Oleh: Arin RM, S.Si

Mediaoposisi.com-Belum lama keriuhan sosial media membincangkan “Kitab suci itu fiksi”, sudah ada lagi pernyataan lebih spesifik menuduh “Al Quran bukan kitab suci”. Pernyataan pertama berasal dari Prof berinisial RG yang memunculkannya saat live di salah satu acara TV swasta.

Terlepas kitab suci apa yang dimaksud, jagad maya heboh membahas pemaknaan fiksinya hingga memunculkan pengerucutan kelompok di sosial media, pihak yang pro pada penyataan Profesor dan pihak yang kontra.

Pernyataan kedua dari politikus berinisial GR, diperoleh dari rekam jejak digitalnya pada 18 November 2010 yang kembali viral beberapa hari ini.

Menanggapi “Kitab suci adalah fiksi” memang perlu kejelian, terlepas dari kitab suci apa yang dimaksud. Fiksi, adalah kata dalam bahasa Indonesia yang sifatnya global –tidak terkait dengan pandangan hidup atau keyakinan tertentu.

maka mendefinisikannya harus merujuk pada KBBI. Sedangkan istilah kitab suci, meskipun bagian dari bahasa Indonesia, ia memiliki ikatan kuat dengan keyakinan dan pandangan hidup. Sehingga pemaknaanya pun harus didudukkan sesuai posisi perkataan tentangnya.

Muslim memiliki kitab suci al Quran. Di luar Islam masih ada kitab suci dari agama samawi lainnya. Posisi al Quran ini tidak sama dengan kitab ataupun karya lain. Harus dicatat bahwa al Quran ini murni wahyu, asalnya langsung dari Allah (Pencipta makhluk).

Sama sekali tidak ada campur tangan makhluk dalam pemilihan katanya. Jadi tidak tepat jika kemudian ada Muslim yang justru menarik pembahasan fiksi ke arah menyamakan al Quran dengan karya fiksi dari makhluk, kendati bahasa al Quran sangat indah dan beberapa khabar di dalamnya masih akan terjadi di masa depan.

Al Quran harus di posisikan sebagai firman Allah, dengan kebenaran wahyu. Posisinya tidak sejajar dengan imajinasi karangan manusia, sehingga predikat fiksi untuk menilai dan mengukur kualitas imajinasi karangan manusia tidak boleh disematkan pada firman Allah.

Menggunakan kerangka berpikir filsafat dalam upaya menyetarakan posisi al Quran dengan karya manusia adalah kesalahan. Kerangka pikir seperti ini disadari ataupun tidak justru merendahkan kerangka berpikir Islam memosisikan kebenaran wahyu sebagai kebenaran mutlak.

Penerimaanya mengedepankan kekuatan iman yang diperoleh secara aqliyah dan naqliyah dengan melibatkan kaidah pikir yang cemerlang.

Sensitifitas iman perlu dibangun dengan jalan cemerlang ini akan menemukan bahwa al quran adalah suci -murni dari Allah, bukan buatan orang Arab yang terpandai dalam syair, bukan pula buatan Nabi Muhammad yang menjadi pelafal pertamanya dari kalangan hamba-.

Di masa awal turunnya al Quran, seorang penyair terpandai waktu itu yang bernama at-Thufail bin Amru bin Thorif bin al-‘Ash ad-Dausy al-Azdy pun mengakui bahwa bahasa al Quran berbeda dengan syair yang ada.

Ia pun lantas mengimaninya dan masuk Islam. Di masa lalu pun tidak ada yang bisa menjawab tantangan dari Allah untuk menciptkan ayat yang serupa al Quran. Nabi Muhammad pun bukan pembuatnya, meskipun beliau yang menerima wahyunya.

Bagaimana mungkin Nabi yang but abaca tulis bisa membuat susunan ayat yang indah, sedangkan penggubah syair terpandai dan orang arab yang menguasai baca tulis pun tak dapat menandingi ketinggian bahasanya?

Apalagi disaat yang sama dulu Rasulullah juga melafadzkan hadits, yang dari sisi bahasa saja sudah berbeda dengan ayat al Quran. Meskipun keluar dari mulut yang sama, tingkat bahasanya jauh berbeda. Sebab lafadz per lafadz al Quran diturunkan melalui wahyu bertahap. Murni redaksi dari Allah, ianya suci lagi terpelihara dari selainNya.

Penemuan inilah yang akan menjadi penguat iman. Keimanan kepada al Quran akan memicu pemilik iman untuk menerima dan meyakini apa saja yang termuat di dalamnya, baik peristiwa di masa lalu, fenomena alam dan hidup yang bisa dibuktikan dengan kenajuan teknologi saat ini.

ataupun peristiwa dan hal ghaib di masa depan. Penerimaan dan keyakinan inilah yang tidak dimiliki selain muslim. Sehingga sebagai seorang muslim, tak layak kita ikut-ikutan bingung pada permainan filsafat.

Waktu perdebatan membela istilah permaian filsafat teramat berharga, akan jauh lebih terasa jika digunakan untuk sibuk mendalami dan mengamalkan isi al Quran. [MO/ge]


Posting Komentar