Oleh: Kinkin Rosmawati, S.Pd
(Praktisi Pendidikan: Pengajar di TK Plus Lestari Bandung)

Mediaoposisi.com-Peristiwa pembakaran bendera tauhid beberapa hari lalu oleh segerombolan orang dari sebuah ormas yang mengatas namakan diri mereka islam telah menuai banyak kecaman dan mengundang reaksi keras dari berbagai elemen masyarakat hingga hari ini.

Tindak asusila yang dilakukan oleh oknum Banser ini telah menyulut kemarahan masyarakat terkhusus muslim di negeri ini. Aksi demi aksi terus bergulir dari satu daerah ke daerah lain. Bahkan sampai mancanegara.

Namun sayang rasa marah masyarakat yang berujung turun ke jalanan tidak diimbangi dengan respon baik, oleh aparatur negara maupun kelompok yang melakukan pembakaran tersebut.

Kemarahan masyrakat akan tindakan pembakaran bendera simbol tauhid yang bertuliskan “Laa ilaaha illallah, Muhammadarrasulullah” bukan tanpa alasan. Bendera itu bukanlah bendera milik suatu ormas namun itu adalah bendera milik kaum muslimin.

Milik seluruh umat muslim di dunia ini, naungan di hari penghisaban nanti. Kalimat Tauhid itu adalah tumpuan bagi seorang muslim dalam hidupnya.

Banyak muslim yang kini sadar seberapa berharganya kalimat tauhid, hingga mereka bangga menggunakan kalimah ini di berbagai atribut yang dapat mereka kenakan termasuk bendera.

Dengan mengibarkan bendera tauhid, bukan berarti dia tidak mencintai negeri tempatnya berpijak. Soal mencintai negeri itu adalah hal lain yang tidak ada sangkut pautnya dengan pengibaran bendera tauhid.

Karena dimanapun seorang muslim itu berada, baik di negeri ini ataupun bukan ia tetap memiliki hak untuk mengibarkan bendera tauhid.

Karena bendera itu milik seluruh ummatnya Rasulullah. Bagi seorang muslim, mencintai tempat tinggalnya adalah menjaganya dengan cara berjuang menerapkan hukum-hukum Allah di setiap pelosok negeri juga setiap aspek kehidupannya.

Sebab ia sadar Allah lah yang menciptakan langit tempatnya bernaung dan bumi tempatnya berpijak termasuk tanah air tempatnya dilahirkan dan dibesarkan.

Menjadi seorang muslim adalah anugerah terindah yang Allah berikan kepada setiap individu. Karena kenikmatan untuk beriman kepada sang Khalik tak bisa dirasakan oleh semua orang di dunia ini. Menjadi seorang muslim memang pilihan.

Namun sebagaimana hidayah, datangnya lantas tidak begitu saja. Menjadi muslim haruslah disadari dengan segenap hati tanpa ada paksaan dan intimidasi dari siapa saja selain dirinya.

Bagi seorang muslim kalimat tauhid adalah harga mati yang tidak dapat ditebus oleh apapun jua di dunia ini. Kalimat tauhid adalah gerbang masuk seseorang ke dalam islam dan dengannya lah seluruh aturan kehidupan dalam kesehariannya dilaksanakan.

Kalimat tauhid adalah lambang kemerdekaan hakiki dari penghambaan pada makhluk menuju penghambaan kepada Allah semata.

Kalimat ini pula yang akan menjadi penyelamat kaum muslim di akhirat nanti. Tak ayal setiap muslim ingin hidupnya berakhir dengan kalimat “Laa ilaaha illallah, Muhammadarrasulullah”.

Persaksian yang beratnya melebihi bumi dan langit serta naungan di hari penghisaban nanti. Semoga Allah mudahkan lisan kita saat menyebutkan dua kalimat syahadat di penghujung helaan nafas kita. Aamiin.[MO/ge]


Posting Komentar