Oleh : Nurul Hidayati Meihasih
(Forum Penulis Perempuan Peradaban FP-3)

Mediaoposisi.com-Kasus perkelahian yang berujung dengan maut, terjadi di Sampang, Madura, Kejadian itu berawal dari perkelahian, yang dipicu oleh ketersinggungan akibat postingan status di media sosial. Postingan yang isinya menyebut nama salah satu  capres itu, ternyata berbuntut panjang.  Salah satu pihak merasa tersinggung dengan postingan tersebut. Akibatnya,  terjadilah perkelahian, yang berakhir dengan penembakan. Satu korban tewas dalam peristiwa tersebut (detiknews.com, Selasa, 27 Desember 2018)

Meskipun dugaan motif politik dinilai masih terlalu dini, hal ini tidak menutup kenyataan. Bahwa dukung mendukung capres jelang pilpres tahun 2019, telah memantik berbagai konflik di kalangan para pendukung capres tingkat akar rumput. Demokrasi, yang diklaim menjunjung tinggi asas persatuan dan kesatuan, nyatanya hanya menjadi simbol belaka.

Jargon kampanye : ini jaman demokrasi, kalau beda jangan sensi, hanyalah sekedar jargon tanpa makna. Hal ini bukan hanya sekedar omong kosong. Lihatlah, betapa hubungan pertemanan, bahkan kekerabatan, banyak yang rusak akibat pilihan yang berbeda. Saling menghormati pilihan masing-masing, akhirnya hanya menjadi hal utopis dalam sistem demokrasi. Maka, ketika capres Jokowi dan Prabowo saling berpelukan dalam sebuah acara, seharusnya kita tidak perlu berekspektasi terlalu tinggi. Karena hubungan mesra antar elit politik tersebut, belum tentu dipahami sama oleh para pengikut setianya.

Namun, sayangnya, sistem demokrasi ini telah terlanjur  mendarahdaging di dalam tubuh masyarakat.  Sehingga, untuk membersihkan racun demokrasi ini, dibutuhkan sebuah usaha sungguh-sungguh. Banyak yang menganggap bahwa demokrasi adalah sistem pemerintahan terbaik. Karena demokrasi menampung aspirasi suara mayoritas rakyat. Demokrasi adalah milik semua orang.

Tidak melihat, apakah rakyat yang dimaksud adalah rakyat waras atau gila, dianggap sebagai suara sah dalam pengambilan keputusan. Hal ini tentu saja berbeda dengan sistem Islam. Dalam sebuah sistem Islam, pemegang keputusan tertinggi, mutlak di tangan Allah SWT. Sumber hukumnya pun jelas hanya ada dua pilihan, yaitu Al-Qur’an dan As-sunnah. Allah SWT telah berfirman dalam QS, Al-Maidah 49, yang artinya :

“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara diantara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka ...” Begitu pun dengan ayat berikutnya, yaitu QS. Al-Maidah ayat 50, yang artinya : “Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebaih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin ?[MO/sr]


Posting Komentar