Oleh : Sunarti 

Mediaoposisi.com-Digugu lan ditiru, begitu ungkapan penghormatan orang Jawa terhadap para guru. Sungguh luar biasa tempat yang seharusnya diperuntukkan terhadap profesi ini. Bahkan diberikan julukan luar biasa "Pahlawan Tanpa Tanda Jasa." Berarti memang menunjukkan kapabilitas yang tinggi sebagai tenaga pengajar.

Namun fakta tidak sesuai dengan segala pengorbanan guru di ranah pendidikan dalam negeri ini. Berbagai persoalan merayap dalam lingkup profesi ini. Pasalnya nasib para guru, terutama guru honorer sangat jauh dari kelayakan terhadap apa yang disumbangkan mereka kepada generasi anak negeri. Sebagai pendidik, guru memiliki peran penting dalam mencetak generasi unggul melalui buaian lembut ajarannya di sekolah. Dan melalui lantutan syahdu keilmuan dalam kecakapan.

Sebagaimana diberitakan di detik.news, Sudirman Said menegaskan, kondisi guru honorer saat ini sungguh memprihatinkan. Mereka sudah bekerja selama bertahun-tahun tapi belum ada kejelasan statusnya. Padahal jasa guru terhadap pembangunan bidang pendidikan sangat besar.

Hal lain yang memprihatinkan adalah, tatkala para guru honorer ini berbondong menuntut haknya dengan berdemo dan bermalam di depan Istana, justru tidak direspon oleh Presiden dan Pihak Istana. Dalam ulasan beritanya tribun.timur.com, (Jumat, 2 November 2018) Deputi IV Kantor Staf Presiden Eko Sulistyo menyarankan para guru honorer yang hendak bertemu dengan Presiden Joko Widodo untuk mengajukan surat permohonan. Menurut dia, cara tersebut akan lebih efektif ketimbang melakukan aksi unjuk rasa di depan Istana.

Ungkapan yang lain juga disampaikan Sudirman Said perihal ketidak perhatian pemerintah terhadap para guru honorer ini. Dari detik.new, Sikap Presiden Jokowi yang tidak menemui aksi guru honorer K2 di istana beberapa waktu lalu dikritik mantan menterinya, Sudirman Said. Menurut Sudirman, dunia pendidikan, termasuk kesejahteraan guru, jauh lebih penting dari pembangunan infrastruktur. Pernyataan Direktur Materi Debat dan Kampanye Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi ini dilontarkan saat pengukuhan Relawan Sedulur Sudirman Said di Desa Slatri, Kecamatan Larangan, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, Minggu (4/11/2018) siang..

Sangat disayangkan memang. Guru sebagai pendidik memiliki posisi penting dalam pendidikan, justru tidak mendapatkan perlakuan yang baik. Dalam tugas mulianya guru menyiapkan generasi masa depan sebagai generasi pemimpin yang memiliki pemikiran yang cemerlang. Namun, saat sekarang kepedulian di ranah negara seolah sudah luntur. Perlakuan yang tidak baik kepada para guru honorer tersebut menunjukkan ketidak pedulian penguasa terhadap para guru ini. Seharusnya perhatian yang lebih kepada para guru ini menjadi prioritas.

Sebagaimana para guru yang mendapat perhatian dalam sistem Islam. Karena guru memiliki peran penting, sehingga posisi dan perlakuan mulia pasti didapatkannya. Sebagai seorang yang berilmu akan medapatkan jasa sesuai keilmuannya. Demikian juga guru mengajarkan ilmu sehingga mendapatkan gaji dan penghargaan yang luar bisa dari negara.

Imam Ad Damsyiqi telah menceritakan sebuah riwayat dari Al Wadliyah bin Atha yang memyatakan bahwa di kota Madinah ada tiga orang guru yang mengajar anak-anak. Khalifah Umar bin Khatthab memberikan gaji pada mereka masing-masing sebesar 15 dinar (1 dinar!  4,25 gram emas atau sekitar 31 juta rupiah). Betapa penghargaan sebagai guru sangatlah diperhatikan dalam sistem Islam.

Pada masa Rosulullah posisi guru juga sangat diperhatikan. Adapun perhatian Rasulullah  saw. terhadap dunia pendidikan tampak  ketika beliau saw. menetapkan agar para tawanan perang Badar dapat bebas jika mereka mengajarkan baca-tulis kepada sepuluh orang penduduk Madinah. Hal ini merupakan tebusan. Menurut hukum Islam, barang tebusan itu merupakan hak Baitul Maal (kas negara).

Imam Ibnu Hazm dalam kitab Al Ahkaam menjelaskan bahwa seorang kepala negara (khalifah)  berkewajiban untuk memenuhi sarana-sarana pendidikan, sistemnya, dan orang-orang yang digaji untuk mendidik masyarakat. Jika kita melihat sejarah kekhalifahan Islam maka kita akan melihat perhatian para khalifah terhadap pendidikan rakyatnya sangat besar demikian pula perhatiannya terhadap nasib para pendidiknya. Banyak hadits Rasul yang menjelaskan perkara ini, di antaranya: “Barangsiapa yang kami beri tugas melakukan suatu pekerjaan dan kepadanya telah kami berikan rezeki (gaji/upah/imbalan), maka apa yang diambil selain dari itu adalah kecurangan” (HR. Abu Daud).

“Barangsiapa yang diserahi tugas pekerjaan dalam keadaan tidak memiliki rumah maka hendaklah ia mendapatkan rumah. Jika ia tidak memiliki isteri maka hendaklah ia menikah. Jika ia tidak memiliki pembantu maka hendaklah ia mendapatkannya. Bila ia tidak memiliki hewan tunggangan hendaklah ia memilikinya. Dan barang siapa yang mendapatkan selain itu maka ia telah melakukan kecurangan” .

Hadits-hadits tersebut memberikan hak kepada pegawai negeri (pejabat pemerintahan) untuk memperoleh gaji dan fasilitas, baik perumahan, isteri, pembantu, ataupun alat transportasi. Semua harus disiapkan oleh negara.

Guru tidak dipandang sebagai tenaga yang menghasilkan uang atau mesin pencetak uang sebagaimana tenaga kerja yang lain. Tetapi lebih kepada penjaga dan perantara ilmu kepada generasi penerus. Juga bukan sebagai aset tenaga kerja yang mengajsilkan materi. Tapi sebagai seorang yang berilmu, yang memiliki tugas yang berat untuk mengajarkan ilmunya kepada anak didik generasi negeri. Tak layak jika guru dipandang sebelah mata oleh negara dan penguasa.[MO/an]


Posting Komentar