Oleh: Anggun P (ibu rumah tangga)

Mediaoposisi.com-Dalam pandangan masyarakat saat ini, Islam adalah agama yang hanya mengatur hubungan antara Allah swt. sebagai pencipta dengan manusia sebagai makhluk. Sejatinya Islam merupakan agama spiritual dan politik (ideologi) yang darinya terpancar aturan baik hubungan antara Allah swt. dengan manusia, hubungan antara kehidupan sebelum dan sesudah alam ini, maupun hubungan antara manusia dengan manusia dalam masalah sosial, ekonomi, pendidikan maupun bernegara. Dalam bernegara Islam mengatur bagaimana seharusnya negara menjadi junnah atau pelindung rakyatnya, bagaimana negara seharusnya mengurus kebutuhan rakyatnya agar tercipta masyarakat yang adil, sejahtera lahir dan batin.

Namun, sangat miris saat ini islam hanya ditempatkan di pojok-pojok masjid yang hanya diambil sebatas mengurus warisan, pernikahan dan ibadah fardhiyah semata. Padahal dalam surat Al-baqoroh ayat 85, Allah swt. Berfirman, “Apakah kamu beriman kepada sebagian al-Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian di antaramu melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.”

Saat ini kaum muslimin sangat jauh dari kehidupan yang sesuai aturan islam. Bahkan umat islam sendirilah yang lebih memilih rela diatur dengan aturan buatan manusia ketimbang aturan buatan Allah swt. Mereka memisahkan urusan kehidupan dengan aturan agama. Oleh karena itu sudah seharusnya disampaikan kepada masyarakat bahwa islam tidak melarang berpolitik. Karena untuk mencapai kebangkitan hakiki umat harus sadar bahwa islam merupakan ideologi yang digunakan sebagai pedoman hidup. Dalam hal ini peran ulama-lah yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam mencerdaskan umat.

Sangat disayangkan, saat ini kiprah ulama yang seharusnya meluruskan pemikiran yang salah di tengah-tengah masyarakat, justru dibungkam demi kepentingan penguasa yang membuat umat semakin sekuler. Seperti yang baru-baru ini terjadi terhadap Ustadz Abdul Somad di Semarang. Beliau dilarang berceramah setelah GP Ansor mencurigai pengajian ustadz Abdul Somad ditunggangi oleh HTI. Karena adanya simbol bertuliskan kalimat tauhid pada topi yang dikenakan oleh salah seorang crew pengajian. Penolakan terhadap beliau bukanlah yang pertama kali, sebelumnya beliau juga ditolak di Bali dan Hongkong (https://m.cnnindonesia.com). Ustadz Abdul somad dilarang berceramah lantaran materi yang disampaikan  beliau tidak hanya membahas masalah ibadah melainkan seringkali menyinggung masalah politik dan persatuan umat. Dan inilah yang sangat dikhawatirkan penguasa saat ini yang tidak ingin adanya persatuan umat islam. Yang terjadi saat ini penguasa bersikap keras pada ulama yang membahas politik, namun tumpul pada pemuka agama lain yang bahkan memfitnah Islam. Seperti kasus Viktor Laiskodat yang jelas-jelas mengatakan bahwa Khilafah sebagai bagian dari ajaran islam adalah ajaran kekerasan yang memaksa non muslim untuk memeluk islam. Namun tidak ada tindakan tegas dari pemerintah. Juga kasus para komedian yang menjadikan islam sebagai bahan lawakan atau candaan.

Umat islam tidak boleh alergi politik tapi harus memahami politik yang sesuai syariat islam. Apabila umat alergi dengan politik justru akan dimanfaatkan oleh penguasa demi meraup suara yang menggunakan agama (Islam) sebagai pemanis.
Agar umat islam paham politik yang sesuai syariat islam sangatlah dibutuhkan ulama yang ikhlas, berani dan tak gentar terhadap tantangan dari penguasa. Ulama harus menyampaikan islam yang shahih, namun jangan sampai mendekati pintu penguasa seperti sepucuk nasehat yang disampaikan oleh Imam Al Ghazali. Karena ulama yang hanya takut kepada Allah swt. tidak akan ridho melihat kedzoliman yang dilakukan penguasa.

Pembelaan yang dilakukan umat terhadap ulama yang dipersekusi merupakan bukti bahwa umat mulai peduli dengan agamanya dan in syaa Allah ini merupakan pertanda kebangkitan umat akan segera terwujud. Aamiin.[MO/dr]

Posting Komentar