Oleh : Indah Ummu Izzah
"Pemerhati Anak"

Mediaoposisi.com-Hari anak universal baru saja diperingati. Di lansir dari TribunNews.com 20/11/2018, bahwa Hari Anak Universal yang diperingati setiap tanggal 20 November ini diresmikan pada tahun 1954 oleh United Nations atau Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB). Setelah penetapan Hari Anak Universal pada tahun 1954, kemudian PBB mengadopsi atau menerapkan berbagai hak-hak anak yang diatur dalam berbagai aturan.

Hak-hak itu antara lain mendapat perlindungan dan berbagai fasilitas, serta tidak dibedakan berdasarkan penampilannya. Anak-anak juga harus mendapatkan fasilitas kesehatan yang baik dan mendapatkan pendidikan yang baik.

Namun kesadaran tentang hak anak yang dicetuskan PBB tidak berbanding lurus dengan penderitaan anak-anak diberbagai belahan dunia. Khususnya dinegeri-negeri kaum muslim. Tengoklah penderitaan anak-anak di Yaman.

Mereka menjerit karena kelaparan. Terpapar oleh ganasnya konflik yang berkepanjangan di negaranya. Menurut data dari UNICEF bahwa setidaknya 462.000 anak-anak menderita Severe Acute Malnutrition (SAM) kekurangan gizi akut. Peningkatan drastis jumlah anak-anak di Yaman yang menderita SAM ini hampir 200 persen sejak 2014, sementara itu sisanya sekitar 1,7 juta anak-anak menderita Moderate Acute Malnutrition (MAM), kekurangan gizi tingkat sedang.

Bagaimana pula dengan nasib anak-anak di tenda-tenda pengungsian Suriah, anak-anak Rohingya. Penderitaan yang dialami anak anak Palestina, Uighur. Apa yang mereka rasakan saat ini. Mereka menangis dalam tawa. Bermimpi pulang kerumah dengan segala kenyamanannya. Merindukan orangtua yang sudah terenggut nyawanya oleh peluru penjajah. Jangankan bermimpi indah, hanya sekedar memejamkan mata saja sangat sulit mereka lakukan. 

Alih-alih mendapatkan hak anak, mereka justru terpapar oleh ganasnya peperangan yang berkepanjangan. Uluran tangan kemanusian tidak mampu menghapus luka dalam batin. Yang mereka butuhkan adalah kebebasan. Bebas berada dalam dunia anak-anak. Dunia tanpa beban, dunia permainan yang penuh suka cita dan canda tawa. Dunia yang menjadi tempatnya belajar untuk lebih dewasa, belajar berempati, berbagi dan bekerja sama dengan teman sepermainan. Dunia belajar untuk mengenal banyak hal.

Tapi rintihan anak-anak di wilayah konflik tak mampu membendung kesombongan para penjajah barat. Mereka terus saja menanamkan hegemoni mereka ditanah jajahan. Bukan kedamaian yang mereka suarakan tapi justru penindasan dan penghancuran.

Genosida pun terus.terjadi. Darah anak-anak pun tumpah di tanah Palestina, Suriah, Rohingya dan tanah kaum muslimin yang lain. Seolah rasa takut akan kebangkitan umat Islam menjalar dalam darah mereka. Tanah diluluhlantakkan dan generasinya pun di bantai tanpa peri kemanusiaan.

Konflik yang berkepanjangan menjadi penyebab kelaparan anak-anak Yaman. Dan penderitaan anak-anak di negeri-negeri muslim lainnya. Mereka tidak hanya membutuhkan aksi kemanusiaan semata, kiriman bantuan makan dan obat-obatan. Apalagi hanya sebuah pernyataan mengutuk atau mengecam dari negeri muslim yang lain.

Anak-anak korban perang di Yaman, Suriah dan Palestina. Anak anak korban penindasan rezim kafir di Rohingya dan Uighur. Begitupun anak-anak di negeri-negeri muslim yang lain. Mereka membutuhkan pasukan pembebasan. Pasukan yang akan merebut tanah mereka kembali, yaitu pasukan kaum muslimin.

Kembali kepada Islam adalah satu-satunya solusi tuntas. Islam adalah agama yang sempurna. Agama yang memiliki seperangkat aturan untuk menyelesaikan berbagai problematika umat.


Posting Komentar