Oleh : Dini tri azra

Mediaoposisi.com-Menjelang aksi bela tauhid 212 yang akan dilaksanakan di Monas tanggal 2 desember 2018 mendatang,banyak upaya penggembosan yang coba dilakukan berbagai pihak untuk menghambat momen persatuan umat,yang ingin berkumpul kembali ,saling bersilaturahim sesama alumni 212 dalam rangka membela dan mensyiarkan kalimat tauhid,yang beberapa waktu lalu dilecehkan dengan aksi pembakaran panji tauhid,yang merupakan simbol Islam.

Sepertinya ada kepanikan,dari rezim dan pendukungnya ,sehingga mereka berupaya menghambat jalannya aksi 212. Ada yang mengancam akan menurunkan ribuan massa,jika dalam aksi tersebut ada atribut bendera tauhid yang dikibarkan. Ada juga ,yang ingin menggelar acara tandingan,mereka menduga bahwa aksi kali ini bermuatan politik,kampanye terselubung untuk mendukung lawan politiknya. Sampai isu masjid terpapar radikalisme digulirkan.

Beredar informasi dari BIN, bahwa 41 masjid pemerintahan di wilayah Jakarta terpapar radikalisme,dan 50 penceramah menyebarkan paham radikal. Bahkan,menurut jubir kepala BIN Wawan purwanto,ada tiga tingkatan kategori radikalisme itu,yaitu tingkat rendah,sedang dan tinggi. Dari 41 masjid diantaranya,7 masjid kategori rendah,17 masjid tingkatnya sedang,dan 17 masjid lainnya kategori tingkat tinggi. Temuan ini didapat dari hasil studi /survey yang dilakukan oleh Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M),setelah melakukan riset terhadap 100 masjid pemerintahan di Jakarta .(IDNTIMES/21/11/2018)

Isu inipun menjadi heboh,hingga mengundang reaksi banyak pihak. Wapres Jusuf Kalla yang juga menjabat ketum Dewan Masjid Indonesia,menghimbau agar semua pihak bisa membedakan antara amar makruf nahi munkar,dengan yang radikal. Jangan karena tidak senang dikritik,lalu menyebut penceramah itu radikal. Hal itu disampaikan,di pembukaan rakernas DMI,di Istana wakil presiden (23/11/2018)

Sementara ,Din syamsuddin utusan khusus Presiden untuk dialog antar agama dan  peradaban,malah meragukan hasil survey tersebut. Menghimbau  untuk tidak menyebar isu secara verbal,karena akan menimbulkan keresahan di masyarakat,menimbulkan perpecahan ditengah kerukunan umat Islam.(Republika.co.id/27/11/2018)

Benar saja,hasil survey tersebut ternyata sangat tidak ilmiah dan sangat lemah bukti,untuk dijadikan sebagai sumber dari sebuah temuan. Agus muhammad sebagai jubir P3M,mengakui bahwa P3M bekerja sama dengan lembaga Rumah Kebangsaan sebagai penyokong dana pelaksanaan survey.

Tapi anehnya saat ditanya, Rumah kebangsaan itu lembaga apa,dan ketuanya siapa,dia bilang kurang paham dan tidak tahu.(ilc tvone /27/11/2018)  Hingga Ustadz Haikal hasan yang turut hadir di acara yang sama,menjelaskan bahwa Rumah kebangsaan itu ketuanya adalah, Darmadi durianto anggota komisi enam PDIP.

Lebih aneh lagi,ketika ditanya kriteria seorang penceramah radikal seperti apa, dia menyebut ada 5 point,tergantung sikapnya terhadap 5 point tersebut,diantaranya dia sebutkan pemimpin kafir,apabila dia menolak pemimpin kafir maka dipastikan dia radikal.

Meskipun alasannya larangan itu termaktub dalam Alquran.Dan juga sikap penolakan terhadap pemimpin perempuan,empat pilar kebangsaan,demokrasi dan ajaran agama lain,namun dia mengatakan hasil survey ini belum tentu benar belum tentu juga salah,karna sifatnya masih indikasi.Herannya,kenapa sekelas BIN bisa menerima hasil survey yang dangkal seperti ini? Padahal temuan ini sudah pernah dirilis bulan juli lalu,yang akhirnya menghilang dan sekarang diangkat kembali. Apakah ini juga indikasi kepanikan rezim,menjelang aksi 212?

Kepanikan itu cukup beralasan, karna mayoritas penggerak aksi 212 memang menginginkan pergantian pemimpin pada pemilu 2019 nanti. Dan bagi umat Islam yang mencermati jalannya perpolitikan negeri ini,pasti tahu bahwa rezim ini seringkali berpihak pada pelaku penistaan agama,sebut saja pada kasus Ahok,Viktor laiskodat,dan terakhir oknum pembakar bendera tauhid.Ketakutan itu ada,karena sikap yang selama ini ditunjukkan.

Bahkan belakangan diketahui  pemerintah berusaha untuk menepis isu anti Islam dan kriminilalisasi ulama,dengan mengadakan acara kemah bersama dengan melibatkan GP Anshor dan Pemuda Muhamadiyah yang digagas oleh Kemenpora,dan kini berbuntut pada penyidikan KPK perihal dana 5 M yang terpakai untuk acara tersebut.

Sedangkan  bagi para Ulama penggerak aksi bela Tauhid 212,acara ini digelar dalam rangka syiar agama. Bentuk keprihatinan mereka,akan pendangkalan akidah umat Islam ,yang secara masif terus dilakukan dan pelakunya justru dari orang-orang yang mengaku dirinya muslim.

Dengan mengatasnamakan Pancasila,kebhinnekaan,dan toleransi mereka membolehkan muslim berbaur dalam acara keagamaan,mengucapkan selamat hari raya agama lain,ulama nya boleh ceramah di gereja,umatnya boleh bershalawat di gereja,dan bansernya pun ditugaskan menjaga gereja.

Padahal sikap kita terhadap non muslim,sudah diatur didalam Alquran Surah Al kafirun,secara keseluruhan. " lakum dinnukum waliyadin" menjadi prinsip kita,bahwa tidak ada campur baur dalam urusan akidah dan ibadah . Sedang dalam muamalah , bermasyarakat Islam telah membuktikan toleransi tinggi sejak kelahirannya hingga saat ini.

Ajaran Islam yang lurus dilabeli kata radikal  yang identik dengan kekerasan,ujaran kebencian,dan propaganda untuk mengubah dasar negara, dikaitkan dengan tindakan terorisme.Sementara paham sekuler,pluralis,dan liberal justru didukung dengan penamaan,Islam moderat,Islam nusantara,dan terbaru diterbitkan Islam milenial yang ditujukan untuk generasi muda,guna menangkal radikalisme agama. Yang sebenarnya malah menjauhkan mereka dari agamanya sendiri.

Maka dari itu sebagai umat islam,mari terus belajar akidah Islam yang benar jangan terpengaruh dengan isu-isu radikalisme terus yang sengaja dihembuskan. Ketika kita berpegang teguh pada tali agama Allah,tidak perlu ada ketakutan dengan istilah-istilah buruk yang diberikan manusia. Sudah saatnya persatuan umat dibangun,sehingga tidak mudah terpecah belah. Allah subhanahu wataala berfirman ; 
                                                                                                           
"Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk."(TQS.Ali imran[3];103).

Terkait frasa "tali Allah"dalam ayat diatas,maka yang menjadikan umat Islam bersatu adalah ikatan akidah yang sama,berpegang teguh pada Kitabullah dan Sunnah. Dengan dasar ikatan ini mari kita eratkan ukhuwah (persaudaraan),kuatkan wihdah(persatuan)dan rekatkan mahabbah (saling cinta),sehingga lahir al quwah (kekuatan) didalam tubuh umat Islam.

Islam adalah agama yang benar disisi Allah,maka selamanya akan tetap ada dan terjaga oleh Nya. Meskipun berbagai serangan pasti akan datang dari berbagai arah. Dan,ketika agama Islam dinistakan,ajarannya dideskriditkan,simbolnya difitnah sebagai lambang teroris dan ulamanya dikriminalkan,wajib bagi kita untuk ikut berperan,menentukan sikap,dan bergabung dalam barisan perjuangan Islam.

Sudah menjadi fitrah,bahwa setiap perjuangan kearah kebangkitan Islam pasti akan ada penentangan. Meskipun  Isu radikalisme sempat berhembus,namun semangat aksi bela tauhid jangan sampai tergerus. Maju terus untuk menyampaikan kebenaran,beramar makruf nahi munkar,dalam Aksi bela tauhid 212,jadikan diri kita sebagai penolong agama Allah.Semoga setiap niat dan amalan yang murni karna Allah ta'ala,akan dibalas dengan keridhoan Nya. Allah berfirman ;

Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha kuat lagi Maha perkasa,” (QS. Al Hajj : 40)[MO/sr]



Posting Komentar