Oleh: Tikara Shalihah

Mediaoposisi.com- Ketenangan umat kembali terusik dengan pernyataan dari Badan Inteligen Negara (BIN).
BIN mengungkap ada 41 dari 100 masjid di lingkungan kementerian, lembaga serta Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang terindikasi telah terpapar radikalisme (cnnindonesia. com, 17/11/2018).

Namun tak lama, Jurubicara BIN Wawan Purwanto mengklarifikasi bahwa bukan masjid yang terpapar radikalisme melainkan konten ceramah yang dibawa oleh penceramah.
"Jadi konten ceramahnya. Masjid tidak ada yang radikal, tapi penceramahnya. Ada sekitar 50 penceramah," kata Wawan saat jumpa pers di Jakarta Selatan, Selasa (20/11).

Jika dilihat dari fakta di atas, informasi yang di publikasikan BIN sebelumnya belum valid. Seharusnya BIN tidak sembarang memberikan informasi ke masyarakat jika itu memang belum terbukti kebenarannya karena hal demikian hanya akan menambah kekeruhan dan kehawatiran ditengah masyarakat.

Dan ketikapun faktanya benar, hasil ini harusnya cukup diselesaikan dengan aparatur pemerintahan dan yang bersangkutan karena produk inteljen merupakan pertimbangan pemerintah dalam mengambil keputusan.

Disinipun bisa kita lihat, tolak ukur  dalam menetapkan sesuatu dengan kategori radikalisme ini sebenarnya tidaklah jelas. Dan dari sekian banyak penyelidikan yang dilakukan, hanya masjid yang terdata terpapar radikalisme. Seolah umat muslim satu-satunya sasaran dari faham ini. Dan ini adalah kejadian yang kesekian kalinya.

Istilah radikal ini kembali di alamatkan kepada orang-orang atau kelompok muslim yang menentang ideologi barat seperti kapitalisme, sekulerisme dan turunannya.
Radikalisme dijadikan propaganda agar umat takut bahkan menjauh dari agamanya sendiri.

Padahal Islam bukanlah agama seperti yang dituduhkan.
Islam merupakan agama yang sempurna.
Islam merupakan rahmat bagi seluruh alam.
Dan Islam agama yang Allah ridhoi.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Pada hari ini telah Aku sempurnakan bagimu agamamu, dan telah Aku sempurnakan nikmat-Ku, dan Aku ridha Islam sebagai agama bagimu sekalian.”(QS. Al-Maidah ayat 3)

Begitu sempurnanya Islam. Islam mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, mulai dari hubungan manusia dan Tuhannya, manusia dengan sesama manusia, dan manusia dengan dirinya sendiri.
Islam mengatur seluruh aspek kehidupan, mulai dari pekara ibadah, politik, ekonomi, muamalah, pendidikan dan yang lainnya.

Aturan ini membawa kebaikan bagi seluruhnya. Kebaikan ini tidak bisa dirasakan jika aturannya tidak diterapkan secara menyeluruh dalam seluruh lini kehidupan.

Dan hari ini umat mulai menyadari akan hal ini. Cahaya kebangkitan itu mulai terlihat. Namun amatlah aneh. Ketika umat mulai memiliki kesadaran, semakin memdekat dan ingin mengamalkan seluruh ajaran agamanya, rezim malah seolah panik menghadapi ini semua.
Orang-orang yang tidak menyukainya mulai tampak, sontak radikal di sematkan pada mereka.

Namun, Pertentangan dalam arus kebangkitan ini merupakan sunatullah.
Para pejuang dan penentang itu akan selalu ada dalam setiap fase kebangkitan.
Dan yang jadi pertanyaan adalah, bagaimana kita dalam menyikapi hal ini?
Hari ini kita berada dimana?

Berada di barisan para pejuang yang berusaha mengembalikan Islam dalam mengatur kehidupan ataukah sebaliknya menjadi para penentang yang coba meredupkan cahayanya?[MO/sr]



Posting Komentar