Oleh : Siti Sulistiyani 

Mediaoposisi.com-Dua tersangka pembakar bendera di Garut dijatuhi vonis 10 hari penjara dan denda Rp 2.000. Persaudaraan Alumni (PA) 212 mengaku kecewa dan menilai putusan hakim tersebut telah melukai umat Islam.

"Untuk kesekian kalinya rezim ini menyakiti hati umat Islam, kami sangat kecewa, ini vonis abal-abal, dagelan," kata Ketua Umum PA Slamet Maarif Selasa (6/10).

Kekecewaan umat Islam atas putusan pengadilan tersebut adalah hal yang wajar.Bahkan menjadi keharusan bagi mereka yang masih mempunyai iman.Pembakaran bendera kalimah tauhid ini jelas merupakan bentuk penghinaan atau penodaan agama.

Ketika keimanan yang bicara maka siapapun akan geram melihat ulah tersebut.Entah dengan alasan apapun.

Entah karena alasan karena bendera ormas yang telah dibubarkan ataukah karena yang lain,tapi pembakaran yang disegaja ini telah dilakukan bahkan dengan kesadaran penuh mereka bahakan dengan sebuah sikap yang tak pantas di tunjukkan oleh mereka yang mengaku muslim.

Namun ternyata keadilan di negri ini belum berpihak pada kepentingan kaum muslimin. Bahkan pelaku pembakar bendera ini pun hanya dihukum 10 hari dan diberi denda Rp2000,00.Inipun sebenarnya juga bentuk penghinaan yang dilakukan oleh lembaga resmi Negara.

Keputusan yang demikian sangat meyakitkan.Syahadattain yang merupakan hal yang membedakan Muslim dengan kafir justru hanya dihargai 2000 perak.

Hukuman yang dilakukan ini jika dilihat dari pasal yang dituduhkan yaitu pasal mengenai “Membuat kegaduhan “ maka mungkin telah sesuai. Namun justru mayoritas umat Islam tidak menganggap persoalan ini tetapi masalah penodaan agama.

Sehingga  adanya keputusan ini jelas akan menimbulkan kekecewaan bagi kaum muslimin.
Bentuk keadilan macam apakah semacam ini. Bandingkan saja dengan kasus kasus lain. Sekalipun muslim di Indonesia jumlahnya mayoritas, namun perlakuan semacam ini sering kita jumpai di negri ini.

Bahkan ketika pembelaan kalimat tauhid ini muncul di berbagai wilayah justru persekusi yang diterima. Bahkan sekedar menyuarakan pendapat dan isi hatipun harus berhadapan dengan persekusi yang herannya justru terjadi di depan aparat penegak hukum.

Bukankah berpendapat di negri ini adalah hal yang dijamin.Namun mengapa persekusi justru terjadi.Lalu kebebasan macam apa yang dijamin di negeri ini.

Sikap kritis yang disuarakan ummat justru dihalangi. Seakan akan menampakkan ketakuan yang luar biasa,sehingga kadang justru yang muncul adalah keputusan yang jauh dari akal sehat.

lihat saja ketika umat melaporkan dan menuntut atas penodaan agama karena membakar kalimat tauhid justru yang di kanakan pasal membuat kegaduhan. Ketika umat menuntut keadilan justru yang terjadi adalah persekusi.

Bahkan peristiwa inipun telah  digoreng untuk kepentingan politik praktis menjelang 2019.Dan menganggap gejolak umat untuk menuntut keadilan dianggap sebagai politik yang mengatasnamakan sara yang kemudian dikatakan politik SONTOLOYO.

Disadari atau tidak peristiwa ini adalah peristiwa yang mampu mengantarkan umat pada satu perasaan. Karena kalimat tauhid inilah sebenarnya yang akan mampu membuat hati umat ini terpaut.

Dan ini menjadi kekahawatiran musuh musuh islam ketika kaum muslimin hati mereka telah terpaut satu dengan yang lain. Kita bisa bayangkan seandainya yang dibakar ini bukan bendera tauhid misal salah satu bendera ormas yang dibakar,

maka mungkin perasaan dihinakan hanya ada pada kelompok tersebut, sementara mungkin kaum muslimin yang lain hanya akan diam. Namun jika ini yang dibakar adalah bendera tauhid maka seluruh umat ini tentu akan membelanya.

entah dari organisasi manapun atau ormas manapun.Dan inilah yang  takutkan.”Persatuan Umat”.Dan ternyata benar persatuan umat ini membuat kepanikan yang luar biasa.

Maka mereka yang hendak memadamkan cahaya Allah pun berusaha keras untuk menghalangi munculnya bendera tauhid ini sebagai bendera persatuan kaum muslimin seluruh dunia. Maka monsterisasi dan kriminalisasi pun dilakukan untuk mencegah persatuan umat ini terjadi.

Lihat saja upaya mengkaitkan bendera kalimat tauhid ini dengan HTI misalnya.Yang dipelintir di tengah umat sebagai organisasi terlarang.Padahal secara sah dan meyakinkan bahwa bendera yang  dibakar bukan bendera HTI.

Ini dijelaskan langsung oleh jubir HTI ismail yusanto.Senada dengan apa yang telah disampaikan oleh Sekjen MUI, KH Anwar Abbas mengatakan, di bagian bawah bendera yang dibakar oleh anggota Banser itu tidak ada tulisan HTI.

Hal ini membuat MUI yakin bendera tersebut merupakan bendera milik umat Islam sedunia.

Namun kekuasaan di negri ini telah membangun narasi bahwa yang dibakar adalah bendera HTI yang merupakan ormas terlarang. Terbukti dialog dialog yang diadakan di televisi nasional yang membica-rakan tentang bendera HTI namun tanpa narasumber dari obyek pembicaraan,

sehingga hanya membangun narasi fitnah terhadap HTI dan bendera kalimat tauhid. Padahal yang dibakar di Garut itu adalah bendera Ar Roya.

Pemahaman soal Ar Roya diperoleh lewat Hadits Riwayat Ahmad dan Tirmidzi, yakni Rasulullah punya bendera Ar Roya berwarna hitam dan Al Liwa berwarna putih, yang di atasnya tertulis kalimat tauhid.

Dalam bahasa Arab, bendera dinamai dengan liwa (jamaknya adalah alwiyah). Sedangkan panji-panji perang dinamakan dengan rayah. Disebut juga dengan al-‘alam (Dr. Abdullah bin Muhammad bin Sa’ad al-Hujaili.

al-‘Alamu an-Nabawiyu asy-Syarif., p.33-34., Maktabah al_’Ulum wa al-Hikam).Rayah adalah panji-panji yang diserahkan kepada pemimpin peperangan, dimana seluruh pasukan berperang di bawah naungannya.

Sedangkan liwa adalah bendera yang menunjukan posisi pemimpin pasukan, dan ia akan dibawa mengikuti posisi pemimpin pasukan.Liwa adalah al-‘alam (bendera) yang berukuran besar. Jadi, liwa adalah bendera Negara. Sedangkan rayah berbeda dengan al-‘alam.

Rayah adalah bendera yang berukuran lebih kecil, yang diserahkan oleh khalifah atau wakilnya kepada pemimpin perang, serta komandan-komandan pasukan Islam lainnya.

Rayah merupakan tanda yang menunjukan bahwa orang yang membawanya adalah pemimpin perang (Dr. Abdullah bin Muhammad bin Sa’ad al-Hujaili., op cit., p, 37, 40-41,. Maktabah al-‘Ulum wa al-Hikam).

Liwa, (bendera negara) berwarna putih, sedangkan rayah (panji-panji perang) berwarna hitam. Banyak riwayat (hadist) warna liwa dan rayah, diantaranya :

Rayahnya (panji peperangan) Rasul SAW berwarna hitam, sedang benderanya (liwa-nya) berwarna putih (HR. Thabrani, Hakim, dan Ibnu Majah)

Meskipun terdapat juga hadist-hadist lain yang menggambarkan warna-warna lain untuk liwa (bendera) dan rayah (panji-panji perang), akan tetapi sebagian besar ahli hadits meriwayatkan warna liwa dengan warna putih, dan rayah dengan warna hitam.

Tidak terdapat keterangan (teks nash) yang menjelaskan ukuran bendera dan panji-panji Islam di masa Rasulullah SAW, tetapi terdapat keterangan tentang bentuknya, yaitu persegi empat.

Panji Rasulullah saw berwarna hitam, berbentuk segi empat dan terbuat dari kain wol (HR. Tirmidzi)
Al-Kittani (al-Kittani, Tartib al-Idari., jilid I/320) mengetengahkan sebuah hadist yang menyebutkan :

Rasulullah saw telah menyerahkan kepada Ali sebuah panji berwarna putih, yang ukurannya sehasta kali sehasta.

Pada liwa (bendera) dan rayah (panji-panji perang) terdapat tulisan Laa illaaha illa Allah, Muhammad Rasulullah. Pada liwa yang berwarna dasar putih, tulisan itu berwarna hitam. Sedangkan pada rayah yang berwarna dasar hitam, tulisannya berwarna putih.

Hal ini dijelaskan oleh Al-Kittani (al-Kittani, op cit, jilid I/322), yang berkata bahwa hadist-hadist tersebut (yang menjelaskan tentang tulisan pada liwa dan rayah) terdapat di dalam Musnad Imam Ahmad dan Tirmidzi, melalui jalur Ibnu Abbas.

Imam Thabrani meriwayatkannya melalui jalur Buraidah al-Aslami, sedangkan Ibnu ‘Adi melalui jalur Abu Hurairah.

Begitu juga Hadist-hadist yang menunjukan adanya lafadz Laa illaaha illa Allah, Muhammad Rasulullah, pada bendera dan panji-panji perang, terdapat pada kitab Fathul Bari (Ibnu Hajar al-Asqalani., Fathul Bari., jilid VII/477).

Berdasarkan paparan tersebut diatas, bendera Islam (liwa) di masa Rasulullah saw adalah berwarna putih, berbentuk segi empat dan di dalamnya terdapat tulisan Laa illaaha illa Allah, Muhammad Rasulullah dengan warna hitam.

Dan panji-panji perang (rayah) di masa Rasulullah saw berwarna dasar hitam, berbentuk persegi empat, dengan tulisan di dalamnya Laa illaaha illa Allah, Muhammad Rasulullah berwarna putih.Dan bendera inilah yang menyatukan kaum muslimin,yang menakutkan musuh musuh Islam.[MO/ge]





Posting Komentar