Oleh : Erna Kusuma Wardani

Mediaoposisi.com-Sebulan terakhir kalimat Tauhid memenuhi jajaran media sebagai highlight topik terkini yang sangat sensitif kaitannya dengan umat Islam.

Bagaimana tidak bermula dari video pembakaran bendera hitam berlafadzkan Tauhid (Ar-Royyah) atau umat Islam meyakini sebagai bendera Rasulullah oleh anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser).

Banser sendiri merupakan badan otonom NU dari GP Ansor (Gerakan Pemuda Ansor). Bertugas dalam pengamanan, menjalankan misi kemanusiaan di berbagai daerah di Indonesia. (https://id.m.wikipedia.org/wiki/Barisanansorserbaguna).

 Pembakaran Bendera Rasulullah itu menimbulkan reaksi besar terhadap umat Islam. Umat sendiri menganggap pembakaran itu merupakan suatu pelecehan terhadap Bendera Rasulullah saw. dan penistaan terhadap agama.

Umat Islam yakin bahwasannya kemenangan Islam akan diraih dari ditinggikannya Kalimat Tauhid oleh sebab itu umat selalu meninggikan dan menjaga Bendera Rasulullah saw.

Yang tak kalah mengejutkan pembakaran Bendera dilakukan oleh pemuda-pemuda Muslim, kendati demikian mereka terlihat sangat bangga dan angkuh dengan diiringi lagu sembari membakar Bendera.

Tak ada umat Islam yang tidak akan geram menyaksikan hal demikian. Setelah diusut oleh aparat berwajib bahwa mereka melakukan pembakaran tersebut atas perintah atasan mereka yang tidak mengizinkan adanya bendera lain kecuali bendera Merah Putih yang ada pada acara Hari Santri Nasional.

Menelaah lebih dalam atas peristiwa tersebut bahwasannya tindakan itu merupakan tindakan paling keji sepanjang zaman.

Rasulullah dan para shahabat sangat menjunjung tinggi dan memegang erat Bendera Tauhid agar tidak terjatuh tentunya mereka selalu meninggikan dan menggenggam erat, karena jatuhnya bendera Tauhid pertanda kehancuran dan kekalahan menimpa Umat.

Sebagaimana yang dilakukan oleh para shahabat terdahulu ketika ditunjuk sebagai panglima perang oleh Rasulullah mereka akan menjaga dengan segala upaya bahkan nyawa menjadi taruhan.

Persis yang dilakukan oleh Ja’far pada perang Mut’ah, Ja’far bertugas menggantikan Zaid ketika Zaid syahid.

Saat Ja’far menggantikan Zaid, dia menjaga Bendera Tauhid dengan sangat ketat bahkan harus merelakan kedua lengannya terputus oleh tebasan pedang musuh dan itu tidak menghalangi Dia untuk menang.

Tidak kekurangan akal Ja’far menjaga Bendera Tauhid dengan menahan Bendera itu dengan sisa lengan dan dadanya.

Segala penjagaan dan perjuangan agar Kalimat Tauhid selalu ditinggikan tak lepas dari esensi yang dibawa Kalimat tersebut. Umat Muslim mengatakan Kalimat Tauhid merupakan kunci Syurga, kunci ini wajib dijaga dan dipelihara agar terpancar pada diri yang membawanya.

Dan inilah yang dibawa Rasulullah hingga melahirkan peradaban Agung yang disebut Khilafah. Atas Kalimat ini manusia menjadi tunduk terhadap fitrahnya dan tidak membiarkan nafsunya berkelana bebas, kedaulatan Allah terpancar melalui penerapan syari’at-Nya.

Tidak ada peradaban yang paling mulia dan sempurna yang disebabkan oleh Kalimat Tauhid. Rasa yang diberikan setelah diikrarkan kalimat ini tidak lain adalah rasa Islami yang kental.

Demikian halnya 13 abad lamanya Islam dijadikan sebagai peradaban dunia yang termahsyur diseluruh penjuru dunia, tidak ada referensi keilmuan, pendidikan, teknologi pada masa itu kecuali peradaban Islam atau disebut dengan kekhilafahan Islamiyyah.

Akan tetapi, era ini merupakan era yang paling kelam sepanjang ideologi Islam tidak ditegakkan. Penistaan terhadap Islam muncul silih berganti menjadi hal yang lumrah, dan yang tak kalah keji hukum atas kejahatan tersebut seakan membeku dan pemerintah tidak mau dan mampu untuk mencairkan.

Ketidak tegasan Pemerintah melahirkan kembali dan kembali penista yang semakin ulung dalam penistaan.

Ketiadaan Islam sebagai ideologi melahirkan manusia-manusia munafik dan menjual agama atas nama keberbedaan dan kekayaan. Semakin lama Islam ditegakkan maka semakin rusak generasi manusia yang berpikir dan bertingkah sesuai Islam.

Ikrar Kalimat Tauhid dalam dirilah yang akan mampu mengembalikan peradaban Mulia itu, menjadikan Islam satu-satunya tolak ukur terhadap semua problema-problema di tengah Umat tentunya dalam naungan Daarul Islam atau Khilafah Islam yang menjunjung tinggi syari’at Islam dalam penerapannya. [MO/gr]



Posting Komentar