Oleh: Ayu Al-Qubra

Mediaoposisi.com-Karena itu pergilah, jadikanlah semua siswa-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus. ” Matius pasal 28 ayat 19

Berangkat dari ayat di atas kaum Misionaris melancarkan aksinya kemana saja mereka pergi. Tak pernah lelah,  berbagai cara dilakukan untuk melangsungkan pemurtadan.  Di tengah Lombok dalam suasana duka akibat gempa. Celah ini di manfaatkan kaum Misionaris melancarkan aksi mereka.

Di Dusun Loloan, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB) ditemukan buku-buku yang berisi materi kristenisasi yang siap dibagikan kepada masyarakat. Padahal sebagian besar korban gempa lombok adalah umat Islam.

Farhan Abu Hamzah relawan asal kota Mataram yang tengah bertugas di Desa Loloan mengungkapkan, tidak diketahui siapa pengirim buku tersebut namun buku-buku tersebut tergeletak di posko bantuan korban gempa yang berada di kantor dusun. (VoA Islam)

Sungguh peristiwa ini mengejutkan kita umat Islam. Mengingat kasus gempa Lombok  sempat menjadi perbincangan apakah  dinaikkan statusnya menjadi Bencana nasional  atau tidak. Pertimbangan pariwisata, gempa Lombok hanya menjadi bencana daerah.

Ironi negeri Kapitalisme-Sekuler disaat duka menyelimuti Lombok. Masih sempatnya pemerintah mengenyampingkan nilai kemanusiaan dan mengedepankan nilai materi untuk pariwisata. Akibatnya kesempitan ini dimanfaat oleh kaum misionaris menjadi kesempatan. Dengan alasan bantuan kemanusiaan terselubung agenda pemurtadan atau pendangkalan aqidah.

Seharusnya hal ini tidak terjadi jika negara totalitas meriayah korban gempa Lombok. Negara sebagai junnah (perisai ) memberikan perlindungan, kesehjateraan, dan rasa aman terhadap rakyatnya. Termasuk penjagaan aqidah. Namun sangat disayangkan negara tidak dapat mewujudkan hal tersebut. Mengingat aksi pemurtadan ini bukanlah pertama kali terjadi. Beberapa kasus bencana tidak luput dari peristiwa pemurtadan yang berkedok bantuan kemanusiaan.

Kasus pemurtadan ini akan tetap ada. Selama negara  menerapakan sistem yang berasaskan Sekuler. Sistem yang  menjadikan negara  hanya sebagai regulator untuk mengurusi urusan-urusan rakyat. Memberi instruksi tanpa aksi nyata.

Serta tidak berdaya mengalokasi dana untuk korban bencana. Hanya terpaku dengan bantuan-bantuan asing yang tak tulus dan LSM-LSM. Maka kehadiran negara  yang berperan sebagai junnah dan meriayah umat semakin urgent. Negara tersebut akan terwujud jika  negara ini menerapkan sistem Islam dalam kehidupannya.[MO/sr]


Posting Komentar