeri. Kekuasaan tunggal umat Islam yang akan menyatukan Yaman, Arab Saudi, Sudan, UEA, Pakistan, Turki hingga Indonesia. Yang akan menghancurkan seluruh musuh Islam, mereka yang selama ini memporak-porandakan negeri kaum muslimin demi ketamakan kepentingan mereka.

Itulah yang kita tunggu. Seorang Khalifah tunggal yang memimpin dengan ketakwaan dan maju menghantam siapa saja yang hendak menyakiti kaum muslimin, baik di Yaman maupun di belahan bumi umat Islam manapun. Dengan kehadirannya di tengah kita, umat Islam akan bersatu kembali dalam satu tubuh, saling menyokong dan mendukung dalam ketaaatan tanpa ada batasan semu sekat kenegaraan seperti hari ini. Perlindungannya akan membuat kita aman. Selayaknya penggembala yang menjaga gembalaannya dari serbuan serigala. Serigala bernama kapitalisme dan negara-negara penjajah yang menyokongnya, sumber malapetaka yang ditimpakan kepada Yaman dan dunia Islam seluruhnya.

Tunggu apa lagi, Saudaraku! Sambutlah perjuangan untuk menegakkan kembali dinullah dan martabatnya dalam Khilafah Islam ar-Rasyidah. Bergeraklah untuk menjemput pertolongan Allah demi wujudnya izzah dan keselamatan umat Islam. Ini tanggung jawab seluruh manusia yang mengaku beriman. Tanggung jawab ini tak menunggu nanti, namun saat kapanpun seruan ini datang kepadamu. Bergeraklah, maju dan bersatu karena Allah Taala. Maka pertolongannya akan semakin dekat hingga hari yang dijanjikan, munculnya seorang Khalifah di tengah kita, akan segera tiba.

Wa ma taufik illa billah.[MO/dr]

Posting Komentar