Oleh : Agus susanti 
(Aktivis dakwah/Anggota Amk3)

Mediaoposisi.com-Barang siapa tidak mencintai untuk agama dan membenci untuk agama, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya ia tidak memiliki agama (Abu Abdilah al- Shdiq).

Kata-kata mutiara ini sangat tepat bagi seseorang atau kelompok yang mengakui bahwa dirinya muslim dan hamba-Nya Allah yang maha ESA, namun alergi bila mendengar tentang syariatnya. Bahkan suatu kesalahan yang fatal bila ia sampai menghalangi/ menentang bila umat ingin agar Indonesia yang tercinta menerapkan hukum islam dalam segala rana kehidupan.

Senin, 29 Oktobere 2018 - Kasus pengibaran bendera bertuliskan kalimat Tauhid milik organisasi terlarang HTI menjadi perhatian Menkopolhukam Wiranto. Saat berkunjung ke Jawa Timur, Wiranto menegaskan aksi tersebut sebagai tindakan yang merujuk pada pengkhianatan ideologi Indonesia.

Dirinya juga mengatakan bagi siapa yang tidak suka dengan pancasila agar pergi saja dari Indonesia.

Sontak perkataan bapak Wiranto ini menjadi perhatian publik, karena dianggap tidak sesuai dengan statusnya sebagai seorang muslim.

Bahkan para relawan yang sempat mengikuti aksi bela bendera tauhid yang dibakar oleh beberapa oknum dari salah satu ormas ini pun akhirnya meminta agar bapak wiranto segera bertaubat dan meminta ampunan pada sang pencipta.

Pemerintah terus mengopinikan bahwa khilafah yang notabenenya adalah bagian dari ajaran islam sebagai suatu yang akan mengancam kesejahteraan masyarakat dan mengancam kedudukan NKRI.

Bahkan mengibarkan bendera yang bertuliskan kalimat tauhid “Laa ilaha illallah muhammad rasulullah” dianggap sebagai penghianatan terhadap pancasila.

Ideologi kapitalis telah membuat manusia lupa akan posisinya sebagai makhluk yang tujuan hidupnya seharusnya adalah untuk mengabdi/ beribadah pada Rabb-NYA. Mereka terlalu sibuk dengan urusan duniawi  yang hanya sementara, bahkan aqidah mereka rela digadaikan demi harta, dan tahta.

Diperparah lagi dengan menerapkan sistem sekuler sehingga beranggapan bahwa yang berhak membuat aturan untuk kehidupan di dunia adalah manusia itu sendiri. Sedangkan peran Tuhan di tiadakan, di kesampingkan hanya dipakai ketika urusan ibadah saja.

Dan bila kita mau jujur dan membuka mata, maka kita akan melihat bahwa yang mengancam keutuhan NKRI adalah liberal-kapitalis dimana mengijinkan asing dan aseng ikut campur dalam tata Negara dengan membuka investasi yang sebesar-besarnya.

Padahal kita tahu kaum kafir tidak akan puas sampai melihat kaum muslimin hancur. Dan untuk Pancasila itu sendiri sesungguhnya pemerintahlah yang mengkhianatinya karena tidak menjalankan setiap butir pancasila.

Butir pertama ketuhanan YME, seharusnya implikasi dari kalimat itu adalah pengakuan bahwa tuhan-nya adala Allah. Jika demikian mengapa anti dengan syariatNYA!

Indonesia adalah negeri yang kaya akan SDA, bahkan di penuhi dengan penduduk yang mayoritas muslim, namun mengapa kita tidak bisa mandiri dan bebas untuk menerapkan sistem islam?

Mengapa kita biarkan Indonesia terus di dikte oleh Negara lain, sehingga apapun yang akan di berlakukan dalam Negara harus mengikuti Negara barat dengan penerapan sistem kufur.

Maka wajar bila para pemimpin kita merasa khawatir bila rakyatnya sudah mulai mengeluarkan suara dan penolakan terhadap sistem yang saat ini diterapkan di Indonesia yang membawa kemudharatan bagi rakyat dan juga tidak diridhoi Allah.

Hal ini tentu karena ada perintah dari Negara pendikte barat. Dan Indonesia terlalu takut untuk melawan keinginan dari mereka. Padahal Rasulullah sudah memperingatkan keharaman bagi seluruh kaum muslim mengikuti kebiasaan kaum kafir  termasuk dalam mengikuti sistem pemerintahan.

Barang siapa menyerupai suatu kaum, dia termasuk dari mereka.” (HR. abu daud dan Ahmad).

Apakah para pemimpin kita yang anti / takut dengan syariat islam lupa bahwa setiap harinya dalam 5 waktu mereka selalu meminta dalam salatnya agar senantiasa di tunjukkan jalan yang lurus yang sesuai ketentuan sang Kholiq.

 اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ {} صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ 

artinya : “Tunjukilah kami ke jalan Engkau yang lurus. Jalan orang-orang yang Engkau telah beri nikmat atas mereka dan bukan jalan orang-orang yang Engkau murkai dan sesatkan.” (al- Fatihah: 6—7)”

Tapi tetap saja mereka lebih memilih untuk menerapkan sistem yang menyesatkan. Syariat islam bukanlah ancaman untuk siapapun, apalagi bagi negeri.

Karena Islam adalah rahmat bagi seluruh alam, dimana ketika sebuah Negeri menerapkan islam maka bukan hanya umat yang beragama islam yang akan merasa sejahtera namun para penduduk non muslim juga merasakan hak yang sama.

Bahkan mereka tidak akan dipaksa untuk meninggalkan agamanya dan menjadi mu’alaf. Mereka tetap bisa beribadah dan makan-makanan yang biasa mereka makan sekalipun itu diharamkan bagi umat muslim. Hanya saja tempatnya yang disesuaikan dan terbatas bagi non muslim saja.

Syariat islam adalah cara Allah melindungi hambanya dan bukan untuk menyusahkan atau mendzolimi umatnya. Misal diwajibkannya seorang wanita menutup aurat dengan mengunakan jilbab dan kerudung untuk melindungi dari mata kaum lelaki yang mungkin punya niat buruk.

Di perintahkan untuk melaksanakan uqubat ( sanksi ) potong tangan bagi pencuri, rajam bagi pelaku zina yang sudah menikah, dan hukum lainnya.

Ini semua adalah cara Islam mencegah adanya pelanggaran yang di ikuti oleh yang lain, kemudian bila sanksi ini diberikan maka menjadi penggugur dosanya di dunia. Dan islam punya solusi tuntas untuk setiap permasalahan baik dibidang ekonomi, politik, pendidikan, urusan dengan dirinya sendiri, dengan orang lain dan dengan kholiq-NYA dan problematika lainnya.

Lantas apa yang membuat kita merasa takut bila syariat islam ditegakkan?. Selain banyak kebaikkan yang akan kita rasakan namun hal ini juga karena Allah sudah memerintahkan agar kita menerapkan islam kaffah dan menjadikan islam sebagai sandaran hukum.

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

artinya : “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu”.
Dan surah lainnya :

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآَخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً

artinya : “Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah, taatlah kepada Rasul dan ulil amri di antara kalian. Jika kalian berselisih di dalam suatu perkara (apapun) maka kembalikanlah perkara itu kepada Allah dan Rasul, jika kalian beriman kepada Allah dan hari akhir. Hal itu lebih utama dan lebih baik akibatnya” (QS. An-Nisaa: 59)

Rasulullah dan para sahabat sudah pernah membuktikan kemakmuran suatu negeri yang menerapkan sistem islam dalam naungan Negara. Bahkan islam pada masa kejayaannya mampu menguasai ¾ belahan dunia.

Maka tunggu apa lagi,  kaum muslimin seharusnya  meyakini syariat islam membawa kebaikan sehingga bersegera untuk memperjuangkan penerapan syariat islam kaffah. Karena memperjuang-kannya adalah bagian dari ketaatan pada sang kholiq.

Dan bila ada yang terus kekeh mengatakan yang ingin menerapkan syariat islam untuk pergi dari Indonesia.

Maka yang lebih tepat adalah bahwa siapa saja yang tidak ingin/ menolak diterapkan syariat islam maka silahkan pergi dari belahan bumi yang di ciptakan Allah, dan silahkan buat Negara sendiri asal tidak di planet-planet atau wilayah yang bukan milik Allah.[MO/ge]







Posting Komentar