Oleh: Iin Susiyanti

Mediaoposisi.com-Khilafah. Sebuah istilah yang sudah familiar ditelinga kita. Dan sempat menjadi trending topik dalam pemberitaan. Baik melalui sosial media, televisi dan surat kabar. Juga menjadi buah bibir dalam masyarakat. Namun dalam penegakkan syari'ah dan khilafah ini bagi pemerintah merupakan ancaman yang membahayakan bagi eksistensi negara.

Menkopolhukam Wiranto menegaskan kasus pengibaran bendera bertuliskan kalimat Tauhid milik organisasi terlarang HTI merupakan tindakan yang merujuk pada pengkhianatan ideologi Indonesia. Itu berarti menduakan merah putih. Menduakan Pancasila. Siapa saja yang masih ingin mengembalikan paham-paham anti pancasila di Indonesia sebaiknya segera pergi dari Indonesia. ucapnya usai Sosialisasikan Inpres Nomor 7 Tahun 2018 tentang Rencana Aksi Nasional Bela Negara di Hotel Utami (Tribunnews/29/10/2018).

Pemerintah membuat opini bahwa perjuangan menerapkan Islam kaffah ini dianggap intoleran. Radikal. Bertentangan dengan tujuan, asas dan ciri pancasila dan UUD 45. Sebagaimana diatur dalam UU no. 17 tahun 2013 tentang ormas. Dan berbenturan dengan masyarakat, mengancam keamanan dan ketertiban masyarakat. Serta perusak keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Menurut Ustaz Ismail Yusanto. Salah satu substansi penting dari khilafah adalah persaudaraan (ukhuwah) yang diwujudkan dengan persatuan. Dengan persatuan kita menjadi kuat. Jadi, sangat tidak mungkin ide khilafah menghendaki perpecahan bangsa. Jika persatuan itu wajib, maka berpecah-belah adalah haram.

Sesungguhnya opini tersebut berbeda dengan fakta. Fakta menunjukkan selama 1300 tahun Islam mengalami masa kegemilangan ketika syari'ah Islam ditegakkan. Dimana ilmu pengetahuan berkembang pesat dan melahirkan ilmuwan-ilmuwan handal, bahkan manfaatnya masih kita rasakan sekarang. Dalam bidang ekonomi terbukti mengalami kemakmuran, hampir tidak ada kemiskinan dan
pengangguran. Jarang terjadi kriminalitas dalam masyarakat.

Justru karena dampak penerapan sistem sekuler-kapitalis dan neoliberalisme lah yang membuat negeri ini carut marut dalam segala bidang. Sistem ini hanya berpihak kepada orang yang bermodal besar saja, sehingga terjadi ketimpangan sosial antara si kaya dan si miskin. Banyak terjadi tindak kriminal dalam masyarakat. Baik kasus pencurian, pelecehan seksual, ekploitasi perempuan dan tindak kejahatan lainnya. Pemerintah bukan lagi menjadi pelayan rakyat akan tetapi menjadi pelayan investor asing dan barat.

Justru sistem ini dan para pengusungnya lah ancaman yang sebenarnya. Karena mereka mencoba menghalang-halangi diterapkannya hukum Allah. Setiap muslim wajib melaksanakan Islam secara kaffah dan yakin syari'at Islam membawa kebaikan. Dan pemikiran-pemikirannya bisa dikompromikan dengan sistem yang ada sekarang. "Hai orang-orang yang beriman, masuklah ke dalam Islam secara kaffah (keseluruhan) dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu" (QS. Al-Baqarah: 208).[MO/dr]

Posting Komentar