Oleh: R. A. Musamma 
(Aktivis Dakwah Kita)

Mediaoposisi.com- Ada yang menarik dari tagar yang beredar di dunia media sosial terkait Aksi Bela Tauhid yang digelar di Monas, Ahad (2/12), yaitu #212BersatuDibawahTauhid. Kasus pembakaran panji tauhid di Garut, penolakan pelaksanaan perda syariah oleh PSI, serta maraknya pelecehan agama di media sosial saat ini tampaknya menjadi isu utama pemantik diselenggarakannya perhelatan akbar ini. Jutaan orang dikabarkan akan hadir memenuhi undangan untuk menyatukan dan menyatakan sikap, bela tauhid!

Tauhid yang menyatukan
Dulu, di masa Jahiliyah sebelum datangnya Islam, bangsa Arab hidup berdampingan dengan masing-masing kepemimpinan. Tak jarang, antara satu suku dengan suku lainnya terlibat peperangan dengan pemicu yang beragam. Lahirnya Muhammad, menandai redupnya suasana penuh kompetisi kejahiliyahan tersebut.

Sebelum diangkat menjadi Rasul, Muhammad yang mendapat bimbingan hikmah telah menunjukkan karakternya sebagai pemersatu umat. Hal ini terlihat kala terjadi konflik antar-kabilah tentang siapa yang berhak meletakkan Hajar Aswad saat renovasi Ka’bah. Konflik yang menjurus pada peperangan antar-kabilah jika terjadi salah penanganan. Hingga akhirnya disepakati bahwa penyelesaian konflik diserahkan kepada orang yang pertama kali memasuki masjid

Kala itu, Muhammad (saw) berusia 25 tahun. Dalam Kitab Sirah Nabawiyah, Ibnu Hisyam menuliskan bahwa melihat Muhammad (saw) yang terpilih sebagai penengah konflik dan para wakil kabilah pun berkata, “Kami ridha terhadap orang yang terpercaya ini, Muhammad.” Di kalangan masyarakat, Muhammad (saw) memang telah dikenal sebagai Al Amin, lelaki yang jujur.

Penyelesaian ala Muhammad (saw) yang cerdas dan elegan itu dilakukan dengan membentangkan sebuah kain. Dengan tangannya sendiri, beliau mengangkat Hajar Aswad dan meletakkannya di atas kain, lalu meminta masing-masing kepala kabilah memegang ujungnya. Kain beserta Hajar Aswad diangkat bersama-sama dan sang batu itu pun diletakkan di tempatnya. Semua senang karena semua merasa dilibatkan.

Setelah diangkat menjadi Rasul, Muhammad Al Amin mendapat permusuhan yang hebat dari kaumnya, Quraisy, meski tak sedikit yang pula yang bersimpati. Permusuhan ini disebabkan risalah tauhid yang diamanatkan Allah di atas pundaknya. Dengan risalah tauhid, akidah dan tata cara beragama masyarakat dibersihkan dari takhayul dan penyembahan berhala yang menyekutukan Allah.

Bagi kaum status quo, yang lebih memilih tetap dalam ‘kegelapan’-nya, Muhammad (saw) adalah musuh besar, musuh bebuyutan yang harus dicemari nama baiknya dan dihancurkan kredibilitasnya agar masyarakat menjauh dari dakwahnya. Dibuatlah berbagai macam tuduhan dan fitnah kepada Muhammad (saw). Ia dituduh sebagai seorang dukun, pencari jabatan dan kekuasaan, hingga pemecah-belah persatuan. Namun, fakta menunjukkan sebaliknya.

Di Yatsrib, Rasulullah saw. mempersaudarakan kaum Muhajirin dari Quraisy dengan kaum Anshar, warga Yatsrib. Dengan persaudaraan yang diikat oleh kesamaan akidah tauhid, ketulusan pengorbanan persaudaraan itu begitu terasa besarnya. Bahkan disebutkan, kaum Anshar rela membagi separuh hartanya untuk saudaranya dari kaum Muhajirin.

Bagi Anshar sendiri, mereka sebelumnya terdiri dari dua kabilah besar yang saling bersaing dan berkali-kali melakukan peperangan antara satu dengan yang lain, yaitu suku Aus dan Khazraj. Namun, Islam hadir menyatukan mereka dan bersama-sama kaum Muhajirin membela serta menegakkan agama tauhid.

Berdirilah negara Islam pertama, Madinah. Di bawah kepemimpinan Nabi saw dan diteruskan oleh para khalifah, Islam menyebar dari Madinah ke seluruh penjuru dunia. Persatuan kaum muslimin pun kokoh di bawah kekhalifahan, sistem kepemimpinan dan pemerintahan Islam.

Bersatu di bawah panji tauhid
Paska-runtuhnya kekhalifahan terakhir, umat Islam tercerai-berai dalam beragam kelompok yang mengusung visi dan misinya masing-masing. Tak jarang, terjadi persaingan di antara mereka yang menimbulkan friksi. Demi ‘periuk’ organisasi, mereka rela memusuhi saudara seakidahnya sendiri. Kondisi memprihatinkan yang persis digambarkan dalam sabda Rasulullah saw.

Nyaris orang-orang kafir menyerbu dan membinasakan kalian, seperti halnya orang-orang yang menyerbu makanan di atas piring.” Seseorang berkata, “Apakah karena sedikitnya kami waktu itu?” Beliau bersabda, “Bahkan kalian waktu itu banyak sekali, tetapi kamu seperti buih di atas air. Dan Allah mencabut rasa takut musuh-musuhmu terhadap kalian serta menjangkitkan di dalam hatimu penyakit wahn.” Seseorang bertanya, “Apakah wahn itu?” Beliau menjawab, “Cinta dunia dan takut mati,” (HR. Ahmad, Al-Baihaqi, Abu Dawud).

Upaya-upaya untuk kembali menyatukan umat juga tak henti dilakukan. Demi menyongsong masa depan Islam, kembali berjayanya umat Islam di bawah era kepemimpinan khilafah ala minhajin nubuwwah kedua, ormas-ormas Islam Indonesia mulai bergerak mendekat dan merapat. Meskipun berbeda dalam beberapa hal, mereka lebih mengutamakan persatuan.

Tanpa mengabaikan peran organisasi Islam lain, karena keterbatasan artikel ini, saya mencontohkan sikap saling membela antara FPI dan HTI. HTI membela Habib Rizieq Shihab saat dikriminalkan, sedangkan FPI membela HTI kala sidang PTUN memutuskan Badan Hukum Perkumpulan HTI dicabut.

Sikap pembelaan HTI terhadap FPI ditunjukkan lewat pernyataan jubirnya, Ust. Ismail Yusanto dalam konfrensi pers yang digelar Presidium Alumni 212. "Penetapan Habib Rizieq sebagai tersangka, menunjukan bukti kriminalisasi ulama, penetapan sebagai tersangka tidak memiliki dasar hukum," katanya (Tribunnews, 31/5/2017).

Dalam kiblat.net (8/5/2018) disebutkan, Ketua Umum Front Pembela Islam (FPI), KH Ahmad Sobri Lubis mendesak pemerintah menghentikan sikap yang menyudutkan umat Islam. Ketua FPI itu menyebut pecabutan status HTI sebagai organisasi kemasyarakatan merupakan bentuk kriminalisasi. Sikap pemerintah tersebut dinilainya sebagai sikap permusuhan pemerintah terhadap umat Islam. “Enggak usahlah menunjukkan sikap permusuhan itu,” tegas Sobri Lubis.

Dia juga menyarankan HTI untuk terus melakukan langkah hukum lanjutan dalam memperjuangkan hak mereka kembali. Seluruh jalur hukum di Indonesia yang memungkinkan harus ditempuh. Sobri Lubis menilai apa yang dilakukan HTI sebagai ormas tidak melanggar aturan di Indonesia. Sebab, perbedaan pandangan dan pendapat dalam konteks manusia menurutnya merupakan hal yang lumrah.

Selain itu, para anggota HTI juga memiliki hak untuk berserikat dan berkumpul. Sobri menyebut kasus yang dialami HTI sama seperti yang dituduhkan kepada FPI. Dulu ormas Islam yang dimotori oleh Habib Rizieq Shihab itu selalu dituduh sebagai gerakan anti negara. Tudingan sebagai kelompok yang ingin mengubah Pancasila dan UUD 1945 kerap dialamatkan kepada FPI.

Sikap senada juga disampaikan Ust. Azwar Jas, Ketua DPW FPI Kota Dumai dalam sebuah video yang dirilis di media sosial. Dalam video tersebut, beliau menghimbau kepada seluruh umat Islam untuk menghadiri acara 212 di Jakarta. Menurutnya, peserta yang akan datang bukan saja dari Indonesia, tetapi juga negara lainnya seperti Rusia, Amerika, Meksiko, Maroko, dan negara lainnya.

Mudah-mudahan ini awal bangkitnya Islam di dunia, bangkitnya khilafah ala minhajin nubuwwah. Kami dari FPI Kota Dumai meminta kepada umat Islam, sadarlah, bahwa khilafah adalah ajaran Islam. Walaupun FPI bukan HTI , tapi khilafah adalah merupakan ajaran Islam. Karena itu, mari umat Islam, selamatkan NKRI. Kita telah di persimpangan, hancur dan hidupnya Islam di masa yang akan datang,” pungkasnya.[MO/sr]

Posting Komentar