Oleh : Puspita Satyawati



Oleh : Puspita Satyawati

Mediaoposisi.com- Aroma kebangkitan umat kian tercium. Aksi Bela Islam berjilid dan Aksi Bela Tauhid adalah dua di antara sekian penampakan ghiroh umat Islam dalam membela ajaran serta simbol Islam kala dinistakan.

Pun bermunculan berbagai agenda keislaman yang berkehendak  menyatukan berbagai elemen umat dan memfasilitasi semangat berhijrah seperti Muslim United, Amazing Muharram, Hijrah Fest, dll.

Umat telah bosan dengan keburukan penerapan sistem sekularisme liberal. Muncul kerinduan di sebagian kaum Muslimin di Indonesia untuk kembali pada penerapan Islam kaffah.

Diakui atau tidak. Naiknya level keislaman umat di negeri ini tak lepas dari masifnya dakwah Islam yang dilakukan berbagai organ umat. Salah satunya HTI. Meski sudah dicabut BHPnya, ditekan, dibatasi ruang geraknya, namun atas izin Allah SWT, pemikiran yang disampaikannya justru meluas di tengah masyarakat.

Hingga hari ini, hampir tak ada rumah yang penghuni di dalamnya tak mengenal-minimal mendengar- tentang khilafah. Bendera tauhid yang kerap dibawa di berbagai agenda HTI untuk diperkenalkan sebagai bendera umat Islam, kian mendapat tempat di hati kaum Muslimin. Umat bersepakat bahwa itu bendera tauhid. Tak lagi dipandang sebagai bendera HTI.

Kebenaran akan bersua dengan kebatilan. Inilah kealamiahan perjuangan.  Dakwah syariah khilafah diiringi kemunculan para penentangnya. Nada sumir hingga propaganda negatif senantiasa menyertai. Radikal, fundamental, hingga teroris adalah opini yang sering diteriakkan. Anti NKRI, anti Pancasila, pemecah-belah dan berbagai stigma negatif kerap disematkan pada pejuangnya.

Akhir-akhir ini muncul lagi pernyataan sejenis yang menyudutkan perjuangan penegakan khilafah. Yaitu menerapkan syariat dan khilafah akan mensuriahkan Indonesia. Beberapa seminar digelar bertajuk Jangan Suriahkan Indonesia. Hastag #Jangan Suriahkan Indonesia pun dikabarkan sempat menjadi top trending topic di Twitter.

Menurutnya, pengusung sistem khilafah ingin membuat Indonesia kacau seperti Suriah sehingga lebih mudah mengambilalih kekuasaan. Mereka juga berpendapat bahwa berbagai kelompok saling membunuh dan berperang di Timur Tengah karena sedang berebut mendirikan khilafah dan ujungnya adalah kebinasaan. Benarkah?

Propaganda Mendistorsi Khilafah

Pernyataan Jangan Suriahkan Indonesia ditujukan untuk menolak perjuangan syariah dan khilafah di Indonesia. Mereka berilusi bahwa seolah-olah kekacauan, konflik, dan berbagai pembantaian yang terjadi di Suriah saat ini karena rakyat Suriah menghendaki khilafah. Propaganda semacam ini merupakan framing negatif yang dihembuskan oleh pihak-pihak yang sejatinya tidak pernah rela syariat Allah ditegakkan.

Tengok apa yang sebenarnya terjadi di Suriah. Pasca runtuhnya Khilafah Ustmaniyah 1924, Amerika , Inggris, Rusia dan negara Barat berupaya mengontrol Timur Tengah karena faktor geografis, kekayaan alam, dan potensi islam. Negara imperialis ini mendukung  rezim Bashar Assad. Namun dampak Arab Spring, rakyat Suriah menuntut rezim Bashar mundur dengan aksi damai. Tetapi tuntutan damai dibalas dengan penangkapan dan pembunuhan. Rezim Bashar menggunakan militer, polisi, preman, hingga ulama bayaran untuk menindas perlawanan.

Hal ini membuat rakyat marah dan membela diri dengan senjata. Rezim Bashar kian bengis, rakyat memperkuat diri dengan lebih terorganisir. Kekejaman Bashar mengundang perhatian dunia dan mendorong mujahidin seluruh dunia ikut membantu. Di antara keinginannya, rakyat Suriah menuntut penerapan syariah Islam. Rezim Bashar tersudut.  Amerika makin khawatir tuntutan rakyat Suriah akan  penerapan syariah Islam berhasil.

Lalu Amerika membentuk kelompok oposisi sebagai alternatif pasca jatuhnya Bashar. Rakyat Suriah tidak menyambut baik terhadap oposisi bentukan Amerika. Amerika kian khawatir. Akhirnya tetap mempertahankan Bashar dengan beberapa langkah, antara lain membiarkan Iran dan milisi Lebanon dukungan Iran membantu Bashar. Kondisi semakin berbahaya bagi Bashar. Amerika membiarkan Bashar menggunakan senjata kimia, meskipun seolah mengecam.

Amerika melakukan politik adu domba dengan mendorong Turki dan Saudi mendukung beberapa kelompok mujahidin. Kelompok ini bergerak sesuai arahan Saudi dan Turki, sejalan dgn kepentingan Amerika. Kemudian mengkondisikan pemunculan ISIS, alat propaganda negatif terhadap perjuangan syariah dan Khilafah. Belum sempurna juga, Amerika membiarkan Rusia masuk untuk membabat habis semua kelompok mujahidin.

Terjadi serangan masif dan senjata kimia yang dilakukan Bashar, Rusia, Amerika terhadap rakyat Suriah dengan alasan memerangi terorisme. Posisi mujahidin pun melemah. Bashar dengan dukungan Rusia dan Amerika menguat. Hingga hari ini mereka membangun opini Suriah hancur karena Islam radikal.

Sejatinya yang menghancurkan Suriah adalah penguasa boneka Barat dengan dukungan Amerika, Rusia dan memanfaatkan Iran, Saudi, dan Turki. Merekalah yang bertanggungjawab atas penghancuran Suriah, pemboman massal, hingga penggunaan senjata kimia. Bukan rakyat Suriah yang menjadi korban karena menginginkan diterapkannya Islam secara damai.

Sungguh naif menyalahkan rakyat Suriah yang menginginkan khilafah sebagai penyebab kekacauan di Suriah. Seharusnya yang mereka salahkan adalah Amerika Serikat, negara teroris yang membuat makar di negeri-negeri Islam. Seharusnya mereka mengecam Bashar Assad yang membunuh rakyatnya sendiri.  '

Ini merupakan cara berpikir penjajah yang ingin mempertahankan kejahatannya dengan menyalahkan korban (blaming the victim). Jelaslah pernyataan “Jangan mensuriahkan Indonesia” adalah upaya untuk mengkriminalkan perjuangan penegakan khilafah dan membangun citra negatif terhadap khilafah.

Padahal banyak dalil dan pendapat ulama salaf yang menyatakan khilafah adalah ajaran Islam. Bahkan keberadaannya bukan sekadar wajib. Namun lebih dari itu, khilafah adalah taj al furudh (mahkota berbagai kewajiban). Maka, aturan Allah SWT tak mungkin bisa tertunaikan secara kaffah kecuali dengan tegaknya khilafah ‘ala minhajin nubuwwah.[Mo/an]

Posting Komentar