Oleh: Tri S, S.Si
"Penulis adalah pemerhati Perempuan dan Generasi"


Mediaoposisi.com-Setelah Film Ada Apa Dengan Cinta meledak, dunia perfilman Indonesia kembali bergeliat. Yang sebelumya kental dengan corak horror dan seks, bergeser menjadi ragam yang lebih variatif. Salah satu tema yang lalu banyak dieksplorasi adalah biopic, atau supaya lebih mudah kita sebut saja film-film profil seseorang (mojok.co, 14 Oktober 2018).

Film Hanum dan Rangga, yang diadaptasi dari kisah nyata Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra, akan tayang pada 8 November 2018. Film itu akan tayang pada hari yang sama dengan A man Called Ahok, film yang juga diangkat dari kisah nyata mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaya Purnama (Tirto.id, 11 Oktober 2018).

Tentu menarik untuk membandingkan dua film ini. Sebab, dua-dua nya punya banyak kesamaan: sama-sama berasal dari kisah nyata; sama-sama bersumber dari novel ( buku The Faith and The City karya Hanum dan buku A Man Called Ahok karya Rudi Valinka); sama-sama diangkat ke layar lebar; tampil di bulan yang sama dan direncanakan diputar pada hari yang sama.

Dua film ini semakin menarik untuk dibandingkan karena faktanya dua tokoh utama punya pandangan politik yang berseberangan. 

Lantas dimana kita harus menempatkan Ahok dan Hanum Rais setelah film keduanya tayang? Focus cerita A Man Called Ahok adalah fokus kemasa kecil Ahok di Belitung Timur hingga awal kariernya di dunia politik. Sementara itu, Hanum dan Rangga bercerita tentang pergulatan batin setelah pernikahan terjadi.

 Film ahok ini tidak saja berkisah tentang Ahok si Anak Sulung dari lima bersaudara yang berasal dari Kepulauan Belitung. Anak dari seorang China bernama Kim Nam dan Ibunya bernama Buniarti.

Jika meneruskan dan menonton film Ahok ini, akan terbayang kisah-kisah dan adegan yang super menegangkan dan menjijikkan, dan tentu saja menimbulkan kemarahan.

Pertama, penonton harus maklum dan menginsyafi pribadi Ahok yang tak Happy dalam membina rumah tangga. Bayangkan, kehidupan rumahtangga yang mungkin belum terlalu gaek, telah dinodai perselingkuhan dalam kurun waktu nyaris tujuh tahun. Pastilah adegan dan sandiwara klarifikasi pemicu perselingkuhan dari urusan asmara, keluarga hingga harta dan tahta, akan memenuhi hiruk pikuk adegan film.

Bisa dibayangkan, membina rumah tangga dan mampu bertahan dalam perselingkuhan di ambang waktu tujuh tahun. Bukankah ini mengkonfirmasi kelemahan seorang lelaki? Yang tak mampu mengikrar cerai seketika dan serta merta saat pengkhianatan cinta dan rumah tangga itu terjadi?
Kedua, menonton film Ahok berarti penonton harus maklum bahkan terpaksa diam dan terbiasa diam dan terbiasa mendengar umpatan Ahok dengan bahasa kasar, kepada rakyat yang dipimpinnya.
Siapapun, apalagi yang mengingnkan budi pekerti tumbuh subur di negeri ini tidak akan merekomendasikan menonton film Ahok. Figure pemarah, tentramental, mudah menghardik dan merendahkan, tentu bukanlah karakter asli dan tafsiran wajah Budi Pekerti pribumi yang welas asih, toleran, ramah dan beradab.

Ketiga, menonton Film Ahok mungkin justru akan menginspirasi bagaimana mafia pejabat dan korupsi dapat menjalankan aksi tanpa terkena delik hukum. Bisa dibayangkan, SK Gubernur tentang reklamasi telah keluar sebelum pembahasan Perda tentang itu. Bagaimana mungkin produk eksekutif lebih dulu terbit sebelum ada Payung hukum dari legislatif? Akhirnya, Sanusi yang menjadi penghubung podomoro untuk mengkondisikan legislatif di DPRD DKI malah tertangkap KPK.
Ahok juga mengajari mafia bagaimana lepas dari jerat pidana dengan dalih tidak ada niat jahat. Itulah, yang diajarkan Ahok kepada KPK. Sehingga, KPK melepas Ahok di korupsi RS Sumber Waras, hanya dengan dalih tidak ada niat jahat.

Keempat, dan ini yang paling penting: Ahok itu terpidana penista agama. Dia mengujar umat Islam agar jangan mau dibodohi oleh ayat Alquran. Inilah yang menggerakkan umat menuntut Ahok agar masuk bui.

Lantas, apa inspirasi yang didapat dari menonton film Ahok? Menginspirasi untuk menodai agama? Memecah belah? Mengumbar perselisihan publik?

Jika realitas Ahok demikian adanya, dan Film A Man Called Ahok  diklaim dari kisah nyata, tentu kisah nyata ini tidak layak untuk ditonton apalagi dijadikan inspirasi.

Mengenai Hanum Rais dia adalah sosok yang cukup vokal membela Ratna Sarumpaet sebelum hoaks itu terbongkar. Entah karena mendukung secara buta, atau enggan crosscek saja, nama Hanum Rais sedikit ‘ternoda’. Oleh sebab itu, pergeseran jadwal film menjadi lebih cepat tayang, dianggap sebagai langkah politik memperbaiki nama Hanum Rais sebelum Pileg 2019 nanti.

Jadi, ada dua alasan tersirat dari pergeseran film Hanum dan Rangga. Pertama, menekan popularitas Ahok yang akan bebas di Januari 2019. Kedua, memperbaiki nama Hanum Rais setelah terseret kasus hoaks. Apalagi nanti ketika Hanum mendapat jatah giliran dipanggil kepolisian untu diperiksa.

Persaingan dua kubu diatas menunjukkan fakta persaingan yang tidak elegant dan berbobot, karena bagaimanapun alasannya untuk mencerdaskan umat perlu diangkat isu-isu yang berbobot.

Elite  politik saat ini cara berfikirnya masih rendah, yaitu untuk pemenangan semata, berbeda sekali  dengan Islam.[MO/an]

Posting Komentar