Oleh: Fardila Indrianti, S.Pd
(Praktisi Pendidikan dan The Voice Of Muslimah Papua Barat)

Mediaoposisi.com-Beberapa waktu yang lalu tepatnya tanggal 25 November seluruh rakyat Indonesia merayakan hari yang dianggap penting bagi dunia pendidikan, ya itulah hari guru. Hari guru nasional ini ditetapkan oleh pemerintah dengan Keputusan Presiden Nomor 78 Tahun 1994. Hari guru nasional ini juga sebagai tanda terbentuknya Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI).

Momen ini dijadikan hari libur nasional dan dirayakan dalam bentuk upacara peringatan di berbagai sekolah. Namun benarkah perayaan tersebut sesuai dengan realitas yang terjadi pada guru?

 Sangat disayangkan peringatan hari guru yang dilaksanakan oleh seluruh sekolah baik jajaran guru maupun siswa berbanding terbalik dengan nasib dan peran guru saat ini. Masih lekat dalam ingatan peristiwa yang menghebohkan dunia pendidikan, dimana seorang guru bernama Ahmad Budi Cahyono yang merupakan guru kesenian di SMAN 1 Torju, kabupaten Sampang, meninggal setelah dipukul oleh muridnya lantaran tak terima ditegur olehnya.

Lain halnya kasus kekerasan yang terjadi di SMA N 1 Kubu Raya, Kalimantan Barat, dimana siswa memukul gurunya sendiri menggunakan kursi setelah tidak terima dirinya tidak naik kelas karena nilai yang diberikan guru tersebut kurang.

Lain lagi yang dialami oleh kepala sekolah di SMP 4 Lolak, kabupaten Bolmong, Sulawesi Utara, yang mendapat penganiayaan oleh orang tua siswa lantaran tak terima anaknya ditegur karena berkelakuan nakal. (Tribunnews.com/14/2/2018)

Belum lagi berbagai peristiwa lain yang dialami di dunia pendidikan, kasus 12 siswa di sebuah SMP di Lampung yang hamil sangat memprihatinkan, bahkan yang terbaru viralnya video yang menunjukkan seorang guru yang “seolah” dikeroyok oleh siswa-siswanya di SMU NU 03 Kendal, Jawa Tengah.

Peristiwa yang direkam oleh salah satu siswa berdurasi 24 detik tersebut menunjukkan Pak Joko Susilo yang terlihat sedang dikeroyok oleh beberapa orang siswa, yang pada akhirnya diakui sebagai candaan semata. (Kompas.com/13/11/2018)

Betapa saat ini guru tidak memiliki nilai sama sekali dimata siswanya bahkan dimata masyarakat, maka tak heran berbagai peristiwa tersebut dapat terjadi. Guru yang diibaratkan sebagai “pahlawan” pun seolah hanya menjadi slogan semata, sekedar sebagai pelipur lara. Bagaimana tidak, dengan segala tanggung jawab serta kemuliaan yang dimilikinya, hal ini ibarat jauh panggang daripada api, fakta yang dialami sebagian besar guru di negeri ini tidaklah sesuai dengan harapan.

Betapa banyak guru yang hidupnya jauh di bawah kesejahteraan, dibalik segala beban dan tanggung jawab lain yang diamanahkan kepadanya. Hak yang diterima gurupun tidak sesuai dengan harapan, terutama guru honorer, bahkan nasibnya tidak begitu diperhatikan.

Di berbagai negeri tidak jarang gaji guru honorer yang diterima jauh dari standar upah minimum, padahal tidak sedikit yang menghabiskan puluhan tahun mengabdikan dirinya sebagai tenaga pendidik. Teringat salah satu kalimat yang sangat terkenal, "guru digaji kecil untuk memperbaiki akhlak manusia, artis digaji besar untuk merusak akhlak manusia", dan ini benar adanya.

Pemerintahpun terkesan abai akan nasib yang dialami oleh para guru tersebut, ini terbukti ketika ribuan guru honorer melakukan aksi demo dan menginap di depan istana negara tanggal 30 Oktober lalu.

Ribuan karyawan honorer kategori dua (K2), yang mayoritas guru, melakukan aksi demonstrasi menuntut janji presiden agar diangkat menjadi calon pegawai negeri sipil (CPNS). Namun yang ada, p0residen Joko Widodo bungkam saat diminta tanggapan soal aksi unjuk rasa dan tuntutan guru honorer di depan Istana Negara, ketika sedang melakukan kunjungan pada Sains Expo di ICE, BSD, Tangerang Selatan. (cnnindonesia.com/1/1/2018)

Guru yang telah menjadi Aparatur Sipil Negara pun juga memiliki dilema tersendiri. Menjamurnya praktik-praktik ribawi mampu menjerat dan membius para guru untuk masuk kedalamnya, maka telah menjadi rahasia umum apabila banyak SK guru ASN yang tergadai di bank maupun tempat ribawi lainnya.

Inilah realitas yang terjadi pada guru di dalam lingkaran sistem kapitalis saat ini. Guru yang sejatinya memiliki peran sentral dalam pembentukan akhlak dan karakter siswa tak mendapat perhatian serius dari pemerintah.

Sistem pembelajaran yang diterapkan di dalam kurikulum pun seolah lebih mengedepankan hasil tanpa menilai proses perkembangan peserta didik, hal ini diperparah dengan berbagai tuntutan administratif yang harus diselesaikan oleh guru. Maka tak heran kadangkala hasil pembelajaran yang diperoleh sangat jauh dari fakta yang ada di lapangan.

Islam Memuliakan Guru
Islam sangat memuliakan seorang guru, hal ini dikarenakan dengan pengetahuan yang diberikan oleh seorang guru dapat mengantarkan manusia untuk selalu berpikir dan menganalisa hakikat semua fenomena yang ada pada alam, sehingga mampu membawa manusia semakin dekat dengan Allah SWT.

Di dalam Islam, guru memiliki peran yang sangat mulia, Allah SWT bahkan meninggikan orang yang berilmu beberapa derajat, sebagaimana Surah Al-Mujadalah ayat 11 yang artinya, “. . . . Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al-Mujadalah [58]: 11)

Rasulullah Saw juga sangat memuliakan guru, sebagaimana hadits Rasulullah yang artinya, “Tinta para ulama lebih tinggi nilainya daripada darah para shuhada”. (HR. Abu Daud dan Tirmidzi). Rasulullah Saw juga bersabda yang artinya, “Sebaik-baik kamu adalah orang yang mempelajari Al-Quran dan mengamalkanya”. (HR. Bukhari)

Imam Al-Ghazali menukil beberapa hadits Nabi tentang keutamaan seorang pendidik. Ia berkesimpulan bahwa pendidik atau guru disebut sebagai orang-orang besar (great individual) yang aktivitasnya lebih baik dari pada ibadah setahun. Bahkan ketika sedang kondisi peperangan, sebagian kaum muslimin dianjurkan untuk tidak ikut berjihad dan tetap fokus dalam pendidikan sebagaimana firman Allah Swt;

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنفِرُوا كَافَّةً ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِن كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَائِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ 

يَحْذَرُونَ

"Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya". (QS. At-Taubah[9]: 122).

Contoh lain dari mulianya seorang guru dalam sejarah peradaban Islam adalah dahsyatnya pengajaran dan motivasi guru dari Sultan Muhammad Al-Fatih, beliau adalah Syaikh Aq Syamsuddin yang mengajarkannya berbagai cabang ilmu serta memotivasinya untuk mewujudkan hadits Nabi Shallallaahu 'alaihi wasallam tentang penaklukan Konstantinopel.

Syaikh Aq Syamsuddin yang memotivasi Muhammad Al-Fatih sejak kecil bahwasanya dialah yang dimaksud dalam hadits Nabi, "Kota Konstantinopel benar-benar akan ditaklukkan. Sebaik-baik pemimpin adalah pemimpinnya dan sebaik-baik pasukan adalah pasukannya" (HR. Ahmad). Inilah yang menjadi penyemangat Muhammad Al-Fatih hingga akhirnya, pasukan Turki Utsmani mampu membebaskan Konstantinopel setelah berjuang selama 54 hari lamanya.

Di dalam sistem pemerintahan Islam, guru sangat dimuliakan dan diperhatikan kesejahteraannya. Hal ini tercatat dalam sejarah khalifah Umar ibn Khattab radhiallahu‘anhu, Beliau memiliki kepedulian yang tinggi terhadap dunia pendidikan. Pada masanya, khalifah Umar antusias dalam meningkatkan mutu pendidikan bagi generasi muslim.

Nurman Kholis, peneliti Pulitbang Lektur Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kemenag RI, menyatakan salah satu langkah yang diambil Khalifah Umar ialah menetapkan gaji bagi setiap pengajar sebanyak 15 dinar setiap bulan. Di salah satu jaman kejayaan Islam yang dikenal dengan generasinnya Shalahuddin Al Ayyubi, gaji guru di dua madrasah yang didirikannya yaitu Madrasah Suyufiah dan Madrasah Shalahiyyah berkisar antara 11 Dinar sampai dengan 40 Dinar sebulan.

Namun tengoklah keadaan guru saat ini, sungguh jauh dari kata sejahtera. Padahal peran guru begitu penting sebagai salah satu tonggak peradaban dunia.

Dengan sistem liberalisme kapitalis saat ini, guru dan siswa tidak lagi menjalankan peran idealisnya sebagai tonggak dan penggerak peradaban ummat. Maka benarlah bahwa Islam sangat memuliakan guru, dan hanya melalui sistem Islam guru akan mulia serta mampu menjalankan segala tugas dan fungsinya sebagai tonggak peradaban ummat.[MO/ge]

Posting Komentar