Oleh: Ayu Mela Yulianti, SPT
(Pemerhati Masalah Umat)

Mediaoposisi.com- Prokontra mengenai bendera tauhid yang diklaim oleh sebagian kalangan sebagai bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), bukan bendera Rasulullah Muhammad SAW dan kaum Muslimin menemukan babak baru.

Jika dulu bendera bertuliskan kalimat tauhid itu dianggap bukan bendera Rasulullah SAW dan kaum muslimin, maka sekarang, orang-orang yang mengingkari mulai mengakui jika bendera bertuliskan kalimat tauhid itu memang benar adalah bendera Rasulullah Muhammad SAW. Dengan pengakuan yang terang-terangan ataupun sembunyi-sembunyi dan sedikit  malu-malu. Akan tetapi intinya semua kalangan saat ini, mengakui keberadaan bendera itu.  Pengakuan itu sudah didapat.

Babak baru yang menjadi pembahasan saat ini, bukan lagi mengenai bendera Rasulullah Muhammad SAW dan kaum muslimin atau bukan, akan tetapi pembahasannya adalah penggunaan bendera tersebut apakah dalam kondisi perang atau dalam semua kondisi, baik perang maupun damai. Lalu apakah pantas digunakan saat melakukan aktivitas demo misalkan.

Maka ada sebagian yang menganggap bahwa bendera itu digunakan saat perang saja.  Ada juga yang beranggapan digunakan saat kondisi apapun, baik saat perang maupun damai.

Akan tetapi, dari semua wacana yang keluar, mau tidak mau, setuju tidak setuju, mengakui secara langsung atau malu-malu. Semua kaum muslimin sepakat dan telah mengakui jika Rasulullah Muhammad saw memiliki identitas dan simbol kekuasaan pemersatu umat dan kaum muslimin yaitu sebuah bendera yang bertuliskan kalimat tauhid.

Adapun penggunaannya, apakah digunakan saat perang, dalam konteks perang fisik, senjata bertemu dengan senjata, atau saat damai. Jelas, fakta sejarah perilaku Rasulullah Muhammad SAW yang akan menjawab hal ini. Yaitu dalam catatan sejarah perang Mu'tah, penaklukan benteng Yahudi Khaibar, ataupun pada peristiwa futuh Mekah.

Semua peristiwa sejarah ini menunjukkan adanya penggunaan bendera Rasulullah Muhammad SAW sebagai identitas pasukannya dan simbol kekuasaannya.  Maka tepatlah pendapat UAS (Ustad Abdul Shomad) jika bendera itu digunakan baik saat perang maupun saat damai. Karena setelah peristiwa futuh Mekah, bendera Rasulullah saw, masih berkibar, tidak langsung dilipat dan disimpan.

Secara simbol-simbol kekuasaan , maka Rasulullah memiliki semua yang dibutuhkan dalam legalitas dan representasi keberadaan kekuasaan dan negara yang dipimpinnya. Mulai dari wilayah kekuasaan, hingga ke bagian administrasinya, semisal stempel surat Rasulullah Muhammad SAW ketika akan dikirimkan ke pembesar-pembesar negara di zamannya. Semisal Kaisar Persia atau penguasa Bizantium, Heraclius.

Hingga bendera sebagai simbol eksistensi kekuasaan. Semuanya dimiliki oleh Rasulullah Muhammad SAW, yang kemudian dilanjutkan oleh para Khalifah dalam sistem khilafah.

Tak ada satupun manusia yang dapat menghapusnya dari pentas peradaban dunia dan fakta sejarah.
Maka kenapa saat ini, ketika simbol keagungan ajaran Islam mulai diperkenalkan kembali dan mulai dikembalikan kembali oleh HTI kepada kaum muslimin, banyak yang kebakaran jenggot dengan upaya pengembalian memori sejarah peradaban Islam kepada kaum muslimin, melalui dakwah yang dilakukan HTI.

Padahal sejatinya HTI hanya ingin mengembalikan Islam secara sempurna kepada pemeluknya yang saat ini banyak mengalami amnesia ajaran Islam, dengan cara mengembalikan kembali memori umat yang hilang tentang sejarah peradaban Islam dan identitas kaum muslimin.

HTI melakukan terapi agar penyakit amnesia yang diderita umat sembuh total, hingga umat bisa hidup normal kembali. Kenyataannya, saat ini sedikit demi sedikit penyakit amnesia umat mulai sembuh.

Akan tetapi, tetap saja ada yang kebakaran jenggot, sehingga berusaha untuk mengaktivasi virus bandel yang ingin kembali menyerang sistem imunitas umat yang sudah mulai membaik.
Virus ini berusaha menyerang sistem imun kaum muslimin yang sudah mulai membaik. Virus ini melakukan aktivitas diluar nalar dan kedewasaan berpikir. 

Semacam membakar bendera tauhid. Sebuah aktivitas yang bisa masuk ke ranah delik aduan penistaan agama. Karena sesungguhnya agama beserta simbol-simbolnya bukanlah hal-hal yang diperbolehkan untuk menjadi guyonan atau senda gurau, atau bahkan dinistakan. Untuk seluruh agama, tidak hanya Islam, tidak boleh dijadikan sebagai bahan gurauan apalagi simbol-simbolnya dinistakan.

Akan tetapi, seperti layaknya teori tentang virus dalam ilmu Biologi. Menyebutkan jika virus akan berkembang baik jika ada kondisi memungkinkan untuk mengaktifkan virus dan menggerogoti sistem imun manusia.

Dan kondisi yang memungkinkan untuk mengaktivasi virus, untuk menggerogoti sistem imun manusia dalam sistem sekuler kapitalis saat ini adalah uang dan jabatan.
Sehingga sebagian kalangan yang terinfeksi virus penistaan agama akan berusaha untuk melumpuhkan sistem imun umat manusia yang sudah mulai membaik. 

Aktivator virus takut, jika umat sembuh dari penyakit amnesia dan meminta diperlakukan sebagai manusia normal, yang menginginkan seluruh macam kebaikan untuk dirinya. Semacam, terjaganya kesucian dan kehormatan, terjaminnya kesejahteraan hidup, terpenuhinya hajat manusia akan kesehatan dan keamanan dan keadilan.

Tersebab sesungguhnya, aktivator virus itu adalah golongan syetan, yang mampu mengaktivasi virus dengan iming-iming uang dan jabatan, untuk merusak sistem imun manusia, tidak menginginkan kebaikan untuk manusia, yang menginginkan manusia menjadi tersesat dan rusak kehidupannya, yang menginginkan manusia porak poranda ketinggian peradabannya, yang menginginkan manusia hidup layaknya binatang.

Akan tetapi, Allah SWT dan Rasulullah Muhammad SAW sungguh telah memberikan panduan yang sangat sempurna bagaimanna cara menghadapi aktivator virus dan virus perusak hidup dan kehidupan umat manusia. Allah SWT dan Rasulnya, telah memberikan jaminan keamanan dan kebaikan bagi manusia. Telah memberikan jaminan keselamatan bagi manusia.

Telah memberikannya jaminan akan penjagaannya terhadap Islam dan seluruh ajarannya, termasuk didalamnya simbol-simbol keagungan ajaran Islam yang tergambar dari keberadaan bendera Rasulullah Muhammad SAW, yang disebut dengan Ar-roya dan Al-Liwa, sehingganya manusia  selamanya tidak akan tersesat dan menyesatkan,  selama mengikuti AlQuran dan Hadist Rasulullah Muhammad SAW.[MO/sr]



Posting Komentar