Oleh : Rosmiati, S.Si

Mediaoposisi.com-Indonesia saat ini berada di posisi 16 sebagai Negara ekonomi terbesar di dunia. Hasil yang perlu diapresiasi namun belum dapat membawa kesejaterahan bagi masyarakatnya.

Sebagaimana Data Badan Pusat Statiska bahwa angka penduduk miskin di Indonesia pada masa pemerintahan saat ini tidaklah kecil dimana sekitar 9,82%. Atau setara dengan 26 juta penduduk.

Total penduduk dewasa di Indonesa mencapai 170,22 juta jiwa dengan kekayaan mencapai US$ 1.581 miliar atau setara dengan 22.700 triliun. Sayanganya,  1 % orang terkaya di Indonesia menguasai 46% kekayaan penduduk Indonesia.

Bisa terlihat bahwa ada pemusatan harta kekayaan pada segelintir orang. Ibarat ada yang paling kaya dan apa pula yang paling miskin. Inilah mengapa ketimpangan sosial di negeri ini kian meningkat dari sebelumnya.

Pada tahun ini indeks ketimpangan berada di level 6 dari skala 0-10 lebih tinggi dari sebelumnya di 5,6.  Pendapatan minimum masyarakat untuk memenuhi standar hidup nasional pada maret 2018 mencapai 401.220/kapita/bulan.

Pertanyaanya kemudian, apakah semua masyarakat Indonesia mampu mendapatkan besaran nominal tersebut pada setiap bulannya? Bagaimana dengan mereka yang penghasilannya hanya Rp.10.000,

Rp 50.000 dan bahkan tidak mendapatkan sama sekali pemasukan pada setiap harinya? Jelas ini menjadi sebuah masalah serius bagi negeri ini.

Senada dengan itu berdasarkan data BPS 2017, sebanyak 7,04 juta angkatan kerja tidak memiliki pekerjaan sama sekali. Penguasa saat ini pun belum mampu membuktikan janjinya ketika diawal pemerintahan bahwa akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 7%.

Terbukti sampai pada tahun 2017 kemarin hanyalah 5,07% saja. Belum menyentuh standar awal yang ditentukan dan dijanjikan.

Seiring dengan itu nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pun naik derastis hingga menempus angka Rp.15.000, ditambah lagi dengan utang negera yang sudah diambang batas dengan bunga yang tidak sedikit. Menambah dilematis perekonomian kita.

Alhasil rakyat semakin susah dan menderita belum lagi dipundak mereka ada tanggungan untuk membayar pajak, asuransi kesehatan (BPJS) dan lain-lain. Pada akhirnya rakyat harus memutar otak sembari berpikir mencari solusi dan jalan keluar sendiri untuk mendapatkan pundi-pundi rupiah.

Meskipun yang didapat hanyalah sebatas untuk mengisi perut saja. Bahkan tak sedikit mereka yang makan nasi basih dan mencari sisa-sisa makanan pada tong-tong sampah.

Itulah sederet fenomena di negeri ini. Negeri yang kaya akan hasil alamnya. Namun, kondisi rakyatnya  kian memprihatinkan  seakan mereka hidup dinegeri yang gersang dan tak subur, miskin dari hasil alam.

Padahal kapal-kapal tengker keluar masuk membawa hasil alamnya sementara mereka makan pun sulit. Maka pantas kita bertanya, kemanakah hasil alam negeri ini?

Sistem ekonomi Kapitalis biang kehancuran

Sistem ekonomi kapitalislah yang harus bertanggung jawab dengan semuai ini. Ia harus membayar mahal kerugian yang dialami masyarakat Indonesia.

Harus disadari bahwa penerapan sistem ekonomi ini adalah bentuk penjajahan negara pemilik modal untuk tetap mengeruk hasil alam negera-negara tertentu yang memang kaya akan hasil buminya.

Sebagaimana ungkapan Elvan Syaputra pada media detiknews 28/04/06 bahwa Amerika sengaja menciptakan perang ekonomi untuk mengancurkan dunia dan menguasai dunia dan juga ingin memerangi kaum muslimin di dunia.

Semua dibuat agar dunia tidak berdaya dan semakin terpuruk. Selain itu penetapan mata uang yang tidak dibekali dengan emas membuat negeri-negeri yang menerapkan uang kertas sebagai alat tukar terancam, ketika dolar mengalami guncangan.

Diikuti dengan penerapan sistem ekonomi ribawi. Sistem kapitalisme pun mengesampingkan segalah sesuatu yang harusnya menjadi kepemilikan umum (hak rakyat) semua malah diberikan kepada kebijakan pasar dan pemilik modal.

Sistem ini pun menjunjung tinggi sifat individualisme. Dimana rakyat hanya akan memikirkan kepuasan pribadi tanpa melihat derita orang lain. Terbukti dengan besarnya ketimpangan sosial dan gap sosial dimasyarakat.

Maka pantas jika hasil alam yang melimpah tidak berbanding lurus dengan tingkat kesejateraan masyarakat. Sebab hasil alam itu tidak dikembalikan kepada mereka melainkan diberikan kepada asing yang memiliki modal tadi.

Olehnya itu, jika kita menginginkan agar kemakmuran membersamai negeri ini maka sistem kapitalisme ini harus ditolak, dicukupkan ada dan mengatur kehidupan ekonomi bangsa ini.

Sistem ekonomi Islam adalah solusi

Islam adalah sebuah agama yang paripurna. Tidak semata mengatur urusan ibadah kepada sang pencipta tetapi juga mengatur hubungan antara sesama manusia dalam kehidupan dengan tujuan agar tercapai kebahagian hidup didunia dan akhirat.

Permasalahan yang kian menerpa ummat saat ini dikarenakan tidak terterapkannya aturan yang pas dan tepat untuk mengurus mereka. Sekularisme dengan sistem ekonomi kapitalisnya yang jelas tidak berasal dari islam melainkan hasil pemikiran manusia yang secara kodratnya juga lemah.

Menjadi penyebab keterpurukan melanda negeri ini. Dan harus dipikirkan secara mendalam juga bahwa ini merupakan produk barat yang mana mereka sangat anti dan tidak paham terhadap islam.

Bagaimana bisa kehidupan kaum muslimin diatur dengan seperangkat aturan/hukum yang dirilis oleh orang-orang diluar islam. Jelas tidak bisa.

Maka persoalan ekonomi, kemiskinan, dan masalah lainnya ini harus dipandang sebagai masalah sistemis. Tidak cukup dengan melakukan perbaikan yang hanya berisfat parsial semata. Permasalahan ini hanya dapat teratasi dengan menerapkan sistem ekonomi Islam.

Yang telah terbukti keunggulannya dimana dimasa silam negeri ini pun pernah menerapkannya dan terbukti kesejateraan membersamai masyarakat nusantara kala itu jauh sebelum penjajah datang. Sistem ekonomi ini pula  meniadakan transaksi ribawi.

Bahkan itu diharamkan. Menetapkan mata uang dinar dan dirham yang telah terbukti afektif dalam penerapannya jauh dari krisis moneter.

Selain itu, dalam Islam hasil alam ditetapkan sebagai kepemilikan umum (masyarakat) disana ada hak rakyat, mereka berhak untuk mendapatkannya kembali dengan harga yang murah tidak memberatkan sebagaimana sabda Rasulullah Saw :

“kaum muslimin berserikat dalam tiga hal: air, padang gembalaan dan api harga ketiganya adalah haram (HR Ibnu Majah).

Maka dalam penerapannya, pengolahan hasil alam tidak mungkin akan diberikan kepada korporasi pasar. Jika telah demikian maka sangat pasti kemiskinan, ketimpangan sosial tidak akan dijumpai dalam kehidupan.

Dalam islam pun rakyat akan dibina untuk tidak berlebih-lebihan dalam membelanjakan hartanya. Bahkan dianjurkan untuk bersedekah. Saling berbagi dan bahkan berlomba-lomba untuk menyedehkakan sebagaian hartanya kepada mereka yang kurang mampu. 

Sehingga tidak akan ada gap sosial dalam kehidupan. Pemimpin pun akan benar-benar mengurus dan mengatur kehidupan rakyatnya sebab muncul rasa takut didalam hatinya karena kelak ia akan bertanggung jawab dihadapan sang ilahi robbi atas apa yang kini ia pimpin.

“Dan imam yang memimpin manusia adalah laksana seorang penggembala, dia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang dipimpinnya (HR.Muslim)”.

Ia akan dituntut jika semasa kepemimpinanya rakyat malah susah dan menderita. Sebab Rasul pun berdoa Do’a.

“Ya Allah, siapa saja yang menjadi pengatur urusan umat ini, lalu dia bebani mereka, maka bebanilah dia; dan siapa saja yang menjadi pengatur urusan umat ini, lalu dia beri mereka kemudahan, maka berilah dia kemudahan(HR Muslim)”[MO/gr]


Posting Komentar