Oleh: Safira M. Shalihah
(Anggota Komunitas Pena Langit)

Mediaoposisi.com- Xinjiang merupakan salah satu daerah otonomi Republik Rakyat Tiongkok dan menjadi wilayah terluas di Tiongkok Daratan. Xinjiang yang memiliki nama resmi Daerah Otonomi Uighur Xinjiang ini berbatasan dengan Kazahkstan, Kirgizstan, Afghanistan dan Kashmir di barat, Mongolia di timur, dan Rusia di utara.

Xinjiang menjadi tempat berdiamnya suku ras-ras Turki termasuk Uighur yang menjadi mayoritas penduduk di sana. Namun sejak terbentuknya Republik Rakyat Tiongkok, pertumbuhan penduduk suku Han yang merupakan ras asli Tiongkok meningkat hingga 40% di wilayah Xinjiang ini. Orang-orang Uighur sendiri memiliki bentuk fisik, budaya, agama, dan bahasa yang berbeda dari mayoritas orang Tiongkok.

Mereka mayoritas menggunakan bahasa Uighur. Bahkan hanya sedikit yang bisa menggunakan bahasa mandarin. Orang-orang Uighur punya budaya dan kesenian yang mirip dengan bangsa Turki. Mereka juga mayoritas adalah pemeluk agama Islam.

Hal ini tidak luput dari sejarah peradaban mereka. Dahulu Xinjiang merupakan wilayah yang dilewati Jalur Sutra, sebuah jalur perdagangan kuno yang menghubungan Chang’an di Timur dan Antiokhia di Barat.

Kita masih bisa melihat jejak kehebatan jalur perdagangan di ini di beberapa kota di Xinjiang seperi Turpan, Urumqi, dan Kashgar. Kondisi geografis Xinjiang yang dikelilingi gurun pasir dan pegunungan membuat pedagang yang melewati jalur ini lambat laun membangun kota-kota singgah sebagai tempat istirahat. Seperti di Gaochang, kita masih bisa melihat reruntuhan kota oase yang dibangun dari pahatan pegunungan dan tanah liat.

Mengingat para pedagang dari Barat adalah orang-orang muslim, wilayah Xinjiang pun banyak terdapat masjid-masjid kuno yang sudah menemani pedagang muslim di jalur sutra untuk bersua kepada Sang Pencipta berabad-abad yang lalu. Salah satu yang terbesar adalah Masjid Aitigaer di Kota Kashgar yang menjadi pusat jalur sutra pada masa itu. Lama-kelamaan pedagang dari suku-suku ras Turki  ini pun mendiami wilayah Xinjiang hingga saat ini.

Xinjiang sebagai pusat perdagangan itu sejak dahulu menjadi wilayah yang diperebutkan banyak dinasti. Mulai dari kekaisaran Tiongkok hingga kekhanan Mongol dan wilayah Turk. Hingga akhirnya setelah berdirinya Republik rakyat Tiongkok, Xinjiang menjadi wilayah otonominya. Kebudayaan dan peradaban suku Uyhur di Xinjiang yang kental akan keislamannya memang masih bisa kita lihat.

Namun sayangnya, mereka terancam kehilangan identitas mereka. upaya-upaya deislamisasi suku Uyhur terus dilakukan rezim komunis Tiongkok sejak kerusuhan yang terjadi di Yarkand pada tahun 2014 silam.

Diduga kerusuhan tersebut didalangi oleh orang-orang Uighur yang dianggap bagian dari ISIS. Dengan dalih memerangi terorisme, rezim Tiongkok pun menargetkan  suku Uighur sebagai etnis yang paling diwaspadai. Wilayah perbatasan Xinjiang diperketat demi mencegah masuknya jaringan terorisme maupun mencegah suku Uighur keluar ke wilayah basis kelompok terorisme di Afghanistan.

Rezim pun mulai mengawasi aktivitas ibadah muslim Uighur, melarang penggunaan nama-nama Islam, merampas kepemilikan Al-Qur’an maupun buku-buku Islam, pelarangan hijab di tempat umum, bahkan pun ketika terlihat perempuan-perempuan Uighur menggunakan atasan yang panjang, otoritas setempat akan memaksa untuk memotongnya.

Partai Komunis telah mengumpulkan DNA, pemindaian iris (selaput pelangi) mata, dan sampel suara dari warga Uighur di provinsi tersebut, secara teratur memindai isi perangkat digital mereka, menggunakan kartu identitas digital berkode untuk melacak gerakan mereka, dan memasang kamera CCTV di rumah, jalan, dan pasar mereka. Mereka juga menempelkan pamphlet-pamflet propaganda yang menggiring opini negative soal Islam.

Tak cukup sampai di situ upaya rezim Tiongkok lagi-lagi dengan label mencegah ektremisme dan radikalisme, para muslim Uighur dipaksa mempelajari kebudayaan Tiongkok, mulai dari bahasa hingga ajaran-ajaran konfusianismenya. Jika anda melihat wajah Xinjiang hari ini, anda akan melihat bagaiman Tiongkok benar-benar menanamkan nasionalismenya di sana.

Rumah-rumah di Xinjiang yang memiliki arsitektur khas timur tengah berhias bendera Tiongkok dan lampion-lampion merah. Upacara pengibaran bendera bahkan dilakukan saat hari raya umat muslim berlangsung. Bahkan kerepresifan rezim Tiongkok makin parah dengan memasukkan muslim Uighur ke dalam kamp konsentrasi rahasia mereka. kamp-kamp ini tersembunyi di anatara gurun dan pegunungan dengan tembok tinggi menjulang dan penjagaan ketat dari militer.

Menurut pengakuan para tahanan yang berhasil keluar dari kamp ini, mereka dipaksa untuk ‘melepaskan’ Islam mereka, dipaksa memakan babi dan minum khamr. Bahkan mereka pun diberikan siksaan-siksaan fisik. Mereka juga tega mengambil anak-anak Uighur untuk dididik di panti asuhan bentukan mereka tak peduli anak-anak tersebut masih punya orang tua atau tidak. Mereka bahkan memaksa akulturasi budaya dengan menikahkan perempuan-perempuan muslim Uighur dengan suku Han.

Dalam tulisan seorang analisis T. Greer pun menyebutkan ada 48 alasan yang mampu membuat muslim Uighur ditahan, diantaranya berpuasa, pergi ke masjid, memakai hijab di hadapan bendera Tiongkok, dan bentuk-bentuk ibadah ritual umat muslim lainnya. Jika anda berwisata ke Xinjiang pun tak perlu heran melihat polisi bebas berkeliaran di jalanan lengkap dengan senjata dan kendaraan anti huru-haranya. Muslim Uighur benar-benar dikekang, mereka diawasi, hak-hak beragama mereka dicabut.

Sungguh muslim Uighur ibarat hidup dibalik jeruji di tanah mereka sendiri. Tiada kebebasan bagi mereka untuk menjalankan ibadah ritual. Mereka hidup terhinakan di bawah kaki rezim komunis Tiongkok. Jauh berbeda ketika dulu mereka menjadi pusat dunia. Muslim Uighur dan umat muslim lain di penjuru dunia kini banyak yang tertindas, terdiskriminasi, terjajah, dan dicap teroris. Seolah tidak lagi menjadi umat yang mulia. Beginilah kondisi kaum muslimin hari ini tanpa perisai.

Terdzalimi akibat penerapan kapitalis-sekuler oleh Negara-negara barat. Kita butuh perisai umat muslim yakni Khilafah yang menerapkan system Islam yang akan membawa rahmat dan kemuliaan bukan hanya bagi umat muslim namun juga seluruh alam. Khilafah lah yang akan menuntaskan penderitaan muslim Uighur.

Ketika khilafah tegak ia akan terbentang menaungi tanah-tanah kaum muslimin. Menyatukan negeri-negeri kaum muslim yang kini terpecah dan terkotak-kotakkan oleh sekat nasionalisme. Ia akan menjadi Negara adidaya yang kuat, sebanding dengan Negara adidaya saat ini. Umat muslim butuh pelindung, dan Khilafah lah pelindungnya. [MO/sr]

Posting Komentar