Oleh : Azizah Nur Hidayah
Pelajar, member Akademi Menulis Kreatif

Mediaoposisi.com-Seakan tak ada habisnya penderitaan rakyat Indonesia. Penderitaan yang terus menerus terulang setiap tahunnya. Kelaparan, kemiskinan, kekeringan, pengangguran. Berkali-kali pemerintah mencoba mencari solusi berbagai permasalahan tersebut, namun hingga saat ini belum ada jalan keluar pasti yang bisa menyudahi derita rakyat.

Di tengah-tengah carut marutnya Indonesia yang tidak berkesudahan ini, ternyata masih ada juga belahan dunia lain yang merasakan hal yang sama. Bahkan bisa jadi lebih darurat dibandingkan permasalahan di Indonesia. Salah satunya berada di Yaman.

Yaman mengalami krisis parah dalam lingkup kesehatan. Dimana banyak rakyat Yaman mengalami krisis kekurangan gizi sejak beberapa tahun terakhir. Menurut angka PBB, sekitar 85.000 anak-anak Yaman yang berusia kurang dari lima tahun telah meninggal karena kekurangan gizi sejak konflik di Yaman bermula pada 2015. (seramedia.org 23/11/18)

Angka yang sangat luar biasa besarnya. Mengingat bukan hanya krisis kekurangan gizi saja yang melanda rakyat Yaman. Namun juga krisis kelaparan serta kekurangan air.

Menurut data PBB, ketika konflik memasuki tahun keempat, sekitar 14 juta orang di Yaman – kira-kira setengah dari total penduduk negara itu beresiko kelaparan.(seramedia.org/2311/2018).

Bisa kita bayangkan seberapa menderitanya rakyat Yaman saat ini. Permasalahan yang tak berkesudahan terus-terusan menghantui mereka.

Indonesia pun mengalami permasalahan yang hampir sama dengan Yaman. Krisis-krisis yang tidak ada hentinya. Namun bukan berarti kita hanya fokus untuk menyelesaikan masalah dalam negeri sendiri. Sudah seharusnya kita juga memikirkan nasib dan permasalahan saudara-saudara muslim kita yang berada di Yaman. Permasalahan yang diakibatkan dari perang persaudaraan yang berada di bawah provokasi Barat.

“Perumpamaan kaum mukmin dalam sikap saling mencintai, mengasihi dan menyayangi, seumpama tubuh, jika satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh yang lain akan susah tidur atau merasakan demam.” [HR. Muslim]

Seorang muslim dengan muslim lainnya merupakan satu-kesatuan tubuh. Ketika salah satu bagian tubuh terluka, maka tubuh lainnya akan merasakan sakitnya juga. Namun berbeda saat ini. Dimana kaum muslimin dipecah belah, disekat-sekat satu dengan lainnya. Merasa bahwa permasalahan orang lain bukanlah urusannya. Terfokus hanya pada permasalahan individu masing-masing.

Padahal sudah menjadi keharusan kita untuk perduli dan mengurusi permasalahan-permasalahan, serta krisis-krisis yang dialami saudara-saudara kita di belahan bumi lainnya. Menolong dengan penuh kasih sayang dan rasa peduli sama seperti kita memperlakukannya kepada saudara sendiri. Karena kaum muslim adalah saudara. Saudara seiman dan seakidah yang disatukan karena ketaqwaan kepada Allah ta’ala.[MO/an]

Posting Komentar