Oleh. Sofia Ariyani, SS (Member Akademi Menulis Kreatif)


Mediaoposisi.com-Tak kenal maka tak sayang. Begitulah pepatah mengatakan jika kita tidak mengerti atau memahami sesuatu hal/benda maka kita tidak akan tahu arti sebenarnya dan tidak dapat menghargai hal/benda tersebut. Itu pula yang terjadi dengan kata "Khilafah". Dulu, kata "Khilafah" begitu asing di telinga masyarakat, lambat laun seiring dengan dakwah Hizbut Tahrir dalam memahamkan dan mengenalkan kepada masyarakat kata "khilafah" sudah mulai familiar di telinga masyarakat. Hizbut Tahrir mengenalkan kembali sistem hidup yang berasal dari Tuhan Sang Maha Pencipta, Allah SWT.

Dikenalkan kembali karena berabad-abad lamanya yaitu 13 abad memimpin dunia sistem Khilafah ini berjaya dan mampu membuat manusia juga alam selamat dari kedzaliman. Mengingat tahun 1924 adalah tahun runtuhnya masa kekhilafahan yang terakhir di Istanbul-Turki, Khilafah Turki Utsmani yang diruntuhkan oleh antek-antek kafir Mustafa Kemal Attaturk. Hampir 1 abad umat Islam tanpa pemimpin, umat Islam terpecah, terombang-ambing, ditindas, dibantai, dilecehkan dan dihina.

Oleh karenanya organisasi dakwah Hizbut Tahrir di seluruh dunia mendakwahkah kepada umat untuk kembali kepada Islam, yaitu menerapkan kembali Khilafah Islamiyah. Sebagaimana bisyarah Rasul Saw:

تَكُوْنُ النُّبُوَّةُ فِيْكُمْ مَا شَاءَ ا للهُ أَنْ تَكُوْنَ ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اَنْ يَرْفَعَهَا ، ثُمَّ تَكُوْنُ خِلآفَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ،
فَتَكُوْنُ مَا شَاءَ اللهُ اَنْ تَكُوْنَ ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ، ثُمَّ تَكُوْنُ مُلْكًا عَاضًا ، فَتَكُوْنُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ
تَكُوْنَ ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ، ثُمَّ تَكُوْنُ مُلْكًا جَبَّرِيًّا ، فَتَكُوْنَ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُوْنَ ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ
أَنْ يَرْفَعَهَا ، ثُمَّ تَكُوْنُ خِلآفَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ، ثُمَّ سَكَتَ

“Periode kenabian akan berlangsung pada kalian dalam beberapa tahun, kemudian Allah mengangkatnya. Setelah itu datang periode khilafah aala minhaj nubuwwah (kekhilafahan sesuai manhaj kenabian), selama beberapa masa hingga Allah ta’ala mengangkatnya. Kemudian datang periode mulkan aadhdhan (penguasa-penguasa yang menggigit) selama beberapa masa. Selanjutnya datang periode mulkan jabbriyyan (penguasa-penguasa yang memaksakan kehendak) dalam beberapa masa hingga waktu yang ditentukan Allah ta’ala. Setelah itu akan terulang kembali periode khilafah ‘ala minhaj nubuwwah. Kemudian Nabi Muhammad saw diam.” (HR Ahmad; Shahih).

Setelah keruntuhannya kegemilangan itu dibuat seolah tidak pernah ada di dalam Islam. Islam dicitrakan buruk, dan saat ini di dalam sistem Kapitalisme kata khilafah dimonsterisasi, dialienisasi, digambarkan sistem yang mengerikan, menakutkan, meneror bahkan membunuh. Bagi yang mendakwahkah “khilafah” maka dicap sebagai radikal, ekstrimis, fanatik dan teroris. Tujuan mereka adalah agar masyarakat bersikap apriori, antipati terhadap dakwah yang menyerukan penerapan kembali sistem Islam, Khilafah Islamiyah. Para kapitalis sadar jika Islam bangkit kembali maka segala kepentingannya terancam. Maka dari itu jauh-jauh hari setelah runtuhnya Khilafah Turki Utsmani umat Islam dicekoki tsaqofah-tsaqofah barat, pintu-pintu ijtihad ditutup, bahasa Arab ditinggalkan, para muslimahnya dikenalkan pakaian ala barat, hingga umat Islam meninggalkan ajaran Islam. Dan kondisi itu tengah berlangsung hingga saat ini, di mana umat Islam merasa asing
dengan ajaran-ajaran Islam sendiri.

Namun beberapa tahun belakangan ini umat mulai sadar akan butuhnya sistem pengganti demokrasi-sekuler karena semakin tinggi kerusakan yang terjadi di Indonesia maupun dunia akibat sistem demokrasi-sekuler anak dari Kapitalisme yang bobrok. Itu terlihat bagaimana gencarnya gerakan “hastag ganti presiden” yang mewakili kekecewaan dan ketidakpercayaan masyarakat terhadap rezim sistem ini, banyaknya kerusakan dan bencana yang terjadi di darat, udara maupun di lautan. Dan krisis di berbagai bidang kehidupan. Tidak cukup hanya mengganti presiden, tapi mengganti sistem. Adalah peluang bagi Islam untuk menggantikan sistem bobrok ini.

Dan orang-orang kafir pun sadar akan hal ini maka mereka berusaha menghadang dakwah Islam dengan menciptakan narasi jahat, mempersekusi para pengemban dakwahnya, membuat framing “organisasi terlarang” bagi kelompok yang menyeru kepada ide Khilafah. Narasi-narasi jahat itu misalnya, adanya tuduhan “khilafah bukan ajaran Islam” nyatanya Khilafah banyak dibahas di dalam kitab-kitab klasik para ulama terdahulu dari berbagai mahzab.

Mereka sepakat bahwa mewujudkan Khilafah adalah wajib. Orang-orang kafir dan munafik menganggap bahwa “Khilafah tidak relevan, tidak memiliki sistem baku bahkan utopis”, nyatanya Khilafah pernah berlangsung selama 13 abad dengan kekhasan yang berbeda dari sistem pemerintahan yang lain. Dan urgensi masyarakat terhadap sistem alternatif pengganti sistem yang rusak dan merusak ini sangat tinggi.

Ghiroh umat pun semakin tinggi ketika ajaran-ajaran Islam dikriminalisasi semisal bendera tauhid dan tuduhan buruk Khilafah, yang justru memunculkan rasa ingin tahu terhadap bendera tauhid dan Khilafah di kalangan masyarakat. Dan gelombang kecaman yang tinggi terhadap insiden pembakaran bendera tauhid beberapa waktu lalu tidak hanya terjadi di Indonesia pun di luar negeri, menandakan bahwa umat Islam mulai menggeliat.

Khilafah adalah Sumber Kebaikan. Khilafah merupakan institusi pelaksana syariah Islam. Bagi umat Islam penerapan syariah Islam adalah kebutuhan yang mendesak. Khilafah ibarat atap yang menaungi segala aktivitas di dalamnya, tanpa atap maka manusia dan aktivitasnya menjadi rusak. Hanya Khilafah satu-satunya model kekuasaan yang menjamin kemaslahatan di dunia dan di akhirat. Kebaikan Khilafah di antaranya tergambar dalam persaksian beberapa ulama yang hidup di masa kekhilafahan yang berbeda-beda.

Hanzhalah bin ar-Rabi’ al-Katib, sahabat sekaligus juru tulis Nabi Saw, misalnya. Sebagaimana dinukil oleh imam ath-Thabari, saat melihat fenomena sebagian orang yang ingin melengserkan khalifah Utsman bin ‘Affan karena hasutan seorang Yahudi Abdullah bin Saba, ia bersyair “Aku heran apa yang diributkan oleh orang-orang. Mereka berharap Khilafah segera lenyap.

Sungguh jika Khilafah lenyap, akan lenyap pula kebaikan yang ada pada mereka. Kemudian mereka akan menjumpai kehinaan yang sangat parah. Mereka seperti umat Yahudi dan Nasrani, sama-sama berada di jalan yang sesat.” (Tarikh ar-Rusul wa al-Muluk, 4/386) Abdullah Ibn al-Mubarak, seorang imam besar dari kalangan tabi’ut tabi’in, sebagaimana dinukil oleh imam Ibn Abdil Barr, menyatakan: “Jika bukan karena Khilafah, niscaya jalanan tidak akan menjadi aman, niscaya yang lemah di antara kita akan menjadi mangsa yang kuat.” (At-Tamhid li-ma fi al-Muwaththa min al-Ma ‘ani wa al-Asanid, 21/275).

Pemikir Barat yang jujur pun, Will Durrant mengakui keunggulan Khilafah di bidang ekonomi, dalam bukunya The Story of Civilization. Ia mengatakan: “Di bawah pemerintahan Islam, Asia Barat mencapai tingkat kemakmuran industri dan perdagangan yang tak tertandingi oleh Eropa Barat sebelum abad keenam belas.” Tentang toleransi dengan non-Muslim seorang sejarahwan Kristen, Thomas Walker Arnold, menuliskan: “Perlakuan terhadap warga Kristen oleh Pemerintahan Turki Utsmani—selama kurang lebih dua abad setelah penaklukan Yunani—telah memberikan contoh toleransi keyakinan yang sebelumnya tidak dikenal di daratan Eropa.” (The Preaching of Islam: A History of Propagation of The Muslim Faith, 134).

Inilah bukti Khilafah adalah sistem terbaik untuk kemaslahatan umat manusia, tidak hanya muslim tapi semua agama, juga terhadap alam semesta. Sudah sepatutnya umat Islam merindukan cahaya kegemilangan Islam dengan memperjuangkan kembalinya Khilafah Islamiyah ala minhaj nubuwah. Wallahu’alam bishawab.[MO/dr]

Posting Komentar