Oleh : Nasrudin Joha

Mediaoposisi.com-Lagi, kubu kontra Jokowi dikerjai. Dalih 'proses hukum' adalah alasan klasik unjuk mengirim pesan kepada lawan, jangan macam-macam dengan Jokowi.

Anda, yang pernah makan bareng atau ditraktir Jokowi jangan anggap hidangan itu halal dan barokah. Suatu saat, hidangan itu akan menjadi racun yang mematikan.

Setelah lini politik dikerjai, kini barisan Muhammadiyah dikerjai via sayap kepemudaannya. Soal yang sudah lalu, bahkan didedikasikan untuk memoles citra rezim, bisa diobok-obok dan diunggah ke publik sebagai kasus hukum.

Secara hukum apa yang ditudingkan kepada dahnil belum terbukti, tapi secara politik ini tamparan keras atas dahnil dan entitas Muhammadiyah. Satu proses hukum tebang pilih, yang sengaja untuk mengunci kubu lawan. Dan bukan sembarang lawan, tapi lawan yang merepresentasikan Islam.

Penenggak hukum hanya alat saja, jangan Anda berpraduga baik semua berdiri tegak diatas asas dan teori hukum yang sepi 'agenda politik'. Sejak Jokowi memimpin, hukum telah menjadi sarana politik untuk membungkam kritisme nalar publik. Coba liat mereka yang bancakan anggaran tapi pro rezim, kasusnya tidak pernah disenggol.

Dalam kasus dahnil, Yakult jelas juga menerima duit itu. Tapi bedanya, Yakult pro rezim sedang dahnil masih saja terus ngeyel dan melawan. Padahal isyarat untuk bungkam telah lama dilayangkan.

Belum dibuktikan kebenaran kasus, sikap ksatria mengembalikan duit 2 m di Framing sebagai pidana korupsi. Celakanya, akun generasi muda NU yang kerap kali menebar fitnah dan terakhir menebar fitnah terhadap Gus Nur, juga ikut latah memframing isu dahnil.

Saya bisa tegaskan, ini upaya terstruktur, sistematis dan masif untuk membungkam perlawanan putra terbaik umat ini. Dianggap bisa membungkam, sekali lagi justru ini akan mengobarkan semangat perlawanan.

Karena itu wahai umat Islam jauhilah pintu dan jalan yang menuju pada Jokowi. Berpalinglah darinya, dengan memutar jalan atau mengambil arah yang berlawanan. Tidak ada maslahatnya Anda merapat dengan dalih akan selamat, sesungguhnya keselamatan itu hanya atas pertolongan Allah SWT.

Rezim Jokowi dan orang yang disekelilingnya terbukti memendam amarah dan dendam terhadap umat Islam. Apa yang nampak di mulutnya itu hanya sebagian, didalam dada mereka lebih dahsyat lagi.

Rame-rawe rantas, malang-malang putung. Rezim telah menyentuh kepala dan kehormatan umat Islam, tidak ada pilihan kecuali membuat perhitungan hingga rezim jatuh atau umat Islam mendapat kemenangan diatas puing kejatuhannya.

Ingat ! Apa yang dialami dahnil hanya pengantar saja. Menjelang pelaksanaan kontestasi politik, rezim masih menyiapkan sejumlah rencana jahat lainnya untuk membungkam suara-suara kritis umat Islam. Sudah kepalang, tinggal menunggu waktu saja rezim ini pasti jatuh bersimbah darah.

Persatukan visi, persaudaraan, jadikan reuni 212 sebagai wahana konsolidasi untuk menyatukan kekuatan.

Sungguh, suara umat Islam adalah kunci kekuasaan. Jangan biarkan rezim, menangguk legitimasi dengan berdalih memikirkan kepentingan umat Islam. Sejatinya, rezim Jokowi represif dan anti Islam. [MO/ge]

Posting Komentar