Oleh : Ayu Mela Yulianti, SPt
Pemerhati Masalah Umat

Mediaoposisi.com-Presiden Joko Widodo mengucapkan selamat Hari Guru yang jatuh pada hari Minggu (25/11/2018)."Saya ingin mengucapkan selamat Hari Guru kepada seluruh guru dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote," kata Jokowi.

Jokowi mengungkapkan, guru adalah pembangkit inspirasi. Guru memberikan ilmu serta memberi-kan bimbingan agar Indonesia bisa meningkatkan kualitas sumber daya yang ada (Kompas.com)
Tentu menjadi sesuatu yang membanggakan jika guru mendapatkan apresiasi berupa ucapan selamat dari pemimpin negeri.

Akan tetapi lain halnya jika ucapan tersebut dianggap sekedar basa-basi. Tersebab ucapan tidak sesuai dengan perbuatan. Belum lama, saat guru honorer berdemonstrasi menyampaikan aspirasi pendapat dan keinginannya. Sang pemberi ucapan selamat malah menghilang hingga menimbulkan korban dipihak pendemo. 

Hasil demo pun tidak sesuai dengan harapan pendemo, hanya mengangkat sebagian guru honorer dengan konsep kontrak kerja, tidak diangkat otomatis sebagai pegawai  seperti yang diharapkan pendemo.

Inilah yang menyebabkan ucapannya ditenggarai sebagai ucapan basa basi belaka. Terlepas dari ucapan selamat hari guru apakah ucapan tulus ataukah sekedar basa basi, hanya pelaku saja yang dapat menjawabnya. Tersebab sangat sulit untuk membedakan ketulusan ucapan atau sekedar basa basi dalam kepemimpinan demokrasi dalam sistem sekuler kapitalis.

Maka, sistem hidup sekuler kapitalis, hanya membuat pemimpin dalam kepemimpinan demokrasi menjadi pemimpin hipokrit. Tidak bisa dipegang ucapannya. Pemimpin yang hanya mampu memberikan janji, tanpa mampu untuk merealisasikannya.

Tersebab karakteristik kepemimpinan demokrasi dalam sistem sekuler kapitalis tidak akan pernah bersungguh-sungguh dalam  merealisasikan janji kesejahteraan guru dan warga masyarakat umumnya. Karena sistem kapitalis sekuler akan memberikan ganjalan luar biasa bagi realisasi janji manis para pemimpin saat kampanye dulu.

Karenanya  sistem kapitalis sekuler dalam kepemimpinan demokrasi, hanya membuat para pemimpinnya speakless, banyak bohong dan basa-basi akibat ketidakmampuan merealisasikan janji-janji manis yang pernah diucapkan saat kampanye.

Kedudukan Pemimpin dalam Mengapresiasi Guru
Sejatinya, seorang pemimpin adalah teladan. Pemenuh seluruh kebutuhan warga yang dipimpinnya. Ucapannya harus sesuai dengan perbuatannya.

Pemimpin sejatinya orang yang sangat mengerti kebutuhan warga yang dipimpinnya. Memberikan perhatian dan solusi kongkrit bukan sekedar pencitraan. Mau menerima kedatangan warga yang dipimpinnya baik dalam keadaan susah maupun dalam keadaan senang. Mendengarkannya keluh kesah dan memberikan solusi kongkrit atas permasalahan yang diadukannnya.

Adapun guru adalah salah satu profesi yang diampu oleh individu masyarakat. Islam memandang profesi guru dengan pandangan penuh kemuliaan, tersebab guru adalah pencetak generasi mulia dan arsitek peradaban agung manusia.

Islam sangat menghargai profesi ini. Dengan sepenuh penghargaan, bukan basa-basi atau karena ada udang dibalik batu, bukan. Karenanya Syariat telah memerintahkan kepada Khalifah untuk memberi-kan penghargaan setinggi-tingginya kepada guru. Bukan hanya ucapan basa basi, namun upaya penuh kesungguhan untuk menghargai setiap karya guru. Dengan memberikan penghargaan yang bersifat materi maupun imateri.

Hal ini telah dicontohkan oleh Rasulullah saw sendiri dan para Khalifah setelahnya yang menerapkan syariat Islam kaffah. Oleh karena itu, saatnya mengambil sistem syariat Islam sebagai solusi atas berbagai problematika umat manusia dan mengembalikan kemuliaan para guru. Tak ada yang perlu ditakutkan dari syariat Islam.

Karena syariat akan mampu mengembalikan fungsi guru sebagai arsitek peradaban mulia manusia, selain juga menciptakan pemimpin-pemimpin umat yang tangguh, konsisten antara kesesuaian ucapan dan perbuatan, pemimpin yang cerdas, jujur, dapat dipercaya, komitmen pada kebenaran,  tanggung jawab dan berjiwa kesatria.

Syariat hanya akan menghukum orang-orang yang mengaku berbuat salah dan dosa. Syariat Islam sangat menghargai pluralitas yang ada dimasyarakat. Syariat Islam tidak pernah dan tidak akan memaksa individu manusia untuk masuk memeluk agama Islam, kecuali dengan kemauannya sendiri.

Karena syariat Islam akan memberikan jalan kepada para guru agar mampu mengabdi sepenuh hati saat menjadi arsitek peradaban, selain juga syariat islam akan memberikan jalan kepada pemimpin umat yaitu Khalifah, tentang bagaimana cara memenuhi janji yang pernah diucapkan.

Karena syariat Islam akan mampu memenuhi segala harap dan keinginan seluruh warga masyarakat dan harapan serta cita-cita guru salah satunya.

Lalu apa yang menyebabkan manusia bertahan dan mempertahankan demokrasi yang hanya menyumbangkan banyak kekecewaan hidup ?.  Hawa nafsu dan kebodohanlah yang menyebabkan manusia banyak terjebak bermain dalam demokrasi sistem kufur.

Hawa nafsu yang dapat menghilangkan akal sehat dan kewarasan manusia. Dan kebodohan yang menyebabkan manusia tidak pernah mau belajar tentang arti sebuah kegagalan, yang memang demokrasi telah menciptakan kondisi kegagalan utamanya dalam memuliakan guru.[MO/ge]


Posting Komentar