Oleh: Mochamad Efendi

Mediaoposisi.com-Premanisme adalah satu tindakan anarki yang menggunakan kekerasan dengan memaksakan keinginannya pada orang lain tanpa bisa diajak komunikasi. Itulah yang terjadi pada aksi bela bendera tauhid di Malang, yang mana aparat tidak berdaya saat ada sekelompok orang memaksakan untuk melepaskan semua atribut yang berlafadzkan kalimat syadahat. Bahkan jika tidak mau, mareka akan dicekik para preman yang memakai sarung dan peci.

Sayang, sangat disayangkan aparat yang seharusnya melindungi rakyat yang ingin menjaga keyakinannya, tidak berdaya dihadapan para preman yang memaksakan keinginannya membubarkan aksi yang berlangsung damai tanpa kekerasan.

Mereka yang melakukan aksi damai disalahkan karena telah mendorong para preman melakukan tindakan anarki dan kekerasan. Seperti halnya seseorang menpunyai barang berharga yang sudah dicuri. Pencuri tertangkap, namun kemudian dilepas dan dinyatakan tidak bersalah. Pemilik barang yang telah dicuri disalahkan karena telah mendorong seseorang mencuri.  Sungguh aneh pelaku kejahatan dilindungi namun korban disalahkan.

Atau seperti seorang yang dirampok dan dilukai, perampoknya dianggap tidak bersalah. Korban didasalahkan karena telah mendorong parampok melakukan kekerasan. Inilah negeri aneh yang para pemimpinnya tidak bisa berfikir jernih dan lurus karena hatinya depenuhi rasa dendam dan sakit hati karena takut kepentingan politiknya tidak bisa tercapai seperti yang dinginkan sehingga cara premanismepun ditempuh dengan menakut-nakuti umat agar nurut dan ikut perintah dan keinginannya.

Tugas aparat  seharusnya melindungi rakyat bukan tunduk dan mengikuti kemauan preman. Premanisme memang marak dan cenderung dilindungi di negeri ini. Sementara, pendekatan persuasive cenderung ditinggalkan karena takut tidak bisa memaksakan kehendak. Di dalam hati mereka ada penyakit. Mereka tidak mau mendengar bukan berarti mereka tuli tetapi mereka takut akan kalah karena mereka tahu salah. Berbagai alasan  terpatahkan oleh kebenaran.         

Segala tipu daya dan usaha dilakukan tetapi tak mampu meyakinkan umat karena umat sekarang semakin cerdas dan tidak mudah dibohongi. Faktapun tidak bisa ditutupi. Umat memang berhak tahu apa yang terjadi sebenarnya. 

Berantas gaya premanisme di segala bidang. Dimulai dari perilaku para pemimpin yang mereka harus mengedepankan pendekatan persuasive. Pemimpin harus mendengarkan aspirasi umat bukan memaksakan kehendaknya bahkan dengan gaya premanisme.[MO/sr]

Posting Komentar