Oleh: Nur Syamsiyah
(Mahasiswi Ekonomi Syari’ah UIN Malang)

Mediaoposisi.com-Derita ibu pertiwi masih belum berakhir. Setelah gempa yang terjadi di Lombok, kemudian tsunami di Palu dan meletusnya Gunung Gamalama dengan memuntahkan asap berwarna putih setinggi 200 meter, menyusul Gunung Soputan di Sulawesi Utara, gempa di Situbondo, kini gempa bumi Magnitudo 5,5 mengguncang Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat pada pukul 01.35 WIB, menyusul gempa bumi Magnitudo 3,6 terjadi di Kabupaten Badung, Bali pada pukul 1.57 WIB dini hari (Selasa, 6/11/2018).

Sebelumnya, bencana tanah longsor dan puting beliung terjadi di Kabupaten Sukabumi (Pikiran Rakyat, 5/11/2018). Bahkan belum genap sepekan, telah teriventarisasi bencana alam meluas hingga terjadi di sebelah kecamatan. Sekalipun tidak menimbulkan korban jiwa, bencana telah merusak belasan rumah warga.

Bencana alam juga terjadi di empat titik di wilayah Tabanan, Bali. Tanah longsor terjadi sejak Tabanan sempat diguyur hujan deras sejak Sabtu (3/11/2018) malam hingga Minggu (4/11/2018) pagi. Selain itu, sebuah puskesmas tersambar petir. Akibat kejadian ini, kerugian material yang ditimbulkan hingga sekitar Rp 300 juta lebih.

Bencana banjir dan longsor juga terjadi di Kota Padang hari Jum’at (3/11/2018) akibat intensitas hujan yang tinggi dan meluapnya DAS Sungai Beringin yang mengalir ke Sungai Batang Arau serta Sungai Banda Bakali. Kerugian materil lemiputi 1.400 rumah terendam, 3 rumah hanyut, 1 jembatan hanyut, 1 jembatan gantung putus dan jalan di Kelurahan Padang Besi – Kelurahan Beringin longsor menutupi sebagian badan jalan. (Tribunnews.com)

Satu per satu, bencana alam bermunculan di tanah air ini. Gempa bumi, tanah longsor, tsunami, jatuhnya pesawat lion air, angin puting beliung, dan lain sebagainya sepatutnya menjadi bahan renungan bagi rakyat di negeri ini. Allah berfirman:

"Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)."(TQS. ar-Rum: 41)

Dalam ayat yang mulia ini, Allah menyatakan bahwa penyebab utama semua kerusakan yang terjadi di muka bumi dengan berbagai bentuknya adalah perbuatan buruk dan maksiat yang dilakukan manusia. Ini menunjukkan bahwa perbuatan maksiat adalah inti kerusakan yang sebenarnya dan merupakan sumber utama kerusakan-kerusakan yang tampak di muka bumi.

Imam Abul ‘Aliyah ar-Riyahi -seorang Tabi’in senior yang terpercaya dalam meriwayatkan hadits Rasulullah saw- mengatakan, “Barangsiapa yang bermaksiat kepada Allah di muka bumi berarti dia telah berbuat kerusakan di muka bumi, karena bumi dan langit itu baik dengan sebab ketaatan (kepada Allah)”.

Saatnya kita merenungi bencana ini dan berbondong-bondonglah kembali kepada jalan-Nya dengan menerapkan Islam secara menyeluruh dan senantiasa untuk muhasabah diri, dan hentikan kemaksiatan yang dibuat oleh kebijakan rezim hari ini.

Karena bisa saja kebijakan yang menibulkan kerusakan dan menzhalimi masyarakat bisa membuat azzab Allah menimpa semua kalangan masyarakat.[MO/sr]

Posting Komentar