Oleh : Sofia Ariyani, SS 
"Member Akademi Menulis Kreatif"

Mediaoposisi.com-Yang halal adalah halal, yang haram adalah haram. Hitam adalah hitam, putih adalah putih. Begitulah standar hidup di dalam Islam, tidak ada yang abu-abu. Beberapa hari yang lalu warganet dibuat heboh oleh keputusan MUI (Majelis Ulama Indonesia) dalam rapat pleno Dewan Syariah Nasional (DSN) mengenai bolehnya dana non halal digunakan untuk kemaslahatan umat dan kepentingan umum.

Sebagaimana dilansir cnnindonesia.com, Hal itu diputuskan dalam rapat pleno Dewan Syariah Nasional (DSN) MUI di Ancol, Jakarta, pada Kamis (8/11) yang dipimpin Ketua MUI yang juga menjadi cawapres nomor urut 01 Ma'ruf Amin.

"Dana nonhalal wajib digunakan dan disalurkan untuk kemaslahatan umat dan kepentingan umum yang tidak bertentangan dengan prinsip syariat," ujar Ketua Komisi Fatwa MUI Hasanuddin saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (8/11).

Padahal DSN sendiri telah memfatwakan bahwa dana nonhalal berasal dari kegiatan yang tidak halal. Dilansir dari depokpos.com, Dana non halal adalah setiap pendapatan yang bersumber dari usaha yang tidak halal.

Fatwa Dewan Syariah Nasional (DSN) MUI menjelaskan beberapa jenis kegiatan usaha yang bertentangan dengan prinsip syariah tersebut yaituUsaha Lembaga keuangan konvensional, seperti usaha perbankan konvensional dan asuransi konvensional.

Melakukan investasi pada perusahaan yang pada saat transaksi, tingkat utang perusahaan kepada lembaga keuangan ribawi lebih dominan dari pada modalnya.Perjudian, permainan judi dan perdagangan yang terlarang.Produsen, distributor, serta pedagang makanan dan minuman haram atau penyedia barang ataupun jasa yang merusak moral atau bersifat buruk.

Sangat tidak masuk akal ketika DSN telah memfatwakan hal tersebut adalah haram namun ketika ada kepentingan lain fatwa tersebut dicabut keharamannya menjadi boleh.

Dan miris ketika ulama sebagai pewaris nabi, penjaga syariat-syariat-Nya justru membolehkan hal yang diharamkan oleh hukum Syara'. Adalah kewajiban seorang ulama dalam membimbing umat ke jalan syariat apalagi umat jauh dari masa kehidupan Rasulullah Saw, yang butuh bimbingan, butuh pengontrol dari ulama.

Bukan malah melegitimasi kebijakan yang bertentangan dengan syariat-Nya yang membuat umat bingung dan terjerumus dalam kemaksiatan massal.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ، إِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَاراً وَلاَدِرْهَماً إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنَ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

“Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu. Barang siapa mengambil warisan tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. al-Imam at-Tirmidzi)

Islam begitu gamblang ketika menghukumi suatu benda atau perbuatan. Ketika halal adalah halal, haram adalah haram. Dan tidak bisa diubah yang halal menjadi haram atau sebaliknya haram menjadi halal.

Inilah buah dari sistem Sekularisme yang merusak tatanan kehidupan manusia karena peran Tuhan dikesampingkan, tidak boleh Tuhan mengatur ranah publik, cukup berada di rumah-rumah ibadah saja. Akhirnya tidak ada batasan-batasan norma yang berlaku di setiap aktivitas.

Tidak ada standar nilai hidup, yang haram bisa halal yang halal bisa haram. Sejatinya Sekularisme adalah racun berbalut madu, terlihat manis namun ketika sistem itu merasuk ke dalam raga mengkristal di dalam jiwa akan mampu menghancurkan manusia itu sendiri tak terkecuali menghancurkan seorang muslim.

Lihat bagaimana Sekularisme merusak dan menghancurkan manusia, di belahan negara Barat sana melegalkan atas nama kebebasan-yang tidak ingin Tuhan terlibat pada aktivitasnya-marak generasi mudanya tidak ingin terikat dengan tali pernikahan maka kumpul kebo menjadi solusi. Ketika tidak ingin mempunyai keturunan maka menginfertilisasi diri.

Atau dengan cara menikah dengan sesama jenis, perempuan menikah dengan perempuan atau lesbi, atau homo/gay laki-laki menikah dengan laki-laki. Atau aborsi jika kadung hamil. Inilah kebahayaan Sekularisme yang bisa mereduksi loyalitas umat kepada syariat jika Allah SWT tidak disertai dalam segala aktivitasnya.

Kepada ulama pewaris nabi, kalianlah ujung tombak keselamatan umat. Tanpa ulama umat bagai bulu yang terbang tak tentu arah ditiup angin. Tidakkah kalian takut akan murka Allah? Ingatlah pada firmanNya:
وَلَا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَٰذَا حَلَالٌ وَهَٰذَا حَرَامٌ لِتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ مَتَاعٌ قَلِيلٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung. (Itu adalah) kesenangan yang sedikit; dan bagi mereka azab yang pedih. [an-Nahl /16 : 116-117]

Dan kepada kaum Muslimin janganlah kalian buta dalam bertaqlid ketika ulamanya sudah teracuni pemahaman asing. Masuklah kalian kepada Islam yang kaffah. Bukan menjadi sekularis, liberalis, kapitalis, sosialis dan sebagainya. Maka marilah memperdalam ilmu agama dengan senantiasa mengkaji syariat-Nya agar tidak keliru dalam mengadopsi hukum-hukum Allah SWT.[MO/an]

Posting Komentar