Aksi Guru Honorer menuntut kesejahteraan

Oleh: Siti Subaidah
(Pemerhati Lingkungan dan Generasi)

Mediaoposisi.com- Sedihnya dan sakit hati, inilah yang dirasakan oleh para guru honorer K2 yang  melakukan aksi  demo di depan istana kepresidenan, rabu 31 Oktober 2018 lalu. Bagaimana tidak, aksi mereka yang menuntut untuk bertemu dengan presiden menanyakan kejelasan nasib para guru honorer tidak mendapatkan respon.

Aksi yang dilakukan hingga harus menginap di depan istana tak jua mendapatkan hasil apa-apa alias nihil. Perlakuan buruk yang diterima oleh para guru honorer tersebut memberikan gambaran bahwa sebenarnya pemerintah tidak benar-benar memperhatikan nasib mereka.

Entah disadari atau tidak, sejatinya guru memiliki peran penting dalam membentuk dan menyiapkan generasi dimasa depan. Tanpa adanya peran guru di sekolah, besar kemungkinan kita akan memiliki generasi tak terdidik dan bermutu rendah.

Mereka yang bekerja setiap hari menggembleng anak-anak kita guna menjadi manusia yang bermanfaat kini dikesampingkan hak-haknya. Bukan kali ini saja aksi demo dilakukan bahkan dari bertahun-tahun yang lalu tapi nampaknya solusi yang diberikan kepada mereka hanya semu.

Ketika kita menengok sejarah, terutama.sejarah tentang islam. Disitu akan kita dapati bagaimana islam menempatkan posisi guru pada tempat yang mulia. Karena guru memiliki peran penting yaitu sebagai salah satu pilar pencetak generasi cemerlang bagi suatu bangsa.

Dalam islam, istilah guru tidak hanya melekat pada orang yang mengajar  disekolah saja tetapi maknanya lebih luas atau universal yakni orang yang mengajarkan ilmu dan menuntun pada kebaikan.

Jadi bisa siapa saja, seperti guru mengaji, guru les, guru silat, ulama, atau siapapun selama yang diajarkan menuntun pada kebaikan. Kemuliaan seorang guru juga tertuang dalam salah satu hadist yakni;

“Sesungguhnya Allah, para malaikat, dan semua makhluk yang ada di langit dan di bumi, sampai semut yang ada dilubangnya dan juga ikan besar, semuanya bershalawat kepada muallim (orang yang berilmu dan mengajarkannya) yang mengajarkan kebaikan kepada manusia” (HR. Tirmidzi)

 Selain sebagai pencetak sebuah generasi, islam menempatkan guru sebagai posisi yang mulia karena guru merupakan  perantara penyampai ilmu, yang mana ilmu semuanya berasal dari Allah. Terlebih seorang muslim memiliki kewajiban menuntut ilmu sepanjang hayat. Kewajiban tersebut hanya akan terlaksana jika ada penyampainya atau perantaranya.

Selain mengajarkan ilmu, guru juga bertugas mendidik murid-muridnya menjadi manusia beradab dan berakhlaq. Menanamkan kepribadian islam dalam diri anak muridnya merupakan hal yang wajib. Sebab ketinggian ilmu jika tidak di barengi dengan kepribadian yang baik hanya akan memunculkan orang-orang yang pandai tapi tak berakhlaq, misalnya pandai tapi koruptor, atau pandai tapi membobol bank (mencuri), pandai tapi tak berbakti pada orang tua dan lain sebagainya.

Padahal dalam islam, ilmu harus senantiasa membawa kebaikan bukan kemudharatan. Oleh karena itu penting sekali mewujudkan kepribadian islam dalam diri seseorang dan disinilah tugas dan peranan seorang guru.

Guru mendapat apresiasi yang tinggi dalam islam yakni dengan pemberian gaji yang melampaui kebutuhannya. Diriwayatkan dalam sebuah hadist bahwa dimasa Umar bin Khattab ada tiga orang guru yang mengajar anak-anak di Madinah. Masing-masing dari mereka di beri upah 15 dinar (1 dinar = 4,25 gram emas).

Bisa dibayangkan bagaimana sejahteranya guru ketika islam diterapkan. Alhasil, ketika seorang guru telah terpenuhi kebutuhannya,maka ia akan fokus dalam mendidik murid-muridnya, tanpa pusing untuk memikirkan tambahan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Guru akan fokus dalam pekerjaannya mendidik anak-anak sehingga output yang dihasilkan tak hanya sekedar generasi yang menguasai ilmu kehidupan (teknologi dan sains) dan tsaqafah islam (pemahaman tentang syariat islam) tetapi juga dilengkapi dengan kepribadian yang luhur (syaksiyah islamiyah).

Islam sangat memperhatikan mutu pendidikan, oleh sebab itu sebuah negara dalam bingkai islam akan mewujudkannya dengan memperhatikan sampai ke hal-hal yang terkecil, baik itu kualitas guru maupun sarana dan  prasarana penunjang seperti buku, perpustakaan, laboratorium, toko buku, pusat penelitian, ruang seminar, pelatihan guru, asrama sekolah, perumahan staf pengajar dan lain-lain.

Semua di berikan secara gratis tanpa ada biaya pungutan termasuk didalamnya penggratisan biaya sekolah hingga ke berbagai jenjang atau tingkatan. Maka bukan hal yang mengherankan ketika islam dimasa kejayaanya menghasilkan orang yang faham agama dan menguasai berbagai bidang ilmu.

Tengoklah Ibnu Sina yang menjadi bapak kedokteran dunia dan telah hapal Al Quran diusia 5 tahun, Al Batani yang menemukan persamaan trigonometri, Al Kharizmi penemu teori Al jabar dan masih banyak lagi. Kesemuanya merupakan hasil dari didikan seorang guru yang tak hanya berkualitas tapi mengedepankan visi dan misi pendidikan dalam islam.

Oleh sebab itu, guru di era sekarang membutuhkan periayahan atau pengurusan pendidikan ala islam. Karena ketika syariat islam dijalankan nasib guru jelas akan sejahtera, dan yang paling utama adalah generasi yang dihasilkan adalah generasi shalih (paham agama) dan  mampu bersaing dengan negara lain.

Untuk mewujudkannya memang tidaklah mudah diera sekarang akan tetapi bisa kita lakukan dengan berjuang dan ikut andil menjadikan syariat islam sebagai pengatur kehidupan. Dengan begitu tidak akan ada ketimpangan nasib guru yang terjadi seperti saat ini. Wallahu a'lam bishawab

Posting Komentar