Oleh: 

Mediaoposisi.com- Hari Guru Nasional (HGN) diperingati setiap tanggal 25 November. Pada tahun ini HGN mengangkat tema “Meningkatkan Profesionalisme Guru Menuju Pendidikan Abad 21”. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy menyampaikan Kemendikbud akan menggelar puncak peringatan hari guru nasional pada 1 Desember 2018 mendatang di Stadion Pakansari, Cibinong, Bogor-Jawa Barat dan rencananya akan dihadiri langsung Presiden RI Joko Widodo.

Mendikbud Muhadjir juga telah mengeluarkan pidato tertulis dalam menyambut HGN. Adapun point pentingnya adalah tantangan guru abad 21, manfaatkan kemajuan teknologi, peran guru tidak tergantikan, mengubah sisi negatif menjadi positif, pemerataan lewat sistem zoonasi dan titipan amanah bangsa (edukasi.kompas.com, 25/11).

Wakil Presiden Jusuf Kalla atau JK menyampaikan amanatnya dalam peringatan HGN yang jatuh pada hari ini. Menurut JK, guru adalah jabatan terhormat. Alasannya guru dapat mencerdaskan suatu bangsa.

Secara bersamaan kita harus meningkatkan kualitas dan kuantitas (guru). Masa depan itu ditentukan oleh guru,” katanya di Desa Mekar Jaya, Kabupaten Muara Jambi, Jambi (Sabtu, 24 November 2018).

Terkait dengan demo besar para guru honorer yang meminta diangkat sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di depan Istana beberapa waktu lalu Jk menuturkan bahwa pemerintah berusaha memenuhinya (nasional.tempo.co, 25/11).

Islam adalah agama yang sempurna dan paripurna. Agama yang tak hanya mengurusi masalah ibadah hamba kepada Robbnya saja. Namun mengatur seluruh permasalahan manusia yang lain, baik menyangkut dengan dirinya sendiri ataupun dengan orang lain. Islam mengatur akan itu semua. Tak ubahnya dalam bidang pendidikan, Islam sangat peduli terhadap hal tersebut. Karena dalam Islam pendidikan termasuk dalam kebutuhan pokok yang wajib dipenuhi. Dan menjadi kewajiban bagi setiap muslim.

Pada proses pendidikan, keberadaan guru menjadi amat penting. Kehadirannya bukan hanya sebagai orang yang menyampaikan materi pelajaran kepada para siswanya, namun juga pembimbing dalam hal keteladanan (uswah) yang baik. Artinya guru harus memiliki kekuatan akhlak agar menjadi panutan dan teladan bagi para siswanya.

Pendidikan menjadi sorotan utama bagi negara. Karena memang negara berkewajiban untuk menyelenggarakan proses pendidikan tersebut. Termasuk pula didalamnya adalah menyediakan sarana dan prasarana yang mumpuni. Agar kelak pendidikan tersebut berdampak nyata pada guru, siswa dan pihak-pihak yang lainnya. Sangat pentingnya keberadaan guru, di dalam Al Qur’an dijelaskan beberapa keutamaannya.

Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan "(TQS Al Mujadalah 11)

Tinta para ulama lebih tinggi nilainya daripada darah para syuhada.” (HR Abu Daud dan Turmizi)
Firman Allah SWT dan Sabda Rasulullah tersebut menggambarkan betapa pentingnya kedudukan seorang yang mempunyai ilmu (pendidik).

Dengan bekal ilmu tersebut maka akan memudahkan manusia untuk selalu berpikir dan menganalisa hakikat seluruh fenomena yang ada di dunia ini. Dengan begitu, akan menambah rasa keimanan terhadap Allah SWT. Bahkan pendidik memikul tanggung jawab untuk membimbing, mengarahkan serta membentuk karakter dari peserta didik setelah orang tua. Dengan beban yang begitu besarnya maka dalam Islam derajat pendidik itu lebih tinggi.

Bahkan dalam Surat At Taubah “ Tidak sepatutnya bagi mukmin itu pergi semua (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya. ”

Dalam Islam, guru diberikan penghargaan setinggi-tingginya. Mereka di perlakukan dengan baik dan diayomi. Segala macam kebutuhannya di fasilitasi oleh negara, bahkan tanpa segan-segan hadiah akan diberikan dengan cuma-cuma manakala Sang guru telah berhasil membuat karya yang dibukukan. Hadiah tersebut adalah emas, besarnya disesuaikan dengan berat dari buku yang berhasil ditulisnya. Subhanallah sungguh penghargaan yang luar biasa.

Belum lagi jika kita membicarakan gaji seorang guru. Di masa Umar bin Khattab ra beliau sangat peduli terhadap dunia pendidikan. Pada masanya, beliau selalu antusias dalam hal meningkatkan mutu pendidikan bagi generasi Muslim. Salah satu langkah yang dijalankan pada masa Khalifah Umar adalah menetapkan besaran gaji bagi setiap pengajar. Besarnya gaji guru adalah sebanyak 15 dinar untuk setiap bulannya.

Dinar merupakan mata uang yang terbuat dari logam mulia, yaitu emas. Besarnya satu dinar setara dengan 4,25 gram emas. Jika kita kalkulasikan dengan perhitungan emas di masa sekarang (1 gram bernilai Rp 500.000,00) maka 1 dinar setara dengan Rp 2.125.000,00. Maka dapat kita perkirakan gaji seorang pahlawan tanpa tanda jasa tersebut sekitar Rp 31.875.000,00.

Sungguh nilai yang sangat luar biasa. Jika kita bandingkan dengan gaji guru di zaman milenial, maka akan sangat berbeda sekali. Gaji mereka ada dikisaran Rp 2-3 juta/bulan. Itu bagi guru yang menjadi PNS, jika honorer maka gajinya kisaran 400-700 ribu saja. Sungguh sangat jauh berbeda, ibarat langit dan bumi.

Kesejahteraan guru sejatinya hanya akan terwujud manakala sistem yang ada adalah sebuah system yang mampu menghargai peran dan fungsi guru seutuhnya. Tentunya hal tersebut hanya bisa diterapkan jika sistem yang ada sesuai pada hakikat manusia, sesuai dengan fitrahnya. Hanya dengan sistem Islam yang mampu menjadikan pendidikan sebagai tonggak awal dari peradaban serta mampu mencetak generasi yang tangguh.

Akan mencetak pula guru serta generasi yang berakhlak mulia (mempunyai adab) yang sesuai dengan Islam. Dan tentunya akan menjadi generasi yang mempunyai karakter khas yang diimbangi pula dengan ilmu pengetahuan yang mumpuni. Akankah kita rindui masa-masa itu?

Marilah sedari sekarang berjuang bersama agar sistem tersebut mampu segera diterapkan dalam kehidupan ini. Sehingga mampu merubah keadaan sekarang serta mampu melahirkan peradaban gemilang seperti yang pernah tertoreh pada zaman dahulu ketika Islam diterapkan. Dan tentunya kesejahteraan guru akan bisa terwujud dengan sempurna. Wallahu a’lam.[MO/sr]


Posting Komentar