Oleh: Ummu Ainyssa 
(Ibu dari dua anak, tinggal di kota Tangerang)

Mediaoposisi.com-Hari Guru Nasional (HGN) diperingati setiap tanggal 25 November dengan berbagai macam peringatannya. Mulai dari Paud, TK, SD, SMP, SMA, bahkan wali murid pun ikut andil dalam peringatan ini. Berbagai macam hadiah mereka berikan kepada gurunya. Mulai dari surat kepada gurunya, bunga, gambar ucapan selamat hari guru, kue tart, maupun hadiah yang lebih mahal dari itu.
       
Tidak terkecuali presiden Joko Widodo atau Jokowi pun turut serta memberikan ucapan Selamat Hari Guru kepada seluruh guru di Indonesia. Menurut beliau guru adalah pembangkit inspirasi dan sumber ilmu bagi generasi penerus bangsa. Ungkapan ini beliau sampaikan di Taman Wisata Alam Pintu Kayu, Palembang, Sumatera Selatan, Minggu 25 November 2018 lalu. ( Liputan6.com )
         
Bahkan untuk lebih menghargai peran para guru, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (MenDikBud) Muhadjir Effendy menyampaikan bahwa KemenDikBud akan menggelar puncak peringatan Hari Guru Nasional pada 1 Desember 2018 mendatang di Stadion Pakansari , Cibinong, Bogor, Jabar yang rencananya akan dihadiri oleh presiden Jokowi. (KOMPAS.com)

Sebelumnya MenDikBud juga telah mengeluarkan pidato tertulis dalam menyambut HGN ini, yang dalam pidato tersebut setidaknya ada 6 poin yang disampaikan:

1.Tantangan Guru Abad 21
KemenDikBud melihat tantangan pendidikan abad 21 semakin berat, sehingga membutuhkan peningkatan profesionalisme guru dengan meningkatkan kualitas para guru.

2.Manfaatkan Kemajuan Teknologi
Guru dihimbau mampu memanfaatkan perubahan teknologi dan informasi yang super cepat untuk meningkatkan kualitas proses belajar mengajar.

3.Peran Guru Tidak Tergantikan
Sekalipun teknologi dan informasi berkembang sangat cepat, namun peran guru tidak akan pernah tergantikan.

4.Mengubah Sisi Negatif Menjadi Positif
Para guru harus mampu mengarahkan potensi positif teknologi informasi bagi para anak didiknya.

5.Pemerataan Lewat Sistem Zonasi
KemenDikBud akan melakukan perluasan akses pemerataan mutu dan percepatan perwujudan guru profesional melalui kebijakan sistem zonasi.

6.Titipan Amanah Bangsa
Bangsa Indonesia menitipkan amanah kepada Bapak dan Ibu guru untuk memelihara, mengembangkan jati diri dan membentuk karakter generasi penerus bangsa, sehingga menjadi bangsa tangguh, mandiri, berdaya saing dan penuh toleransi.
         
Melihat beraneka bentuk peringatan itu, sekilas terlihat seolah-olah guru di negeri ini benar-benar sudah dimuliakan. Padahal jika kita tengok ke belakang, belum sampai 1 bulan tepatnya tanggal 30 Oktober lalu saat lebih dari 70.000 guru honorer dari 34 Provinsi melakukan unjuk rasa di depan istana negara mendesak agar mereka diangkat menjadi CPNS, pemerintah seakan tidak peduli. Kendati pun sampai ada yang bermalam di sana. Setelah dimintai tanggapan, Staf Kepresidenan Moeldoko mengatakan tidak menemui hanya karena sama-sama padet acaranya. (Merdeka.com)
         
Begitu pula dengan Presiden, setiap kali ditanya oleh wartawan soal aksi unjuk rasa tersebut , presiden hanya senyum kecil kemudian berjalan meninggalkan wartawan. (Jakarta, KOMPAS.com)
Apakah sikap seperti Ini yang disebut memuliakan guru?
Bukankah guru honorer itu juga termasuk guru yang harus dimuliakan?

Kedudukan Guru Dalam Islam 
Di dalam Islam guru memiliki banyak keutamaan, seperti di dalam hadits "Sesungguhnya Allah dan para Malaikat dan semua makhluk yang ada di langit dan di bumi, sampai semut yang ada di liangnya dan juga ikan besar, semuanya bersholawat kepada Muallim (orang yang mempunyai ilmu dan mengajarkannya) yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.(HR Tirmidzi)

Mengapa guru diposisikan sebagai profesi yang mulia? Karena guru adalah seseorang yang dikaruniai ilmu oleh Allah SWT dan dengan ilmunya itu dia akan menjadi perantara manusia yang lain untuk mendapatkan ilmu serta menuju kebaikan baik di dunia maupun di akhirat.

Selain itu guru tidak hanya bertugas mentransfer ilmunya saja, tetapi juga mendidik dan membina muridnya agar menjadi manusia berkepribadian yang islami. Sehingga sebagai orang yang mengemban tugas yang mulia, tentunya guru harus bersungguh-sungguh dalam menjalankan tugasnya , tidak serta-merta dalam mengajar dan mendidik muridnya.
       
Begitu mulianya seorang guru, sampai-sampai pada masa Panglima Sholahuddin Al Ayyubi Rahimahullah guru begitu di hormati dan di muliakan. Syekh Najmuddin Al Khabusyani Rahimahullah misalnya, yang menjadi guru di Madrasah Al-shalahiyyah setiap bulannya di gaji 40 dinar dan 10 dinar (1 dinar hari ini setara 2.250.000 jadi setara dengan 112.500.000) untuk mengawasi waqaf Madrasah. Di samping itu juga 60 lt roti se.tiap harinya dan air minum segar dari Sungai Nil.
       
Contoh lain pada masa  Daulah Abbasiyah tunjangan guru juga begitu tinggi, seperti yang diterima oleh Zujaj pada masa itu setiap bulannya mendapat gaji 200 dinar. Sementara Ibnu Duraid di gaji 50 Dinar per bulan oleh Al Muqtadir.
       
Bukan hanya negara, tetapi orang tua pun ikut memuliakan guru. Pada masa keemasan Islam, mereka begitu antusias menyekolahkan anak-anak mereka serta memberi dukungan dalam belajar ilmu. Suatu ketika Sulaiman bin Abdul Malik bersama pengawal dan anak-anaknya mendatangi Atha bin Abi Rabah untuk bertanya dan belajar ilmu. Di hadapan anak-anaknya ia memberi nasihat, "Wahai anak-anakku! Bertakwalah kepada Allah, dalamilah ilmu agama, demi Allah belum pernah aku mengalami posisi serendah ini , melainkan di hadapan hamba ini (Atha'). (Aidh Al-Qarny, Ruh wa Rayhan, 296)

Selain itu mereka para orang tua sangat memuliakan guru karena mereka juga mengharapkan keberkahan ilmu sang guru turut mengalir padanya. Seorang ulama pernah bertutur, "Jika engkau menjumpai seorang murid sangat antusias memuliakan dan menghormati gurunya secara lahir dan batin di sertai keyakinan pada sang guru, mengamalkan ajarannya, dan bersikap dengan perilakunya, maka pasti dia akan mewarisi barokah ilmu sang guru".
       
Demikianlah akhlak seorang muslim terhadap ulama , apalagi jika ia sedang atau pernah berguru langsung kepada guru. Begitu juga negara yang wajib menampilkan sikap hormat (takzim), memuliakan (ikram) dan bila perlu melayani keperluannya (khidmat), bukan hanya sekedar memberikan ucapan basa-basi sementara di satu sisi tidak mempedulikannya. Dan ini hanya bisa terwujud dalam negara yang menerapkan aturan Islam secara kaffah.[MO/sr]

Posting Komentar