Oleh : Aldzikratul Rachma, A. Md.Kom 
(Aktivis Akademi Menulis Kreatif)

Mediaoposisi.com-Minggu 28 Oktober merupakan hari peringatan Sumpah pemuda ke-90 tahun 1959, tanggal 28 Oktober. Hal ini di tetapkan oleh pemerintah melalui Keppers No. 316 tahun 1959 tanggal 16 Desember.

Adapun bunyi dari sumpah pemuda ialah sebagai berikut:

"Kami Putra dan Putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.
Kami Putra dan Putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
Kami Putra dan Putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia."

Dari teks Sumpah Pemuda, pertama "Kami Putra dan Putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia."

pertanyaannya, sudahkah putra-putri Indonesia bertumpah darah yang satu dalam melawan penjajah? Sudakah putra-putri Indonesia bersatu mengusir penjajah?

Kedua "Kami Putra dan Putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia."

Jika benar saat ini bangsa Indonesia berbangsa yang satu, seharusnya sama-sama bersatu untuk mengusir penjajah seperti pemuda Indonesia sebelumnya yang memperjuangkan Indonesia.

Bukan malah melayani penjajah, membiarkan mereka menguasai Sumber Daya Alam kita.

Ketiga "Kami Putra dan Putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia." Bahasa Indonesia saat ini sudah berbagai ragam bahasa. Bahasa melayu Indonesia mulai di tinggalkan, dengan majunya teknologi saat ini membuat bahasa Indonesia semakin tertinggal.

Lebih disayangkan. Saat ini pemuda putra-putri Indonesia tidak menggambarkan dari mereka sebagai pejuang Indonesia.

Bahkan, pada saat dalam memperingati hari Sumpah Pemuda, justru sebagian pemuda-pemudi merayakan dengan berhura-hura.

Anehnya, jika ada putra-putri Indonesia yang mencoba untuk memperjuangkan Indonesia untuk mengusir penjajah,

justru di persekusi, dikriminalisasi, dibungkam dsb. Ada apa sebenarnya?

Apakah memperingati hari Sumpah Pemuda hanya formalitas bagi pemerintah?

Saat ini, dengan perkembangan teknologi Sumpah Pemuda pun telah berubah konteks.

Mengapa demikian? Sebab mereka tidak lagi seperti pejuang sebelumnya yang berani berjuang untuk mengusir penjajah,

kecuali hanya sebagian diantaranya. Namun sebagian lainnya lebih memilih acuh tak acuh.

Sehingga  sekarang para pemuda semakin hancur. Bukan di didik atau dilatih sebagai pembela negara untuk mengusir penjajah, justru mengajari mereka menjadi pemuda-pemudi pengecut yang tak bernyali untuk mengusir penjajah.

Neoliberalisme telah merubah wujud yang sebenarnya. Seharusnya tugas seorang pemuda adalah membela negara dari jajahan, tapi faktanya pemuda saat ini ialah para pemuda yang bisa di seting untuk menjamu penjajah. Inikah pemuda yang sebenarnya?

Wahai para Putra-putri Indonesia, wahai para pemuda generasi bangsa. Bangkitlah untuk melawan penjajah, pahamilah saat ini kita masih dijajah, kita yang sebenarnya belum merdeka.

Saat ini kita telah di serang dengan serangan pemikiran, Sumber Daya Alam kita di kuasai oleh asing dan aseng.

Pribumi menjadi budak di negeri sendiri. Pengangguran masih bertaburan di mana-mana, derita demi derita yang tak kunjung berakhir, jauh dari kata sejahterah. Masih merasa kita merdeka?

Wahai pemuda. Saatnya untuk bangkit, bukalah matamu. Jangan mau diseting dan terus di bodohi. Berjuang lah melawan penjajah. Bersatulah dalam sebangsa, marilah saling bergandengan tangan, satu dalam jiwa, demi masa depan untuk Indonesia jaya.

Wahai pemuda bangkitlah, bangunlah, sadarlah. Bawalah perubahan bagi Indonesia yang sejahterah, hidup bersama dalam naungan syariatNya.[MO/gr]


Posting Komentar