Oleh: Endang
(pemerhati sosial dan politik)

Mediaoposisi.com- Belakangan, persoalan yang terjadi di tengah kehidupan umat Islam di negeri ini semakin bervariasi. Dari persoalan remaja, ekonomi, pemerintahan, dan yang terkini soal cadar.
Hukum - hukum yang sudah baku dalam pengaturan Islam justru sengaja dibolak-balikkan oleh tangan tangan jahil. Mubah jadi wajib, haram jadi boleh, dan yang boleh jadi haram.

Ibu rumah tangga yang bekerja diluar rumah yang hukumnya mubah / boleh kini menjadi wajib dengan dalih terdesak oleh kebutuhan keuangan keluarga. Jadilah kewajiban yang sesungguhnya, mengurus rumah tangga dan mendidik anak - anaknya terabaikan.

LGBT haram kini dilegalkan dengan dalih HAM lalu menggugat hukum Islam dengan alasan hukum Islam tak manusiawi.

Cadar dilarang dengan alasan bukan budaya nusantara, dicap identik dengan terorisme dan radikalisme. Padahal cadar bisa dikatakan sebagai identitas seorang muslim sebab Rosulullah Saw membolehkan wanita muslimah untuk memakainya.

Ujungnya, ulama yang lurus dan menjadi sandaran umat dalam memahami hukum Allah SWT banyak yang dibully dan dikriminalisasi. Kalau sudah begini, apa jadinya jika manusia menolak hukum Allah dan menghina ulama pewaris para nabi ? Sungguh ini adalah bahaya besar yang menimpa umat Islam di negeri ini.

Orientasi Ibu Rumahtangga Masa Kini
Dengan berbagai persoalan hidup yang menumpuk, seharusnya ibu rumahtangga lebih istiqomah dalam menjalankan peran pentingnya dalam mendidik anak dengan aqidah dan syariat Islam yang benar. Dengan begitu anak - anak dapat terlindungi dari berbagai bentuk pemikiran dan kejahatan fisik yang terjadi di tengah - tengah masyarakat.

Patut kita sadari bahwa hari ini umat Islam tidak mempunyai pelindung dan penjaga agar aturan Islam dapat ditegakkan dan dijalankan dengan sempurna. Sehingga para ibu masa kini dituntut untuk berperan aktif dalam mengupayakan agar syariat Islam dapat diterapkan dalam kehidupan.

Kemuliaan akan didapat bagi wanita yang mendamba tegaknya syariat Allah SWT, mulia dimata suami, anak - anak, keluarga, masyarakat, dan negara. Pepatah mengatakan, "Wanita adalah tiang negara. Jika mulia para wanita maka mulia pula negaranya, dan sebaliknya jika rusak para wanita maka terhinalah negaranya

SDA dinikmati penjajah asing, pajak yang membebani rakyat, dan hutang yang semakin menumpuk, hendaklah dijadikan cemeti bagi kaum wanita untuk mengubah diri agar kehidupan berubah jadi lebih baik. Tentunya perubahan yang sesuai dengan Syariat Islam, bukan berubah dengan mengekor gaya hidup kaum sekularis penjajah.

Perbanyak ilmu - ilmu Islam dengan menghadiri majelis taklim, membaca, browsing ,dll. Sampaikan kepada anak dan saudara sesama muslim agar mereka tercerahkan dengan Islam.

Merubah negara tak cukup hanya dengan mengubah segelintir wanita, tetapi mereka harus memaksimalkan potensinya untuk sekuat tenaga menjalankan dan mendakwahkan Islam di tengah masyarakat, juga ikut serta mengoreksi penguasa hingga pemimpin yang sesuai dengan karakter Islam terwujud. Tiada kemulian bagi wanita jika menolak Syariat Islam.

Hidup akan sempit karena terkungkung oleh hegemoni ideologi kapitalisme - sekularisme. Sudah saatnya wanita berubah untuk belajar, beraktivitas, dan berdakwah sesuai Syariat Islam.[MO/sr]




Posting Komentar