Oleh : Sunarti PrixtiRhq

Mediaoposisi.com-Miris, melihat fenomena peningkatan jumlah penderita HIV/AIDS di wilayah Ngawi, Jawa Timur. Sebagai salah satu kota di Propinsi Jawa Timur, Ngawi sebenarnya termasuk kota kecil. Namun, menilik angka peningkatan HIV/AIDS, 9sungguh memprihatinkan. Pasalnya, sebagai kota kecil yang jauh dari pergelamour kehidupan bebas layaknya kehidupan kota besar.

Hiruk pikuk Ngawi, tidaklah seberapa nampak layaknya kota-kota besar di Indonesia. Di luar dugaan, justru ditemui fenomena penderita penyakit menular yang kuar biasa. Sebagaimana diberitakan di siagaindonesia.com data yang berhasil dihimpun dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Ngawi, jumlah penderita HIV/AIDS sampai 2018 ini, totalnya mencapai 508 penderita.

Terdiri 263 pria dan sisanya 349 perempuan. Hingga kini yang dinyatakan hidup sebanyak 349 penderita sedangkan 158 penderita tidak mampu bertahan dengan ganasnya penyakit HIV/AIDS tersebut atau sudah meninggal.

Pencegahan yang dilakukan, tidaklah mengakar pada persoalan. Karena tidak bisa dipungkiri, solusi yang cepat dan tepat belumlah ditemukan. Seperti halnya, upaya-upaya yang jelas dilakukan akhir-akhir ini. Seperti penyebaran alat pendeteksi dini HIV/AIDS.

Jelas Jaswadi (sebagai Kasi Pengendalian Penyakit Menular Dinkes Kabupaten Ngawi) untuk mencegah sekaligus mendeteksi dini tertularnya HIV/AIDS melalui Dinkes Kabupaten Ngawi hingga kini ada tiga lokasi klinik VCT. Tiga klinik yang dimaksudkan tersebut berada di RSUD dr Soeroto Ngawi, Puskesmas Ngawi Kota dan Puskesmas Jogorogo.

Penyebaran penyakit ini, tidaklah bisa dicegah dengan deteksi dini saja. Namun juga harus ada korelasi dengan pihak-pihak yang lain. Mengingat penyebaran HIV/AIDS yang sudah sulit terkendali. Karena tidak hanya menyoal pada deteksi saja, tapi juga perilaku sosial. Sebagaimana sudah diketahui, bahwa salah satu penularannya adalah perilaku sek bebas.

Untuk penularan HIV/AIDS ungkap Jaswadi, memang berbagai faktor salah satunya melakukan sex bebas. Sehingga ia mengingatkan untuk menjalani hidup sehat tanpa melakukan sex bebas tanpa alat pengaman. Soal keberadaan warung remang-remang yang mungkin ada di wilayah Ngawi bisa menjadi salah satu penyebab penularan HIV/AIDS namun pada dasarnya berbagai macam penyebab. (siagaindonesia.com)

Tingkat keparahan dekadensi moral
Seks bebas yang menjadi penyakit masyarakat sudahlah sulit dikendalikan. Pelampiasan gharizah nau' ini merajalela begitu saja tanpa batas kehalalan.

Seharusnya ada upaya kuat dan sistematis untuk mencegah dan menghentikan penyakit HIV/AIDS. Upaya yang dilakukan juga harus optimal. Mulai dari individu yang seharusnya memiliki keimanan yang kuat. Sehingga tidak akan mudah melampiaskan nafsunya kepada selain pasangan halalnya.
Yang berikutnya adalah kontrol dari masyarakat.

Di mana sebagai warga negara, ada upaya untuk menjaga pergaulan di tengah-tengah mereka. Saling mengingatkan akan ketaatan kepada Allah SWT. Segera bertindak cepat apabila ditemukan penyimpangan yang mengarah pada pergaulan/seks bebas. Agar nantinya tidak berlanjut menjadi PMS (penyakit menular seksual).

Ada tindakan yang tegas dari negara, ini juga menjadi point yang penting dalam tindakan preventif dan kuratif. Sebagai pemegang kebijakan, negara berkewajiban melakukan edukasi di tengah-tengah masyarakat. Tentang bahaya penyakit, penyebaran dan pencegahannya.

Sementara bagi yang sudah terjangkit, negara juga punya kewenangan untuk mengkarantina terhadap pengidapnya. Karena orang yang sudah positif terinfeksi visus HIV/AIDS, dia akan menjadi resipien. Bagi penderita yang tertular melalui zina/pelaku zina, jelas hukumnya, adanya jilid dan rajam sampai mati (muhson ataupun ghoiru muhson). Bagi yang tertular selain zina akan dikarantina dan diobati sesuai kebutuhannya.

Sebagaimana terdapat dalil :
"Jika kalian mendengar tentang wabah wabah di suatu negeri, maka janganlah kalian memasukinya. Tetapi jika terjadi wabah di suatu tempat kalian berada, maka janganlah kalian meninggalkan tempat itu.” (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Ilmu pengetahuan modern sudah bisa mengerti cara-cara di mana mikro-organisme berkembang biak dan menyebabkan penyakit. Para ilmuwan menegaskan bahwa orang sehat yang tidak memiliki gejala-gejala di tempat wabah itu bisa membawa mikroba sehingga menjadi ancaman nyata karena ia dapat mentransfer wabah ke tempat lain jika mereka pindah ke tempat itu.

Dengan demikian, sistem karantina ini, di mana semua orang-orang kota yang menderita wabah dicegah meninggalkan tempat tersebut, dan pengunjung juga dicegah masuk, sekarang telah diberlakukan di seluruh dunia. Pada abad ke-15, wabah penyakit melanda Eropa menyebabkan kematian seperempat warganya. Pada saat itu, malapetaka dan penyakit menular jauh lebih sedikit di dunia Muslim.[MO/sr]


Posting Komentar